Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pancasila, Miss World, Majalah Playboy

OPINI | 12 September 2013 | 14:45 Dibaca: 169   Komentar: 4   0

Indonesia merupakan negara berpenduduk majemuk. Baik dari segi bahasa, budaya, agama maupun standar sopan santun. Sangatlah menguntungkan secara umum bisa dikatakan indonesia mempunyai kondisi yang sangat terjaga iklim saling menghormati dan menghargai, dimana mereka wanita berbusana Islam masih bisa memakai kerudungnya walau bukan negara berdasar Islam, orang Kristen dan Katholik tetap bisa kebaktian walaupun bukan mayoritas, Hindu di Bali bisa Isakawarsa (perganian tahun baru saka) dengan mematikan keseluruhan sumber listrik di bali walaupun banyak juga warga yang membutuhkan listrik disaat itu, dan orang budha bisa merayakan waisak di Borobudur di tengah-tengah warga yang beragama lain dari mereka. Itulah indonesia yang mana pancasila menjadi standar berperilaku di indonesia secara nasional.

13789716211436926094

generasi penerus bangsa

Tentunya banyak penafsiran dalam penerapannya. Saat ini banyak banyak kalangan memprihatinkan kondisi korupsi, sopan santun yang pudar, dan hal-hal lain yang membuat bangsa ini kehilangan jati diri. Selayaknya menjadi tugas kolektif dan pribadi guna perbaikan bangsa yang kongkrit menjauhkan dari korupsi, memiliki etika yang santun dan budi pekerti yang terpuji. Diperlukan semua elemen untuk memperbaikinya. Seperti diberitakan diketahui, miss world memiliki banyak segi keuntungan terutama sektor pariwisata dan secara finansial, walaupun tidak signifikan. Dan individu tertentu saja yang meraup untung. Tapi dari segi dikenal secara mendunia pastilah Indonesia terliput sebagai penyelenggara. Oleh karena itu seperti di beritakan pecalang di Bali siap puputan dengan siapapun yang akan membubarkan even internasional tersebut. Harap dimaklumi pula kenapa majalah playboy merasa aman dan nyaman berkantor di bali. Tentunya omed-omedan yang merupakan budaya di Bali juga dipandang sebagai kemajemukan bangsa Indonesia karena merupakan ciri khas suatu daerah yang tidak di punyai daerah lain. Sebagai warga negara Indonesia pastinya mendukung tentang mempertahankan identitas bangsa yang baik. dan seperti yang saat ini di dengungkan bagaimana semuanya mendukung pemberantasan korupsi, menjadi bangsa yang berbudi luhur, beretika yang santun dan saling menghormati.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: