Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Gatot Swandito

Yang kutahu, aku tidak tahu apa-apa

Meski Bersolek Milyaran, Ratu Atut Terlihat Telanjang

OPINI | 15 November 2013 | 17:04 Dibaca: 1876   Komentar: 59   20

“Selamat datang di Propinsi Banten”, begitu bunyi papan reklame berukuran besar yang di pasang di Bandara Soekaro Hatta. Papan reklame yang warna dasarnya hitam itu hanya memuat sekalimat pesan dan foto perempuan cantik berjilbab yang dikenali sebagai Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dengan senyum tipis menawannya. Tidak ada foto ikon pariwisata, foto kuliner khas, atau kekhasan Banten lainnya yang membuat orang yang melihatnya tertarik untuk bertamasya menjelajahi Banten. Pertanyaan menggelitik pun muncul, apakah sang gubernur sudah menjadi ikon untuk propinsi yang pimpinnya.

Sekarang, setelah penangkapan tangan Hakim Mahkahma Kosntitusi Akir Muhtar, serba-serbi kehidupan sang Ratu pun terkupas. Media mengulasnya, masyarakat membincangkannya. Setiap hari sang Ratu Banten ditelanjangi, mulai dari aktivitas dinasti politik bernepotisme sampai koleksi busana mewahnya. Ratu Atut dilukiskan sebagai ratu dengan gelimangan bergelimang kemewahan di atas menara gading yang di kelilingi rumah-rumah reyot rakyat Banten berpenyakit kusta menjijikan.

Ratu Atut yang dulu memesona kini menjadi cibiran. Busana-busana mewah yang dibelinya di berbagai negara seolah dilucuti satu persatu dari tubuhnya. Gelontoran Dollar yang dikeluarkan lewat credit card-nya tanpa ampun dibeberkan. Gemebyar busana Alta Moda seharga Rp 50 juta, Detak jarum jam Sincere seharga Rp 290 juta, Semprotan wangi Bvlgari Rp 40 jutaan, sampai tas Hermes senilai Rp 430 juta yang dijinjingnya seakan tidak lagi menghiasi tubuh berkulit putih pucatnya. Bahkan, seorang pakar mode dan gaya hidup Sonny Muchlison “menguliti” kulit wajahnya dengan mencurigai Atut telah mengoperasi wajah cantiknya berulang-ulang.

Tidak hanya itu, hobi pesiar Atut pun ramai diberitakan. Belakangan terungkap Sang Gubernur dengan menggunakan APBD membiayai plesirannya ke Mesir. Di negeri para Firaun itu Atut mengajak serta bawahnya melintasi sungai Nil dengan yacht mewah. Di atas yacht mewah itu para pejabat Banten disuguhi makanan kelas atas sambil menikmati pemandangan. Di atas sungai itu para petinggi Banten melupakan penderitaan rakyatnya yang harus bergelantungan menyabung nyawa pada jembatan reyot layaknya Indiana Jones.

Kini tidak ada lagi yang tersisa dari “busana” kemewahan Atut dan keluarganya. Semua sudah dilucuti. Masyarakat tidak lagi terpesona oleh wajah cantiknya, tidak lagi berdecak oleh gemebyar busana yang dikenakannya, tidak lagi membelalakan mata oleh gemerincingnya perhiasan yang melengkapi dandananya. Masyarakat kini melihat Atut dalam ketelanjangan. Di mata masyarkat sang Ratu kini miskin, bahkan lebih miskin dari rakyatnya yang kelaparan dihimpit kemiskinan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 4 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: