Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mahmud Budi Setiawan

Pemburu Makna dalam Perjalanan Sunyi Menuju Cahaya.

“Rokok Membunuhmu……….?”

REP | 08 January 2014 | 21:12 Dibaca: 216   Komentar: 0   1

Seusai mencangkul di sawah, Sarikhuluk dan para “pekerja sawah bayaran” lainnya duduk-duduk di gubuk kecil tempat para petani biasa beristirahat. Mereka sedang asyik menikmati makanan istirahat mereka. Meskipun sangat sederhana-hanya nasi jagung dan ikan asin plus sambal- rasanya begitu nikmat dan mencairkan suasana. Mereka terlihat riang bahagia. Ternyata keriangan dan kegembiraan tak selalu diperoleh dari hal-hal yang mahal. Seusai makan-makan, ada teman Sarikhuluk yang bernama Margono mengeluhkan iklan rokok yang baru-baru ini diganti. Margono sambat(di sela-sela menikmati rokok kretek): “Cak, kalau dulu iklan rokok cuman, ‘Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin’, tapi sekarang lebih sangar dan begitu to the point : ‘Rokok Membunuhmu’. Tambah-tambah aneh saja Cak. Secara hukum jelas-jelas masih debatable dan peringatan yang lama juga masih agak lucu, tambah sekarang dikeluarkan peringatan, yang menurutku cukup pekok seperti tadi. Hus….makin tak mudeng aja aku iki Cak…Cak”.

“Iya Cak….Bener aku ga ngrokok…..tapi mendengar kalimat peringatan seperti tadi menurutku berlebihan. Kalimat, ‘Rokok Membunuhmu’ itu kan kalimat langsung. Kalau itu benar-benar dipercaya, seolah-olah rokok menjadi ‘Pesaing Pengeran(Tuhan)’. Kalau rokok bisa membunuh, apalagi pembuat rokok, malah tambah lebih sakti.  Lha piye wong rokok kok membunuh. Masih mending peringatan sebelumnya yang masih menggunakan kata, ‘menyebabkan’ lha yang ini langsung saja tanpa penjelas. Rokok itu cuma sebab atau faktor, faktor dan sebab tak ada hubungannya dengan ‘membunuh’ lha yang bikin rokok saja ndak mempunyai kemampuan secanggih itu kok yang dibuat malah secanggih itu. Ora mudeng aku” tambah Satuman memperjelas. “Rek…. rada cerdas dikik gitu lho. Maksude kalimat itu secara subtansi sebenarnya bukan mengatakan rokok punya kemampuan membunuh. Maksude dengan mengonsumsi rokok secara berlebihan, maka akibatnya bisa fatal. Akibat paling fatal ialah ketika sampai membuat orang mati. Ibarat Ilmu Tafsir nih yah, peringatan sebelumnya itu sebagai penjelas dari kalimat yang baru. Jadi menurutku sudah betul, dan sangat jelas supaya orang-orang takut sama rokok” sahut Wargimen dengan nada tak setuju.

Kemudian giliran Sarikhuluk berkomentar: “Konco-konco ….. sebelum aku berkomentar terhadap isu terbaru perihal rokok mari kita jernihkan hati dan pikiran terlebih dahulu, supaya ketika memperbincangkan rokok, kita terhindar dari klaim-klaim keputusan yang irasional dan tak obyektif. Sekarang gini, kalau kita berbicara masalah rokok, kita tidak bisa memisah-misahkan satuan-satuan yang berkaitan erat dengan rokok. Rokok hanyalah produk. Di sana masih ada: Pengusaha Rokok, Pabrik Rokok, Pekerja/Karyawan Pabrik Rokok – yang kesemuanya bisa dimasukkan dalam kategori produsen-, kemudian ada yang namanya Penjual Rokok dan Konsumen Rokok. Jadi menurutku, kalau membicarakan rokok hanya berkutat pada rokoknya saja, maka sangat rawan menghasilkan kesimpulan yang prematur. Kalau kesimpulannya tidak begitu matang, yang ada nanti akan menimbulkan persoalan-persoalan baru yang akhirnya menyulitkan pembuat kesimpulan”.

Sarikhuluk melanjutkan, “Aku ga akan jawab secara instan, tapi aku ingin memancing kalian dengan pertanyaan-pertanyaan yang subtansial: Kalau memang rokok itu bahaya, kenapa masih dijual? Bukankah negara juga menikmati hasil dari pajak perusahaan rokok? Bukankan yang membahayakan bukan hanya rokok saja, kenapa hanya rokok yang mendapat label peringatan seperti itu? Kalian tahu mengapa terjadi perubahan secara drastis berkaitan dengan kalimat peringatan yang ada di rokok? Solusi apa yang akan kamu berikan, pada Pekerja Rokok dan Petani Tembakau, jika rokok memang harus ditiadakan? Bukankah banyak sekali realita yang samasekali menyalahi hasil dari peringatan yang ada dirokok? Adakah kemungkinan bahwa pelarangan rokok itu dikarenakan adanya persaingan antara perusahaan farmasi dan perusahaan tembakau? Tolong dipelajari lebih dalam lagi berbagaimacam hal yang berkaitan dengan rokok. Kemudian apa sudah diadakan penelitian secara ilmiah dan transparan mengenai dampak secara nyata berkaitan dengan dampak negatif rokok? Kalau kamu percaya sama media, aku tanya lagi, lha media itu punya siapa? Media adalah milik pemenang. Siapa yang menang dialah yang memiliki media. Nah, sekarang yang punya media, lebih cendrung pada pelarangan rokok apa sebaliknya? Atau ternyata larangan itu cuman basa-basi? Jadi menurutku untuk menjawab persoalan rokok tidak cukup hanya didekati dengan pendekatan hukum-normatif, tapi juga perlu pendekatan lain yang sangat berkaitan dengan rokok. Menghukumi persoalan lebih gampang daripada mencari solusi dari persoalan. Makanya menurut hemat ku, tetap saja beraktivitas seperti biasa. Yang ngerokok ya ngroko`o, yang ndak ya ndak apa-apa. Cuman harus tahu diri. Kalau dengan rokok membuat kamu lemah dan sakit ya lereno(berhentilah) kalau ternyata sehat-sehat saja ya terus saja ndak apa-apa. Kalian tahu kan Pakde Sarijan yang sampai berusia 90 tahun, Perokok Sejati, masih sehat-sehat saja dan tak ada halangan kesehatan”. Bahkan ulama kawakan macam Buya Hamka pun juga Perokok.

Doh adoh….. Poseng tang cetak (Aduh-aduh pusing kepala saya) di rumah sudah banyak masalah, eh ditambah iklan yang ga memberi pencerahan. Wes lah ga usah diteruskan Cak. Paling-paling yang membuat aturan juga terpingkal-pingkal sendiri, gimana ga terpingkal takiye wong Rokok kok membunuh. Kalau rokok itu membunuh, pasti orang yang menghisap langsung mati seketika. Lha kalau begitu mati kabbih (semua) berjuta-juta orang di bumi yang merokok. Buktinya ndak tuh” sergah Matrawi, Pekerja Tani Bayaran asal Madura. “Iya Cak, masalah ini tidak akan ada ujung pangkalnya. Dari dulu sampai sekarang, meski diberi peringatan sedemikian rupa efeknya juga ga begitu signifikan. Sekarang lebih bahaya mana coba antara rokok dengan polusi udara yang diakibatkan oleh asap-asap dari knalpot. Kenapa knalpot tidak diberi tulisan: Knalpot dapat menyebabkan penyakit Paru-paru….. dan seterusnya/ Knalpot Membunuhmu. Hadehhhh……Masalah bangsa semakin kompleks, malah diperkeruh dengan masalah yang ndak ada ujung pangkalnya” tambah Sutaji. “Wes sekarang gini aja, kita lanjut aja nyangkulnya, masalah rokok ga usah dimasukin hati dan pikiran kalian….lagian itu juga bukan wewenang kita. Yang berwenangpun apa punya ketegasan? Yang tegaspun apa mau mengeluarkan ketegasannya? Terlalu banyak intrik dan konspirasi dalam hidup ini. Kita jangan sampai kalah dengan masalah rokok. Justru masalah rokok kita kelolah sedemikian rupa hingga menimbulkan output yang tidak mencederai masing-masing pihak. Caranya bagaimana? Sekali lagi itu bukan wewenang kita. Kita hanyalah obyek bukan subyek perubahan. Yang penting sedapat mungkin kita berusaha bermanfaat, minimal tidak membuak kerusakan. Ayo…Ayo kita nyangkul lagi” ajak Sarikhuluk.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: