Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lian Gayo

Mantan wartawan, Staf Humas Kemdikbud, Ibu Negara.

Lulus CPNS dengan Murni, Sakit Hati Dituduh “Titipan”

OPINI | 04 October 2013 | 09:22 Dibaca: 874   Komentar: 3   3

Bulan September 2013 ini marak pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Setelah moratorium kurang lebih tiga tahun, sekarang kementerian dan lembaga negara non-kementerian diperbolehkan kembali melakukan rekrutmen besar-besaran untuk menyeleksi SDM baru. Mereka pun memasang iklan di media massa. Tanpa iklan pun sebenarnya lowongan CPNS di setiap kementerian dan lembaga sudah banyak peminatnya. Namun ada satu yang menarik perhatian, beberapa kementerian/lembaga membuat pengumuman berupa running text di televisi maupun di pengumuman rekrutmen CPNSnya yang berisi imbauan supaya pelamar tidak percaya kepada calo atau pihak-pihak tertentu yang menjanjikan kelulusan. Beberapa juga mengingatkan bahwa setiap tahap dalam proses rekrutmen CPNS tidak dipungut biaya.

Saya rasa hal itu memang penting untuk dipublikasikan kepada masyarakat. Karena tampaknya sudah menjadi rahasia umum kalau selama ini praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) akrab dalam perekrutan CPNS. Saya sering mendengar cerita ada yang berani membayar hingga ratusan juta jika anaknya bisa lulus menjadi CPNS. Atau sebaliknya, ada yang berharap lulus dengan murni, namun di tahap akhir (biasanya wawancara), ditanya berani membayar berapa supaya lulus. Bahkan konon, dulu status PNS itu ibarat warisan. Jadi kalau orangtuanya PNS dan akan pensiun, dia bisa mengajukan anaknya untuk menjadi PNS menggantikannya. Atau satu lagi kemungkinannya. Konon jika punya “link”, misalnya ada anggota keluarga atau kenalan yang posisinya cukup kuat di kementerian atau lembaga, hal itu juga bisa menjadi salah satu jalan mulus lulus ujian CPNS. Meminjam salah satu judul film karya Deddy Mizwar, “Alangkah Lucunya Negeri Ini”.

Memang lucu. Karena saat saya berhasil lulus ujian CPNS dengan murni di Kementerian Pendidikan Nasional pada akhir tahun 2010 lalu,  ada yang bertanya kepada saya, “Bapaknya siapa?”, atau “Siapanya yang ada di sini?”. Saya bilang kalau saya lulus murni, tapi mereka tidak percaya. Sakit hati. Mereka tidak tahu bagaimana perjuangan saya mengikuti berbagai ujian CPNS. Saya mendaftar dan mengikuti ujian di 11 kementerian/lembaga (itu yang saya ingat, bahkan mungkin lebih). Kemenperin, Kemendiknas, Kemenkumham, Kemenkes, Kemenhub, Kemenkeu, Kemenlu, Kemenhut, Kemenbudpar, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi. Ayah saya bukan PNS, apalagi pejabat publik. Ibu saya juga. Saya juga tidak punya saudara yang memiliki jabatan atau kuasa yang tinggi untuk meluluskan saya di ujian CPNS. Saya juga tidak punya uang hingga ratusan juta. Saya cuma punya niat, usaha, dan doa dari ayah dan ibu. Alhamdulillah ketiga hal itu mengantarkan saya lulus ujian CPNS dengan murni di dua kementerian: Kemendiknas dan Kemenkumham. Kalau saya punya “link”, atau punya duit buat bayar “kursi”, untuk apa repot-repot daftar di banyak tempat? Untuk apa pula repot-repot berkali-kali tukar jadwal liputan dengan teman demi mengambil kartu ujian dan ikut ujian CPNS? Tahun 2010 itu saya masih menjadi reporter berita di sebuah televisi swasta.

Pengumuman kelulusan ujian CPNS saya terima lebih dulu dari Kemenkumham. Di sana saya lulus untuk formasi Jurnalis dengan kualifikasi pendidikan S1 Jurnalistik di Ditjen HAM, dan diminta untuk melakukan pemberkasan. Namun saat itu saya juga sedang menunggu pengumuman akhir dari Kemendiknas, jadi saya tidak melakukan pemberkasan karena batas akhir pemberkasan Kemenkumham masih bisa menunggu pengumuman Kemendiknas. Ternyata di Kemendiknas saya juga lulus untuk formasi Pranata Humas di Setjen dengan kualifikasi pendidikan S1 Jurnalistik. Saya memang cenderung mendaftar untuk formasi yang meminta kualifikasi S1 Jurnalistik daripada S1 Komunikasi, karena saya yakin pelamarnya lebih sedikit. Lagipula saat itu saya masih menjadi reporter. Banting setir menjadi PNS pun saya berharap pekerjaan saya kelak tidak akan jauh dari dunia jurnalistik.

Lulus di dua kementerian, saya harus memutuskan salah satu, dan akhirnya pilihan saya jatuh ke Kemendiknas. Hingga batas akhir hari pemberkasan di Kemenkumham, saya mendapat telepon dari panitia Kemenkumham. Mereka bertanya apakah saya jadi ambil kesempatan menjadi CPNS di sana atau tidak. Jika tidak, saya diminta datang dengan membawa surat pengunduran diri menggunakan materai. Saya pun melakukannya. Saat itu saya berpikir, apakah “kursi” kosong yang tidak jadi saya ambil di Kemenkumham akan “dijual” ke orang lain, atau diberikan ke pelamar yang nilainya di bawah nilai saya saat ujian. Wallahu’alam.

Ada satu lagi cerita lulus murni dari teman saya. Berbeda dengan saya yang mendaftar dan mengikuti berbagai ujian CPNS, teman saya ini, sebut saja Bunga, tidak mengeluarkan usaha sekeras usaha saya. Dia hanya mendaftar di Kemendiknas. Dan tahun 2010 itu pun adalah pertama kalinya dia ikut ujian CPNS, sama seperti saya. Padahal banyak yang ikut ujian selama bertahun-tahun namun tidak lulus juga. Bunga tidak punya siapapun di Kemendiknas yang bisa memasukkan dia dengan mulus sebagai CPNS. Bunga juga tidak punya uang ratusan juta untuk membeli “kursi”. Bunga hanya punya niat yang pas-pasan dan usaha yang pas-pasan. Tapi dia bisa lulus dengan murni. Mengapa? Saya percaya itu karena doa dari ibunya.

Lewat tulisan ini saya ingin memberikan semangat buat mereka yang sedang mengikuti tahapan rekrutmen CPNS. Lulus dengan murni itu fakta. Jangan takut bersaing dengan anak-anak pejabat atau anak-anak orang kaya yang sanggup membayar ratusan juta demi lulus ujian CPNS. Apalagi rekrutmen CPNS sekarang dilakukan serentak/bersamaan, dan KemenPAN-RB sebagai penyelenggara pusat pun berjanji bahwa proses rekrutmen CPNS akan berjalan bersih. Satu lagi, ingatlah kalau Allah selalu punya cara untuk membalas usaha makhlukNya. Bagaimanapun usaha itu, baik atau buruk.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Irero 29 | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 9 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 12 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 12 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

1 Medali Emas Malaysia Jadi Milik Indonesia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

PDIP, PKB, Nasdem Berjuang Demi Rakyat …

Slamet Dunia Akhira... | 7 jam lalu

Pembangunan Sheet Pile Cideng – Thamrin …

Charles Erbianco | 7 jam lalu

Raja, Panglima Kuda Dan Pasukan Banteng …

Herwin Halman | 8 jam lalu

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: