Kezsakral

| 09 April 2014 | 03:11



23
Dibaca
0
Komentar
0
Rating

ADITIF KEKUASAAN


Lapangan yang biasanya ia kunjungi pada hari minggu saat mengisi liburan atau berolahraga pagi-pagi, kini dipenuhi oleh lautan manusia yang mengenakan kostum seragam abu-abu. Tampak umbul-umbul juga bendera-bendera terpasang di jalan raya sekitarnya, berkibas-kibas dibelai angin. Tiang listrik, tembok-tembok, batang pepohonan maupun apa saja yang masih kosong, terlihat pula dimanfaatkan sebagai media yang ditempeli stiker-stiker partai, gambar-gambar para calon dan kutipan-kutipan kata bijak, cukuplah memelas hati setiap orang yang membacanya. Kedatangannya kesitu, rupanya terbujuk oleh ajakan seorang temannya, kalau-kalau tujuh hari yang lalu, ia diajak agar hadir pula di acaranya itu. Meski pada saat disana, ia mendapatkan tempat berdiri yang tidak jauh dari jangkauan panggung, namun leluasa melihat dengan jelas siapa saja yang hadir daripada kalangan elit partai itu, yang ia dengar ceritanya. Semakin penasaranlah ia oleh sosok temannya itu, yang ia ketahui sering ngomong tentang afiliasi politiknya setiap kali sama-sama nongkrongnya di warung kopi, ternyata ia adalah panitia pelaksanannya sendiri, yang nanti akan menyampaikan laporannya saat didepan orang selapangan.

Sedang-sedang meriahnya kampanye yang disulap oleh beberapa penyanyi dangdut yang sudah ngetop, tampaklah lapangan sepak bola itu seperti lautan manusia yang berombak-ombak. Persis seperti tanaman padi di tengah persawahan tatkala tertiup angin, daun-daunnya tampak bergoyang-goyang. Ia melihat cukup jelas walau dari kejauhan, beberapa baliho-baliho besar terpasang dipinggir saling bersisi-sisian diantaranya. Ada gambar yang sedang pose dengan menunjuk jari dua, ada yang berdampingan dengan seorang tokoh terkenal, ada yang pose mengenakan jubah putih sedang membagi-bagikan sembako kepada masyarakat, adapula sebuah gambar yang tengah pose bersama seorang tokoh nasional yang amatlah terkenalnya, namun apabila menjangkaunya dari dekat, ia terlihat seperti tokoh-tokohan yang sekedar punya kemiripan wajah dengannya cuma.

Sudah bermacam-macamlah cara yang dilakukan orang untuk meraih simpati masyarakat. Apabila ia masih tergolong wajah baru, tulisan di balihonya terpasang: yang baru pastinya masih segar. Adapula wajah lama yang memasang gambar dirinya yang sedang tersenyum-senyum manis seperti lakon teller- teller cantik di Bank saat melayani nasabahnya, yang terkesan dibuat-buat lantaran memang tidak terbiasa ramah. Ada tulisan kecil-kecil di bawah gambarnya: mohon do’a dan dukungan masyarakat kembali. Ia jelas berharap mendapatkan simpati masyarakat agar terpilih lagi nantinya sebagai wakilnya, yang akan memperjuangkan aspirasinya persis janjinya pada tahun-tahun lalu, atau kembali akan melanjutkan pekerjaan semulanya yang dianggap belum selesai, yang sengaja ia tunda-tunda sebab masih punya ingin melanjutkan ritual tidur-tiduran saat duduk nyaman di kursi empuk dengan ruangan sejuk, meskipun dari luar sering terdengar keras bunyi mobil ambulance yang lewat mengangkut korban-korban kecelakaan atau kelaparan.

Kebanyakan yang tertulis pada baliho-baliho yang ia lihat itu adalah kata-kata permohonan dukungan saja, meskipun adapula kalimat yang berkata: amanah anda sangat berat, tetapi tertulis lebih kecil daripada kata “pilih” dan “mohon dukungan”. Tertulis disana: mohon do’a dan dukungannya untuk menjadi anggota DPR. Amanah anda adalah yang utama. Tertulis disana: suara rakyat, suara tuhan. Tertulis pula disana: pilih yang berhati nurani. Akan tetapi tak satupun ia menemui tulisan-tulisan yang agak berani pada baliho-baliho itu, seperti : jangan pilih saya lagi, karena saya telah menjual amanah anda bersamaan dengan negeri ini kepada pihak asing. Untuk itu saya dengan teramatlah relanya memohon maaf. Atau: bersama kami, kita hapus utang luar negeri.

“Apa mungkin pengalaman periode yang lalu, telah membuatnya menjadi seperti pecandu narkoba yang mengalami sakau, hingga ingin terpilih lagi.” Pekiknya dalam hati. Padahal banyak pihak tengah mengkhawatirkan pada pemilu kali ini, tingkat golput akan mengalami pertambahan hingga 40 % lebih, ketimbang pada Pemilu tahun lalu sekitar 30 % saja. Pepatah mengatakan: hanya orang bodoh yang terperangkap pada lubang yang sama kedua kalinya. Kebanyakan orang tahu tentang pepatah itu. Meskipun masyarakat telah ramai-ramai menentang perbuatannya itu agar tak menyalonkan diri lagi. Ibarat orang melabrak trafict ligt di perempatan jalan, padahal ia tak buta warna. Mungkin mata hatinya yang sudah buta, sehingga tidak perduli kata orang apalagi etika, mungkinpula tidak perlu beragama anggapnya, apabila sakaunya kumat membuatnya selalu tergiur oleh patamorgana surgawi saat duduk di kursi yang mengandung zat aditif, yang sedang banyak ditinggal kosong karena urusan cuti pulang kampung jelang Pemilu.

Ia merasakan kesan kampanye Parpol yang tumben ia ikuti seumur-umurnya, sangat semarak mengalahkan perayaan hari kemerdekaan 17 Agustusan. Terkadang ia seperti ingin tertawa terbahak-bahak, sebab ada saja yang membikin gambar dirinya dengan mengenakan kostum Super Man, Spider Man, Bat Man, atau Iron Man. Padahal kostum yang dikenakan sosok si Buta Dari Goa Hantu berwarna hijau serupa sisik-sisik itu jauh lebih artistic, atau kostum yang dipakai pak kusir jauh lebih merakyat, tentunya tidak akan membuat malu dirinya apabila mau bertanya langsung pendapat mereka, namun tanpa harus menyamar-nyamar seperti yang marak dilakukan orang. Sebenarnya bukan saja macam-macamnya cara pendekatan itulah yang membuat hatinya menjadi ganjil, namun oleh bermunculannya lambang-lambang baru Parpol, bagai terjadi inkarnasi, berganti rupa namun tetap dengan nyawa yang sama. Ada Parpol berlambang Banteng bermata hijau, berlambang burung Garuda tak lagi hadap kanan, Singa menguap, Gajah duduk, Sapi bergincu, adapula yang berlambang Panda mungil sedang ditetek. Ia menyaksikan betapa perubahan lambang-lambang partai itu terjadi serempak pada tahun pemilu kali ini. Ibarat jamur di musim penghujan. Seakan-akan tahun lalu memberinya ilham agar beralih lambang dari berupa tanaman-tanaman pangan menjadi jenis binatang-binatangan. Mungkin dengan begitu, harapannya dapat dipercaya lagi akan mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik terhadap tanah air ini, yang sudah lama dibikinnya sendiri jadi kian terkenal menderita.

Apabila seseorang tua renta tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang, iapun tersentak. Cukup membikin buyar ngalur ngidulnya pikirannya, yang terseret kala menyelam kedalam lapangan dari tadi. Lantas menoleh ke belakang, agak bingung-bingung pula hatinya: siapa gerangan orang ini? Sekilas ia terlihat mengenakan peci lusuh berwarna kecokelatan sudah memudar. Tak sempat ia berkenalan, orang tua yang berwajah lelah itu langsung mendekatkan mukanya disisi telinga kanannya. Ia seperti ingin berkata sesuatu. Nyaris suaranya yang serak-serak bergetaran itu terdengar seperti berbisik-bisik.

“Nak….yang banyak saya saksikan adalah betapa orang-orang yang berilmu selalu lebih banyak diam, bukan lebih banyak mendiamkan. Selalu lebih banyak mendengarkan, bukan lebih banyak memperdengarkan. Daripada lebih banyak peduli dengan mulut, tapi selalu lebih banyak ramah dengan telinga. Sebab benarlah bunyi pepatah: padi merunduk tanda berisi, tong kosong selalu nyaring bunyinya, air beriak pertanda tak dalam.”

Waktu serasa terhenti saat jeda sejenak mengambil nafas. Pikirannya dibikin mengawang bersama tumpukan orang-orang selapangan yang tadinya bergerak-gerak, terlihat seperti mematung. Hanya suara orang tua itu larut berbaur bersama riuhnya sorak-sorai yang memekak telinga, ia membisikinya pula agar suaranya dikeraskan lebih sedikit lagi.

“Orang-orang yang berilmu itu memiliki ketenangan yang stabil, tidak mudah dikibulin, apalagi membodohi orang lain. Sebab itulah meskipun ia tanpa meminta berwibawa, orang lain akan segan dengan sendirinya, kerjaannya bukan cuma sibuk meminta-minta untuk dihargai. Bayangkan apabila kriteria itu dimiliki oleh para calon pemimpin kita, para calon wakil kita, mungkin tidak akan diketemukan orang-orang yang hanya banyak bicara menjelang Pemilu tapi bungkam mulutnya kala sidang soal rakyat. Menyalonkan diri lagi oleh sebab mengalami sakau karena ingin merasakan nikmatnya kembali segala fasilitas ketika menjadi wakil rakyat, bukan oleh misi perjuangan yang murni.”

“Keadaan rakyat kita masih terlampau banyak yang bodoh, mereka seperti telah diperangkapi paksa ke dalam dunia dongeng, yang sekarang ini semuanya seolah-olah saja tampil mencerdaskan, padahal sebenarnya meninabobokkan mereka kala menjelang tidur panjang, agar melanjutkan kembali mimpi-mimpi indahnya, yang membuat dirinya cuma dapat ngiler.”

“Nak… tugas perjuangan kita setelah proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 silam adalah memerdekakan bangsa ini dari penjajah yang juga dari kalangan bangsa sendiri, bukannya ikut tampil menjadi Belanda baru dengan wajah yang dipoles seolah baik.”

Ia tersipu sekaligus terpukul dengan bisikan seorang tua tadi meski tak utuh ia hafal kalimatnya, namun ia cukup mengerti inti-intinya yang nyungsep menghujam di jantungnya. Jadi terpikirlah olehnya didalam benaknya, betapa yang ia persaksikan semenjak awal kedatangannya ketempat itu, membuat dirinya menjadi malu sendiri. Ia seperti kehabisan kata-kata olehnya, terdiam, menunduk agak layu. Sedangkan seorang tua tadi itu tahu-tahunya sudah menghilang entah pergi kemana, tak sempat pula ia bertanya siapa namanya, dan dimana tempat tinggalnya. Ia menghilang bagai ditelan bumi. (*)

Tags: serbaserbipemilu

Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..

Kotak Suara 2014 berisi berita dan opini warga seputar hiruk-pikuk Pemilu 2014 dengan tag "pileg2014", "pilpres2014",atau "serbaserbipemilu"

Tulis Tanggapan Anda
Guest User