Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sam_me

Instruktur TIK Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Memiliki minat yang besar terhadap fotografi dan teater, Suka selengkapnya

Vicky Prasetyo: Fenomena Masyarakat Indonesia

OPINI | 11 September 2013 | 17:00 Dibaca: 2095   Komentar: 11   1

Belakangan ini sedang marak guyonan tentang gaya bicara Vicky Prasetyo, mantan kekasih Zaskia Gotik, si goyang itik. Dengan bahasa yang amburadul, Vicky yang bernama asli Hendrianto ini merasa telah menggunakan kosa-kata yang digunakan kaum intelektual.

Kata-kata yang digunakan Vicky antara lain adalah harmonisasi, kudeta, labil, dan kontradiksi. Pengguna kata-kata tersebut akan terlihat intelek jika digunakan pada kalimat yang tepat.

Kata harmonisasi adalah proses menjadi harmonis antara pihak yang satu dengan yang lainnya, bukan di dalam diri kita seperti yang diungkapkan Vicky saat diwawancara. Kata kudeta lebih tepat pada pembicaraan tentang hal yang besar seperti negara dan pemerintahan.

Sebaliknya, kata labil justru untuk mengungkapkan tentang keadaan jiwa manusia, bukan yang di luarnya. Begitu pula kata kontradiksi, kata ini lebih tepat digunakan untuk menjelaskan adanya pertentangan antara beberapa pihak, bukan di dalam diri.

Vicky menggunakan kata-kata tersebut tidak pada konteks kalimat yang tepat sehingga terasa janggal didengarnya. Vicky berusaha mencontoh kosa-kata yang sering digunakan para narasumber di berbagai berita, terutama berita politik dan ekonomi tanpa ia cari terlebih dahulu apa maksud kosa kata tersebut serta tepatnya digunakan pada konteks kalimat apa.

Fenomena Masyarakat Indonesia

Vicky tidak sendiri. Ia sebenarnya adalah fenomena masyarakat Indonesia yang ingin terlihat pintar tanpa mau tau apa maknanya. Ia hanya ingin orang-orang terkagum-kagum ketika mendengar perkataannya yang “tinggi”.

Nyatanya, meski masyarakat banyak yang menertawai kosa-kata khas Vicky ini, toh dengan gaya tersebut ia tetap saja bisa membodohi dan membuat orang sekitarnya menganggap ia pintar.

Korban-korban tersebut tidak hanya para wanita yang telah ditipunya, tapi juga sejumlah pemilik rental mobil mewah yang dibawa kabur Vicky. Bisa jadi Vicky dilayani pemiliknya atau sekadar pelayannya. Para pemilik/pelayan rental juga terpukau dengan gaya Vicky yang menurutnya sangat meyakinkan.

Jika yang melayani adalah pemiliknya, maka para pemilik rental ternyata tidak memiliki kapasitas yang cukup dalam berbahasa sehingga percaya begitu saja dengan orang macam Vicky. Bahkan sampai level pengusaha pun ternyata masih bisa ditipunya. Ini menunjukkan seperti apa kapasitas masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, Vicky masih lebih pintar dari yang ditipunya.

Vicky hanyalah salah satu contoh fenomena maraknya penipuan di negeri ini dengan memanfaatkan kebodohan orang di sekitarnya. Mulai dari penipuan berkedok lowongan pekerjaan, penipuan berkedok investasi, bahkan penipuan penggandaan uang pun masih banyak terjadi.

Yang sering digaungkan tentang kesuksesan adalah mereka yang memiliki harta yang melimpah atau bahkan sejumlah pundi-pundi emas tanpa mau tau dari mana asalnya.

Selain itu, masyarakat kita senang dengan hal-hal yang instan. Media, terutama televisi sering menjanjikan mimpi-mimpi dan menampilkan kontes-kontes yang menjanjikan terkenal dan kaya dalam waktu instan. Setelah sekian lama berusaha namun tak kunjung berhasil, ibarat gayung bersambut, maka kontes-kontes idol pun banyak yang mengikuti.

Betapa banyak orang yang memiliki hutang di sana-sini hanya karena gengsi ingin dianggap sukses. Parameter sukses menjadi sempit, yaitu barang-barang mahal, terbaru, dan uang.

Nilai kehormatan diri menjadi hilang ketika sedang bicara materi yang dimiliki. Halal-haram pun disingkirkan. Pendidikan karakter dan menghargai proses rasanya sudah hilang dan menjadi tidak penting.

Menurut saya, sukses yang sebenarnya adalah ketika kita dapat melakukan segala sesuatu atau mampu menghadapi segala masalah yang ada sesuai dengan hati nurani tanpa merasa terpaksa atau tertekan. Atau ketika kita dapat mengaplikasikan dengan baik segala ilmu yang kita miliki dalam kehidupan bermasyarakat.

Penting untuk kembali merenungi bahwa parameter sukses bukan sekadar gelimang materi.

Masyarakat cenderung hanya mementingkan penampilan luar. Sekali lagi, ini juga salah satu parameter sukses pada masyarakat kita, yaitu terlihat cerdas dan intelek tanpa memedulikan apa maknanya.

Salah satunya seperti yang dilakukan Vicky: menggunakan kata-kata yang dirasa berat tapi tidak sesuai dengan konteks kalimatnya. Vicky adalah contoh yang parah dalam hal ini.

Vicky berusaha menyadur kosa-kata yang sering digunakan para politikus yang memang jago cuap-cuap tanpa makna. Vicky melihat itu sebagai hal yang keren dan cerdas. Tanpa ia sadari betapa muaknya kita mendengar omongan para politikus.

Setelah berhasil menipu sana-sini, ia pun percaya diri berbicara di depan publik. Mungkin sebelumnya ia memang selalu selamat. Ia pikir semua orang bisa ditipunya. Karenanya, ketika kosa-kata yang ia gunakan mendapat cemooh publik, dengan yakin ia membela diri karena baru kali ini ia disalahkan.

Orang-orang yang dikenal masyarakat senantiasa menjadi panutan dalam segala hal, termasuk berbahasa, termasuk di dalamnya para artis dan politikus tanpa memandang apa latar belakangnya.

Beberapa contoh kesalahan penggunaan kata yang sering digunakan para artis dan politikus adalah kata “schedule” yang digunakan untuk menunjukkan rencana aktivitas di waktu yang akan datang. Padahal kata “schedule” berarti jadwal perjalanan.

Penggunaan kata “weekdays” dimaknai sebagai hari kerja. Padahal hari kerja sudah ada istilahnya sendiri, yaitu “workdays”. Kata “muhrim” dimaknai kebanyakan orang sebagai orang yang bisa dinikahi atau akan batal wudlu jika tersentuh (jika mengacu pada fikih imam syafii). Padahal sebenarnya arti kata “muhrim” adalah orang yang menggunakan kain ihram. Orang yang bisa kita nikahi disebut sebagai “mahram”.

Mereka menggunakan kata-kata tersebut juga untuk keren-kerenan agar terlihat lebih “inggris” atau lebih “arab” tanpa terlebih dahulu dimaknai apa maksudnya. Masalahnya,  kesalahan kosa-kata ini hanya terjadi sesekali saja sehingga cenderung tidak terdekteksi dan bahkan menjadi kosakata yang digunakan pada masyarakat umum. Hasilnya, masyarakatpun sering menggunakan kata-kata yang rancu dalam kalimatnya tanpa memahami apa maknanya hanya agar terlihat keren.

Bahasa Alay Masih Bisa Dipahami

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang tidak selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa indonesia yang baik dan benar lebih sering digunakan pada forum-forum resmi. Bukan berarti bahasa Indonesia adalah bahasa yang berat. Buktinya bahasa-bahasa resmi di luar negeri seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab yang formal juga jarang digunakan untuk komunikasi sehari-hari.

Banyak unsur kalimat yang dihilangkan saat kita berkomunikasi nonformal. Tujuannya agar lebih praktis dan menghemat waktu. Yang penting kalimat yang disampaikan bisa dipahami maksudnya.

Bahkan untuk daerah yang berbeda, kata yang sama sering memiliki makna yang berbeda. Di daerah Sumatera, kata “siap” berarti sudah, kata “kereta” menunjukkan kendaraan bermotor. Di daerah Sulawesi dan Maluku, kata “sebentar” berarti nanti.

Dalam lingkup yang lebih kecil, sering muncul bahasa khas untuk kelompok tertentu pada kalangan tertentu. Di lingkungan sekolah, pesantren, kampus, maupun perkantoran, masing-masing punya istilah-istilah sendiri untuk menunjukkan aktivitas mereka. Meskipun berbeda, tapi kesemuanya memiliki patokan/standar dalam menggunakan kosa-kata tersebut.

Bahkan di kalangan remaja saat ini juga banyak yang menggunakan bahasa khas remaja, atau yang dikenal dengan bahasa 4L4y. Bahasa alay menggunakan kombinasi huruf besar-kecil, dan angka di dalamnya. Atau sering kata-kata tersebut disingkat. Namun kita masih bisa paham apa maknanya. Atau kalaupun sulit dipahami, setidaknya ada kelompok tertentu yang memang menggunakan dan memahami bahasa alay tersebut.

Bahasa gaul remaja cenderung berubah-ubah. Pada era ’80-an, hanya mengambil awalan kata saja dan menyisipkan kata “OK” di dalamnya. Misal, yang sampai sekarang masih digunakan adalah kata Bapak menjadi Bokap, Nyonya menjadi Nyokap, Sepatu menjadi Sepokat, dan lain lain.

Tahun 2000-an awal, tren kata berubah menjadi dibalik-balik. Seorang teman ketika menunggu antrian sempat bilang “amal tengab”, yang berarti “lama banget”. Untuk model bahasa gaul yang satu ini, saya cukup salut pada mereka yang menggunakannya di setiap komunikasi nonformal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 2 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: