Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wahyu Hidayanto

Wong Ndeso, Wong Cilik, Rakyat Jelata yang Rindu Terwujudnya Keadilan dan Kemakmuran

Polisi Tidur

OPINI | 16 September 2013 | 15:06 Dibaca: 161   Komentar: 2   0

Saya pernah membaca tulisan dalam sebuah kaos yang dipakai oleh teman saya, tulisannya seperti ini,”aku benci polisi tidur”. Saya yakin maksud tulisan dalam kaos tersebut adalah bukan membenci pak polisi yang beneran, polisi yang beberapa terakhir ini banyak diteror dan ditembakin oleh orang yang tidak dikenal. Polisi tidur  yang dimaksud adalah gundukan yang sering dipasang di jalan kampung. Agar lebih mengenakkan polisi tidurnya saya sebut gundukan saja, seperti yang ditulis oleh Puthut EA.

Polisi tidur atau gundukan biasanya dipasang di jalan raya depan gedung sekolah, kampus, pabrik, markas TNI, markas Polisi, samsat, kantor gubernur, kantor bupati, walikota dan instansi yang lain. Selain itu gundukan juga dipasang dijalan perkampungan yang padat penduduk, komplek perumahan, seperti perumahan yang menjadi kost saya dan teman-teman. Gundukan dipasang dengan tujuan-tujuan tertentu, bisa jadi biar pengendara lebih pelan-pelan dan berhati-hati karena banyak yang akan menyebrang jalan, apalagi sekolahan atau kampus, banyak anak pelajar dan mahasiswa yang lalu lalang menyebrangi jalan. Kalau dijalan perkampungan atau perumahan biasanya gundukan dibuat karena banyak anak bermain dijalan yang disebabkan oleh sempitnya areal untuk bermain.

Adanya polisi tidur atau gundukan tentunya mengundang pro dan kontra bagi pengguna jalan. Almarhum KH Abdurrahman Wahid pernah berceloteh,”polisi yang baik itu ada tiga, polisi tidur, patung polisi dan eks Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng”. Berarti mantan presiden RI ketiga tersebut secara tersirat sepakat dengan adanya polisi tidur atau gundukan. Banyak yang pro dan kontra karena juga banyak positif dan negatifnya.

Saya sendiri punya cerita yang kurang mengenakkan yang berkaitan dengan polisi tidur atau gundukan. Dulu sekitar empat tahunan yang lalu, ketika saya berkunjung kerumah paman di daerah Tanjung Pura, Langkat, Sumut, saya hampir dibuat celaka oleh polisi tidur atau gundukan. Pasalnya, itu menjadi tempat yang baru buat saya, dan tentunya saya belum hafal kondisi jalan yang ada di sana. Saya mengendarai sepeda motor dengan kecepatan standart, tidak terlalu ngebut, karena memang tidak berani ngebut, kira-kira kecepatannya waktu itu adalah rata-rata 70 km/jam. Tiba-tiba saya dikagetkan oleh gundukan yang lumayan tinggi, tapi untungnya tidk terlalu lebar dan gundukannya hanya satu. Sepeda motor yang saya kendarai melompat lumayan tinggi, untungnya mendaratnya dengan sempurna, jadi selamatlah saya hari itu.

Keesokkan harinya saya lupa kalau ada gundukan itu, terjadi hal yang sama,untung adik sepupu yang saya bonceng tidak terpental dari sepeda motor. Lain lagi cerita gundukan yang ada dijalan raya dekat pusat pengendalian pengeboran minyak di Geragai, Tanjab Timur, Jambi, tempat orang tua saya bermukim. Di jalan raya tersebut banyak sekali terdapat gundukan yang tinggi dan lebar, setiap 20 meter ada satu gundukan, sepanjang 2 kilometer. Salah satu gundukan tersebut sudah pernah memakan korban, ada pengendara sepeda motor yang kecelakaan dan meninggal dunia. Selain disebabkan oleh pengendara yang ugal-ugalan, kecelakaan juga disebabkan oleh gundukan yang terlalu tinggi dan lebar, dan kebetulan pengendara belum hafal kondisi jalan tersebut.

Di jalan sekitar depan kampus swasta yang ada di Sukoharjo juga banyak terdapat gundukan. Hampir setiap 20 meter ada gundukan, tidak hanya satu gundukan, ada yang dua bahkan tiga gundukan. Belum lama ini saya mengantar nenek kondangan melalui jalan tersebut, karena baru pertama kali melewati jalan tersebut, saya belum hafal kondisinya. Saya mengendarai motor agak seikit ngebut, tiba-tiba dikagetkan dengan adanya gundukan, mau menginjak rem secara mendadak takut malah jatuh. Akhirnya saya terabas saja gundukan-gundukan tersebut, maka terjadi getaran-getaran dan guncangan yang lumayan dahsyat, hampir saja nenek terpental dari jok sepeda motor.

Begitulah sedikit cerita saya bergelut dengan polisi tidur atau gundukan. Semua orang pasti punya cerita yang masing-masing berbeda terkait dengan polisi tidur. Saya sempat berpikir, bagaimana jika ibu-ibu hamil yang sudah tinggal lahiran melintasi jalan yang bergundukan. Takutnya bayinya akan keluar dijalan sebelum sampai di rumah sakit atau malah tidak jadi lahiran karena keguncang-guncang oleh getaran kendaraan yang melintasi gundukan. Semoga ini hanya ketakutan saya saja, tidak terjadi yang sesungguhnya.

Awalnya mungkin tujuan diadakannya gundukan tersebut agar para pengendara tidak kebut-kebutan di jalan, karena banyak anak bermain di jalan, banyak orang menyebrangi jalan dan banyak bapak-bapak yang nongkrong di pinggir jalan. Saya menganggap hal itu sebagai sisi positif dibuatnya gundukan, tapi kalau ada ibu-ibu yang hamil tadi bagaimana? Kan kasian harus keguncang-guncang. Kenapa polisi tidur atau gunduka tersebut tidak diganti saja dengan papan himbauan saja? misalnya “pelan-pelan banyak anak”, “kecepatan max 20 km/jam”, “anda sopan kami pun segan” atau yang paling ekstrim, “ngebut berarti benjut”. Itu semua pilihan, mau pakai gundukan atau himbauan itu tergantung kesepakatan, kalau menurut saya pilih yang paling sedikit mudharatnya saja. Semua ada konsekuensinya masing-masing. Menurut teman saya, membuat gundukan itu juga tidak asal-asalan, harus meminta izin terlebih dahulu dengan dinas atau instansi yang terkait. Mau pro atau kontra dan membuat atau tidak membuat gundukan itu adalah hak kita masing-masing. Dan yang tidak kalah penting adalah apapun yang kita pilih tidak mengganggu hak orang lain.

Klaten, 12 September 2013

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 3 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 4 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 6 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Modern atau Kampungan? …

Alfarizi | 7 jam lalu

Wayang Listrik dalam Panggung Teater …

Trie Yas | 7 jam lalu

Tolong, Jangan Rebutan Jersey Suarez! …

Rizal Marajo | 8 jam lalu

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 8 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: