Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lely Nur Azizah

Mahasiswi Fakultas Psikologi semester 4 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Euforia “Vickinisasi”

OPINI | 18 September 2013 | 16:57 Dibaca: 277   Komentar: 2   5

1381681022941147903Hari ini orang Indonesia mana yang tidak mengenal sosok bernama Vicky. Saya yakin semua orang Indonesia yang bisa membaca dan mendengar –dan tidak terisolasi dari peradaban, pasti sangat familiar dengan kata “kontroversi hati” atau “konspirasi kemakmuran dan kudeta keinginan” atau “apa sajalah yang berakhiran asi-asi seperti reboisasi, imunisasi, dietisasi –memang kadang nggak nyambung” yang akhir-akhir ini sangat booming di social media. Mulai dari uptade status sampai ngetweet semua ikut-ikutan pakai gaya Vicky Presetyo alias Hendrianto bin Hermanto mantan kekasih penyanyi dangdut Zaskia Gotik ini. Kepopuleran Vicky ternyata tidak cukup hanya di jejaring social, berbagai acara televise bahkan menjadikan Vickinisasi menjadi topic utama selama beberapa minggu terakhir. Mulai Hitam Putih hingga Show Imah, dari YKS sampai OVJ, bahkan dari Infotaiment sampai liputan6 semua tak ketinggalan membahas betapa uniknya gaya bahasa Vicky yang katanya lulusan S3 dari Amerika ini.

Berbagai fakta-fakta tentang Vicky mungkin sudah sangat basi untuk kemudian saya ulas lagi disini, mulai dari pencalonannya sebagai kepala desa sampai kasus penipuannya sudah sangat banyak diulas oleh awak media, atau tentang pertunangannya dengan Zaskia Gotik juga sudah sangat gamblang dikorek Infotaiment. Tapi terlepas dari apakah itu sudah dibahas atau belum saya memang tak hendak membahas soal kehidupan pribadi Vicky.

Ada hal yang lebih unik yang menjadi focus perhatian saya. Bagaimana Vicky bisa menghipnotis jutaan orang untuk mengikuti gaya bahasanya –yang kalo boleh saya bilang nyentrik atau malah nyleneh. Hari ini, gaya bicara ala Vicky bahkan menjadi trending topic yang mampu mengalahkan Syahrini, sosok yang gaya bicaranya paling banyak ditiru orang Indonesia beberapa tahun terakhir –ini opini saya saja sih, tidak ada penelitian atau survey lebih lanjut, jika mungkin ada monggo di share kan. Hehe…

Pertanyaan ini kemudian terjawab setelah saya observasi dan wawancara ke beberapa rekan di fakultas. Memang pada dasarnya seseorang akan cenderung menirukan apa-apa yang iya anggap lucu atau unik dan menarik, ini sama seperti teori imitasi yang telah dikemukakan oleh Albert Bandura –seorang Psikolog berkembangsaan Amerika, Bandura (dalam Papalia, 2009) mengatakan perilaku spesifik yang ditiru manusia dan model yang mereka pilih mungkin bergantung pada apa yang mereka anggap bernilai dalam budaya mereka –komedi memang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia yang telah mengakar sejak lama. Secara tidak sadar kita telah sepakat bahwa gaya bahasa Vicky memang nyentrik dan unik juga sangat menarik mungkin, hingga banyak orang memparodikan dan menirunya. Faktanya memang demikian, sosial media mulai dari fb hingga twitter juga berbagai stasiun televisi telah menjadikan Vickinisasi menjadi tranding topic –dengan menjadikannya komedi, beberapa minggu ini.

Karena saya mahasiswa psikologi dan kebetulan sekali baru mendapatkan teori kognisi. Tidak afdol rasanya kalau saya tidak sharekan bagaimana proses kognisi kita hingga bisa mengimitasi gaya Vicky dengan begitu luar biasa bervariasi. Dalam proses imitasi ada proses kognisi yang terlibat. Anda mungkin paham tentang ini, dalam proses imitasi hal pertama yang terjadi adalah melihat atau mengamati Role model –dalam hal ini Vicky, Vicky memberikan stimulus berupa gaya bahasanya yang kita tangkap dan kita simpan dalam memori. Memori ini dapat kita panggil kapan saja kita mau, seperti saat kita bercanda dengan teman atau seperti saat artis-artis di televisi memparodikannya. Lalu mengapa bervasiasi, teori Rekognize mungkin dapat menjawab ini, ketika memori itu kita panggil kembali hal yang terjadi adalah rekognize bukan recall –dalam kasus vickinisasi.

Apa bedanya?

Bedanya terletak pada proses dan hasil dari pemanggilan kembali memori itu. Jika recall adalah memanggil kembali memori secara utuh, maka dalam recognize terjadi penambahan atau pengurangan.

Terlepas dari proses kognisi atau proses imitasi, ada hal yang jauh lebih penting dari itu semua. Ketika kita paham bagaimana proses imitasi dan kognisi seharusnya kita jauh lebih bijak dalam memilah dan memilih apa-apa yang seharusnya dan tak seharusnya kita tiru atau kita imitasi –walaupun itu hanya sekedar parodi. Apa-apa yang kita tiru –sebagai orang dewasa, kemudian juga akan ditiru oleh adik-adik kita atau anak-anak kita. Bukan isi dari bahasanya yang saya khawatirkan tapi lebih ke sikap “melecehkan” atau tidak menghargai apa-apa yang coba disampaikan orang padanya. Apa jadinya bangsa ini nanti ketika penyampaian tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang bisa ditelaah tapi lebih ke susunan bahasa yang bisa “ditertawakan” atau tidak.

Semua orang butuh dihargai bukan? Terlepas dari teori maslow tentang lima hierarki kebutuhan manusia, kata hati kita tentu mengiyakan ini. Marilah kita tenggok dan kita renungkan kembali, bagaimana jika Vicky itu kita, apa iya kita nyaman diperlakukan seperti itu? Apa iya kita ikhlas untuk ditertawakan disepanjang jalan dan sepanjang hari?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: