Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Septian Nugroho

Penuntut Ilmu, alumni SMAN 8 Jakarta, S1-Ilmu Hukum FHUI, dan sedang berjuang menyelesaikan studi di selengkapnya

Panggil Saya dengan Gelar Haji

OPINI | 22 October 2013 | 08:42 Dibaca: 194   Komentar: 0   0

Menunaikan haji merupakan salah satu diantara lima rukun Islam. Menurut bahasa, kata haji adalah al-Qasdhu, artinya menuju sesuatu. Makna haji adalah beribadah kepada Allah dengan melaksanakan thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, dan seluruh manasik haji di Mekkah, dengan syarat dan waktu tertentu, sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahih.

Rangkaian manasik haji diawali dengan berihram dan mabit (menginap) di Mina pada hari Tarwiyyah, tanggal 8 Dzulhijjah. Setelah matahari terbit di tanggal 9 Dzulhijjah, para jamaah haji bertolak dari Mina menuju padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Wukuf merupakan rukun terpenting dalam berhaji, dan jamaah dianjurkan untuk memperbanyak talbiyah, tahlil, dan berdo’a dengan penuh kekhusyu’an. Setelah matahari terbenam, para jamaah bertolak meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah untuk bermalam di sana. Setelah mengerjakan shalat Shubuh dan langit mulai terang di tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah kembali bertolak menuju Mina untuk melontar Jumratul ‘Aqabah, menyembelih hewan (hadyu), mencukur gundul kepala bagi laki-laki/memendekkan rambut bagi wanita, kemudian kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf Ifadah dan Sa’i haji.

Setelah Sa’i haji jamaah kembali ke Mina dan bermalam di sana. Keesokan harinya, jamaah melontar Jumrah yang tiga secara berurutan, yaitu Jumrah Sughra, Jumrah Wustha, dan Jumratul ‘Aqabah.  Rangkaian manasik haji berakhir dengan selesainya lontaran Jumratul ‘Aqabah pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selanjutnya, sebelum kembali ke tanah air, para jamaah diwajibkan melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan), yang pelaksanaannya cukup dengan pakaian biasa dalam keadaan berwudhu, mengitari Ka’bah sebanyak tujuh putaran, diikuti dengan pelaksanaan shalat sunnah ba’da thawaf dua rakaat di belakang maqam Ibrahim.

Islam tak hanya di KTP, Butuh Ilmu dan Fisik Mumpuni

Kuota jamaah haji Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia. Selain karena memang menjadi Negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, kesadaraan ummat muslim Indonesia semakin tinggi seiring dengan laju ekonomi yang meningkatkan daya beli masyarakat. Tidak heran jika daftar tunggu keberangkatan mencapai belasan tahun.

Namun diantara jamaah haji asal Indonesia, tidak sedikit yang berangkat tanpa persiapan matang. Hanya mengikuti manasik beberapa hari sebelum pemberangkatan, tidak aktif menggali ilmu dan hanya bergantung pada apa yang disampaikan pembimbing dari biro perjalanan, serta tidak menguasai bahasa Arab. Bahkan ada juga jamaah yang masih buta aksara Arab, tidak bisa membaca al-Qur’an ataupun do’a-do’a yang ditulis dalam bahasa Arab. Akibatnya hanya bisa mem”beo”, mengikuti teriakan pembimbing. Itu pun jika tidak salah dengar atau salah melafadzkan sehingga makna ucapannya pun menjadi salah.

Hal itu terjadi mungkin karena masih ada muslim asal Indonesia yang keislamannya sebatas Islam di KTP. Mengaku dirinya Islam tapi tidak shalat, tidak zakat, dan tidak berpuasa. Mengaku Islam tapi masih percaya dengan perdukunan, memakai jimat dan benda yang dianggap keramat, menghafal mantra atau ajian tertentu, datang ke kuburan yang dianggap keramat untuk meminta kepada kuburan tersebut, atau melakukan perkara lain yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Miris memang, tapi kita harus optimis untuk ikut berjuang memperbaikinya.

Selain ilmu, ibadah haji juga memerlukan persiapan fisik. Oleh karenanya, sudah seharusnya ibadah haji ditunaikan sejak kita berusia muda. Jika sudah mampu, segeralah berangkat. Tidak harus menunggu tua. Mungkin sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa waktu muda harus digunakan dengan efektif dan produktif untuk mencari dunia. Nanti kalau sudah tua dan pensiun, punya banyak waktu untuk siap-siap mencari bekal akhirat. Gejala ini bukan hanya dapat kita saksikan dari banyaknya jamaah haji yang telah berusia lanjut, melainkan dari sepinya jamaah masjid di sekitar perumahan kita. Ketika adzan dikumandangkan, maka kita bisa menyaksikan bahwa masjid-masjid mayoritas diisi oleh orang-orang tua.

Ingin Selalu di Panggil Pak Haji dan Bu Hajjah

Haji merupakan salah satu bentuk ibadah. Oleh karenanya, para jamaah haji harus memperhatikan dua syarat diterimanya ibadah secara umum. Syarat pertama, adalah ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji, sombong, atau alasan lain yang bersifat keduniaan. Jangan berhaji hanya karena ingin dipanggil Pak Haji dan Bu Hajjah. Jangan berhaji hanya karena ingin menambahkan gelar “H” didepan nama Anda. Kebiasaan ini hanya ada di Indonesia dan Malaysia. Orang Saudi sendiri tidak pernah memampang gelar Haji di depan nama mereka. Orang Saudi juga tidak memanggil Haji pada kerabat atau kolega mereka yang mereka kenal. Panggilan “Hajj” hanya mereka gunakan untuk jamaah, baik haji maupun umrah, yang datang untuk beribadah di tanah suci.

Sebagian orang Indonesia, selalu ingin dipanggil Pak Haji atau Ibu Hajjah selepas kembali dari tanah suci. Mungkin karena ketika di Saudi, mereka selalu dipanggil “Hajj”. Padahal tidak hanya jamaah haji, jamaah umrah pun dipanggil “Hajj” oleh askar dan penduduk lokal di sana karena mereka tidak mengenal satu per satu nama kita.

Syarat kedua adalah ittiba’, yaitu mengikuti contoh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hendaklah kita mempelajari ilmu sebelum beribadah sehingga mengetahui dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang mendasarinya.

Buah Tangan dan Mendadak Bisa Bahasa Arab?

Sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia untuk membelikan oleh-oleh selepas perjalanan dari suatu tempat. Namun oleh-oleh yang diharapkan keluarga jamaah haji bukanlah berupa barang, seperti kurma, air zam-zam, abaya, atau semacamnya. Oleh-oleh yang jauh lebih penting adalah peningkatan ketaqwaan kepada Allah yang dapat dilihat dari peningkatan kualitas dan kuantitias ibadah, peningkatan akhlak dan sikap, serta peningkatan kemanfaatan hidupnya bagi masyarakat sekitar. Setibanya di tanah air, jamaah haji diharapkan mampu menjadi teladan yang menebarkan kebaikan sekaligus penggerak perubahan.

Satu hal lagi yang menarik, biasanya selepas kembali dari tanah suci, jamaah haji Indonesia mendadak bisa kosakata bahasa Arab. Yang rajin ke pasar atau belanja fasih dengan “khomsah riyaal”, “asyrun riyaal”, dan seterusnya. Sedangkan yang rajin berdesakan di sekitar Ka’bah dan Raudhah sudah bosan dengan “Hajj, thoriiq”.

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam Kompasioner.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi ala Kaki Lima …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Gagal Paham (Pejabat) Kemendikbud dalam PR …

Antowi | 12 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ka eM Pe …

Pak De Sakimun | 7 jam lalu

Hubungan Asmaraku dengan Ibu Kost (Bagian 6) …

Ervipi | 7 jam lalu

Life Begins at Forty …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Sore yang Cantik di Pelabuhan Kuno Gresik …

Mawan Sidarta | 7 jam lalu

Tak Ada Tulang Rusuk yang Tertukar …

Siti Nur Rohmah | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: