Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Doa Berbayar

OPINI | 03 January 2014 | 10:34 Dibaca: 76   Komentar: 10   0

Doa, tentu kita sering melakukannya. Bagi orang yang beragama lagi taat menjalankan perintah Tuhannya pasti akan melakukannya setiap hari bahkan disaat apapun baik itu ketika sedang gembira ataupun sedih. Tak dipungkiri doa merupakan kebutuhan setiap orang.

Doa merupakan bentuk pengakuan kita kepada sang pencipta. Bahwa kita itu amatlah lemah dan tidak punya daya upaya, untuk itu kita memohon kepadaNYA untuk diberikan kekuatan dan perlindungan dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini.

Doa juga merupakan wujud bakti kita kepada orang tua baik ketika orang tua kita masih hidup ataupun telah meninggal. Dalam tradisi islam tradisional, tahlillan merupakan wujud dari bakti seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal dengan cara mendoakan dengan dipimpin oleh seorang Kiai atau Ustad yang diamini oleh orang banyak dan diakhiri dengan sedekah berupa hidangan santap siang atau malam.

Doa bisa kita lakukan sendiri atau minta di doakan oleh orang lain. Banyak alasan kenapa kita meminta di doakan kepada orang lain. Salah satunya karena orang itu mempunyai hati yang lebih bersih dan lebih dekat dan sering beribadah kepada Tuhannya seperti orang alim, kiai dan ustad. Orang orang seperti inilah kita minta di doakan karena doanya sering dikabulkan oleh Tuhan. Permintaan dari orang orang dekat itu lebih sering dikabulkan dari pada permintaan dari orang orang yang jauh.

Kita juga sering menitip doa ketika seorang teman melaksanakan ibadah omrah dan haji. Meminta kepada teman yang berangkat omrah atau Haji ketika berada di depan Kaabah nama kita dipanggil panggil atau di doakan agar bisa mengikuti jejaknya berangkat ke tanah suci Mekkah. Di dalam Islam memang ada beberapa tempat yang mustajab atau doa kita akan dikabulkan kalau kita berdoa ditempat tersebut seperti Baitullah di Mekkah dan Raudah di dalam mesjid Nabawi, Madinah. Di dua tempat itu dikenal dengan kemustajabannya.

Minta di doakan atau titip doa sering kita lakukan tanpa mengeluarkan biaya. Memang ada yang pakai biaya? Ya adalah. Mungkin istilahnya bukan biaya tapi sedekah. Kebetulan rumah aku tidak jauh dari mesjid, setiap hari Jum’at pasti dilaksanakan ibadah sholat Jum’at berjamaah. Sebelum pelaksanaan sholat Jum’at, pengelola mesjid melaporkan keadaan keuangan atau kas mesjid baik itu berupa pemasukan maupun pengeluaran. Pemasukan biasanya berasal dari sumbangan pemerintah, perusahaan swasta dan masyarakat. Sumbangan dari masyarakat ini biasanya disertai permintaan doa untuk orang tua dan handai tolannya yang telah meninggal. Apakah ini termasuk salah satu permintaan doa yang berbayar seperti yang sedang diributkan oleh beberapa media sosial akhir akhir ini? Tak taulah aku.

Beberapa hari belakangan ini dunia pemberitaan kita baik itu cetak maupun digital sedang ramai dengan pemberitaan doa berbayar itu. Dengan mengeluarkan sejumlah uang kita bisa meminta di doa kan apa saja baik itu keselamatan, rejeki maupun jodoh. Yang mana hasil dari uang yang kita bayar untuk doa itu digunakan untuk fakir miskin dan orang orang dhuafa. Banyak yang tidak setuju bahkan menuduh mengkomersilkan agama.

Dalam kehidupan sehari hari kita juga sering menemukan hal yang demikian. Ketika seorang pengemis datang kepada kita untuk meminta sedekah kemudian kita beri sedekah maka pengemis itu mendoakan kita. Tapi sebaliknya, ketika kita tidak memberi, pengemis itu juga tidak mendoakan kita. Istilahnya ada sedekah ada doa. Kita juga sering sowan atau berkunjung ke rumah seorang kiai, ulama atau ustad untuk konsultasi baik itu urusan dunia maupun akhirat. Atau sekedar miminta di doakan, minta air doa untuk kesembuhan dan sebagainya. Dan ketika kita pamitan, kita bersalaman dan didalam tangan kita telah terselip anplop yang berisi uang kepada sang kiai atau ustad. Tentu saja seikhlas dan semampu kita.

Mungkin idenya dari realita yang ada di masyarakat, sehingga ada sekelompok anak anak muda yang peduli pada masyarakat miskin dan kaum dhuafa melakukan gerakan dan menggalang dana dari masyarakat dengan sedekah seribu sehari dengan imbalan berupa doa. Mungkin maksudnya baik tapi caranya yang dinilai kurang benar. Ingin di doakan? Bayar dulu berupa sedekah, mungkin begitu maksudnya.

Gambar: jalanakhirat.wordpress.com

1388719692903810639

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Batik 3005 Meter Karya Masyarakat Yogyakarta …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 12:27

Antara Yangon, Iraq, ISIS dan si Doel …

Rahmat Hadi | | 02 October 2014 | 14:09

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 4 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 10 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kios Borobudur Terbakar, Pencuri Ambil …

Maulana Ahmad Nuren... | 7 jam lalu

Kemacetan di Kota Batam …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

“Amarah Nar Membumihanguskan …

Usman Kusmana | 7 jam lalu

Pembunuh (4) …

S-widjaja | 7 jam lalu

Penghujat SBY, Ayo Tanggung Jawab…!! …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: