Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

El-shodiq Muhammad

"Sering aku perhatikan, mereka berdebat bahkan kadang saling menghujat hanya karena beda sumber bacaannya" (Gus selengkapnya

Kontroversi ‘Kemewahan’ Makam Uje

OPINI | 17 September 2013 | 11:32 Dibaca: 2225   Komentar: 8   2

Pagi tadi (17/9), ketika melihat acara infotaiment, saya kaget melihat berita yang sedang disajikan pada para pemirsa oleh salah satu tv swasta nasional (SCTV dan RCTI). Di sana terpampang dengan jelas kalau makam almarhum Ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) sudah berubah 100 derajat dari sebelumnya yang hanya berupa gundukan tanah dengan taburan beraneka bunga di atasnya. Saya kaget dan heran karena makam Uje yang baru tergolong sangat mewah dari makam sekitarnya, juga bangunan yang ada di atas makam tersebut terlihat terlalu tinggi, sehingga yang nampak adalah gundukan bangunan makam yang sangat mencolok.

Dari pemberitaan di tv tersebut, nampak jelas yang sangat berperan mengubah makam Uje adalah ibundanya, Umi Tatu, sedangkan Pipik, istri Uje sama sekali tidak ikut berperan. Menurut Umi Tatu, dirinya sudah berusaha menghubungi sang menantu tapi tidak bisa nyambung-nyambung, maka niatan mengubah makam Uje tetap ia jalankan dengan alasan bahwa Uje adalah putranya. Melihat kondisi seperti ini, Pipik hanya pasrah meski terlihat jelas kekecewaan di raut wajahnya.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membahas tentang perbedaan sikap mertua dan menantu di atas, tapi lebih kepada hukum mendirikan bangunan di atas kuburan atau makam, apalagi melihat alasan yang dikemukakan oleh Umi Tatu, bahwa hal tersebut ia lakukan mengacu pada makam Rosulullah dan para sahabat yang juga dibangun secara mewah.

Imam Asy-Syaukani, dalam Nailul Authar, Juz IV, menjelaskan bahwa meninggikan permukaan kuburan atau makam, melebihi ketentuan yang telah dibenarkan (dalam Islam) termasuk diharamkan. Hal ini dipertegas oleh pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, golongan dari pengikut Imam Syafi’i dan pengikut Imam Malik. Selain itu, menurut Asy-Syaukani lagi, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak sampai haram tapi makruh hukumnya. Hal ini didasarkan pada penetapan Ulama Salaf dan Khalaf tanpa adanya penolakan. (Asy-Syaukani, Nailul Authaar, Juz IV, hal. 95, Musthofa al-Baabiy, Mesir). Lihat juga pembahasan ini dalam bukunya Mahyuddin –Kalam Mulia, dengan judul “Masailul Fiqhiyah”.

Sedangkan penjelasan hadits tentang dilarangnya meninggikan permukaan makam bisa dilihat dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughny Juz II, hal. 420, terbitan Asqoofah Islaamiyah, Mesir

Janganlah engkau meninggikan patung, kecuali (sebelumnya) engkau harus memusnahkannya. Dan jangan pula engkau meninggikan (permukaan) kuburan, kecuali engkau harus meratakannya. HR Muslim yang bersumber dari Ali.

Dari penjelasan hadits dan pendapat Asy-Syaukani di atas kita bisa mengetahui bahwa meninggikan permukaan makam hukum minimalnya adalah makruh, sedangkan yang satu lagi adalah haram. Hal ini disebabkan karena masalah makam adalah masalah yang sudah menyangkut keakhiratan dan bukan lagi masalah keduniawian.

Di masa Rosulullah, beliau memang pernah memerintahkan pada sahabat agar kuburan atau makam Utsman bin Mazh’un diberi tanda dengan menancapkan sebuah batu atau kayu di atasnya. Hal inilah yang kemudian sampai saat ini menjadi landasan ummat Islam, di mana ditiap-tiap makam dikasih tanda yang berupa batu nisan.

Saya yakin bahwa maksud Umi Tatu baik dan tidak ada niatan menyimpang sama sekali. Namun dari penjelasannya tadi pagi, di mana beliau mencontoh makam Rosulullah dan para sahabat dalam hal ini, jelas merupakan sebuah kealpaan dan kurang pada tempatnya. Sebab makam Uje berada di Tempat Pemakaman Umum, di sekitarnya juga ada ribuan makam-makam lain yang kebanyakan hanya seadanya selayaknya makam orang-orang Islam lainnya. Hal inilah yang menjadi tolak ukur tidak diperbolehkan membangun atau bermewah-mewah di atas makam, sebab dikhawatirkan hal tersebut hanya ingin menunjukkan pada khalayak umum bahwa makam yang mewah tadi adalah makam orang besar, orang yang terhormat semasa hidupnya dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan makam Ulama-ulama terkenal atau makam para wali? Jika kita jeli melihatnya, makam para wali dan ulama terkemuka khususnya yang ada di Indonesia, makamnya hanyalah apa adanya sebagaimana yang dianjurkan Nabi Muhammad, cuma biasanya di sekitar makam tersebut dikasih pagar yang tujuannya untuk menjaga makam itu sendiri. Letak makam beliau-beliaupun biasanya di tempat pemakaman khusus dan bukan berada di pemakaman umum.

Semoga ada hikmah di balik semua ini…

# Sampai tulisan ini saya buat, saya belum menemukan gambar makam Uje yang baru

Selasa, 17 September 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 13 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 17 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 21 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 31 July 2014 09:31

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 31 July 2014 09:01

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: