Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ujang Sugara

Data Pribadi Nama : Ujang Sugara Tempat, Tanggal Lahir : Sukaraja, 1 Maret 1991 Jenis Kelamin : Laki – Laki Agama : Islam Alamat : Jl. Prof. Zainal Abidin selengkapnya

Guritan, Nenandai dan Petiti, Seni Tutur Besemah yang Nyaris Punah

OPINI | 10 November 2013 | 22:20 Dibaca: 313   Komentar: 0   0

Guritan, Nenandai dan Petiti, Seni Tutur Besemah yang Nyaris Punah

Perkembangan dunia komunikasi, informasi dan hiburan membuat sastra tutur sebagai warisan budaya nenek moyang semakin terdesak. Jika tetap dibiarkan tanpa upaya pelestarian yang berarti, media pewarisan nilai dan tradisi masyarakat-masyarakat adat itu terancam punah.

Hal itu juga dialami seni tutur suku Besemah di kawasan Kota Pagar Alam. Kabupaten Lahat, dan Kabupaten Empat Lawang di Sumatera Selatan. Besemah juga disebut Pasemah, istilah warisan Belanda terhadap suku Besemah.

Ketua Lembaga Adat Besemah Haji Akhmad Amran di Pagar Alam, yang ditemui tim Jelajah Musi 2010 pada pertengahan Februari 2010, mengungkapkan bahwa dari 8 jenis seni tutur Besemah semua nyaris ditinggalkan, bahkan sebagian kini tidak dikenal lagi oleh warganya.

Seni tutur  yang saat ini sedang gencar diperkenalkan kembali adalah guritan atau geguritan. Isi dari guritan biasanya menggambarkan tentang sejarah perjuangan, sanjungan kepada pahlawan, legenda, kisah hidup seseorang, atau cerita rakyat yang diguritkan atau dibawakan dalam bentuk nyanyian. Karena dinyanyikan, cerita-cerita itu menjadi enak didengar.

Guritan merupakan sastra tutur suku Besemah yang dimainkan tanpa alat musik. Seniman Guritan malantunkan cerita lewat tuturan. Guritan biasanya digelar pada acara perkawinan, kematian (dalam rangka menghibur ahli musibah) dan acara adat lainya.

Beberapa guritan yang sering dilantunkan antara lain adalah guritan Ringgan Sedayu Abung Tinggi dan guritan Remas Panji Maredemak, guritan Radin Suane Tanjung Larang, guritan Bintang Kisiran, dan lain-lain.

Selain guritan, seni tutur Besemah lain yang nyaris hilang adalah nenandai atau andai andai. Nenandai adalah sastra lama yang berbentuk prosa bebas. Nenandai merupakan jenis dongeng yang mengandung kisah kehidupan hewan sebagai tokoh tokoh sentral dalam plot plot ceritanya. Nenandai digolongkan cerita tutur berjenis fable atau dongeng binatang.

Nenandai yang biasanya diceritakan antara lain adalah nenadai Jambu Mbak Kulak, nenandai Burung Siau, nenadai Cupak Sauk Canting, nenadai Asal Mule Kucing Bemusuh nga Setue, dan banyak lagi yang lainnya.

Dewasa ini, budaya nenandai tampaknya telah mulai luntur dan kendur. Tidak hanya di rumah-rumah sebagai pengantar tidur, budaya nenadai pun agaknya menjadi budaya yang langka di sekolah-sekolah khusunya Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Nenandai sudah ditinggalkan oleh masyarakat suku Besemah, salah satu penyebabnya adalah karena semakin canggihnya tekhnologi, seperti banyaknya dongeng tentang binatang yang dikemas dalam sebuah film yang membuat para orang tua tidak lagi mengenalkan nenandai kepada anak-anaknya. Para orang tua menganggap hal ini lebih menarik dan praktis.

Padahal, nenandai sebagai salah satu bentuk dongeng khas suku Besemah yang harus tetap dibudayakan. Menurut Soetopo melalui cerita, tidak hanya informasi kognitif yang dapat diterima anak, mereka pun memperoleh informasi afektif yang dapat mengukir tingkah laku dan akhlak mereka. Nilai-nilai ini sangat sulit ditularkan melalui komunikasi dengan bahasa yang menggurui. Akan tetapi, bermediakan cerita rakyat, nilai-nilai ini tidak akan terasa menggurui, bahkan lambat laun dapat meresap dan mengurat nadi di dalam jiwa pendengarnya. Buktinya, para orang tua dan para pendahulu kita senantiasa membudayakan bercerita sebagai media memberikan nasihat dan memasukkan berbagai nilai kehidupan pada masa dahulu, di samping menjadikannya sebagai media hiburan.

Seni tutur yang nyaris punah berikutnya adalah petiti yang merupakan untaian kata-kata yang mengandung petunjuk yang harus diikuti, semboyan atau motto hidup dan larangan yang harus ditaati. Contohnya, petiti yang berbentuk anjuran yaitu “ Dek pacak ngiluk’i jangan merusak jadila”, petiti tersebut mengandung makna bahwa dalam kehidupan ini, jika kita tidak bisa membuat suatu yang bermanfaat maka dengan tidak membuat sesuatu yang merugikan orang lain sudah cukup. Selain itu ada juga petiti yang berbentuk anjuran lainnya, seperti “ Ndak lemak li bemule antakkah lemak nanggung kudai”, petiti ini mengandung makna yang sama dengan pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ini mengajarkan kepada kita bahwa sebuah kesuksesan itu membutuhkan perjuangan untuk menggapainya.

Jadi, sebenarnya faktor yang menyebabkan seni tutur nyaris punah adalah  selain minat generasi muda yang berkurang akibat arus modernisasi, juga karena guru-guru di sekolah yang sudah jarang memperkenalkan seni tutur khususnya guritan, nenandai dan petiti di sekolah.

Seharusnya seni tutur ini bisa diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Ketidakharmonisan antara pembelajaran bahasa dengan pembelajaran sastra, antara lain, disebabkan bahwa guru lebih mengejar target agar siswa dapat menjawab soal-soal ujian Bahasa Indonesia yang umumnya lebih banyak berkisar pada unsur bahasa daripada sastra. Pembelajaran sastra cenderung tidak dianggap sebagai pemerkaya pembelajaran bahasa. Padahal, karya-karya itu telah hidup di masyarakat Sumsel sejak ratusan tahun silam. Jika kekayaan tradisi itu benar-benar punah, masyarakat Sumsel akan kehilangan akar budaya yang membentuk karakternya. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra tutur dapat digunakan untuk menularkan kearifan lokal kepada generasi muda.

Untuk membudayakan guritan, nenandai dan petiti, kita harus melibatkan berbagai unsur masyarakat, yakni pemerintah, pecinta seni dan budaya, guru, dan masyarakat Sumatera Selatan.  Seni tutur itu diperkenalkan kepada generasi muda seperti anak-anak sekolah dalam bentuk pelajaran tambahan dan pembentukan sanggar-sanggar seni. Dengan demikian, secara perlahan, guritan, nenandai dan petiti akan dikenal kembali dan langkah itu setidaknya dapat menyelamatkan beberapa jenis seni tutur Besemah.

[1] Laporan Jurnalistik Kompas, Jelajah Musi Eksotika Sungai di Ujung Senja, (PT Kompas Media Nusantara, Jakarta : 2010), Hal. 63-64

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: