Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Meti Irmayanti

Dari kota kecil nan jauh di Sulawesi Tenggara, mencoba membuka wawasan dengan menulis dan membaca

Seandainya Hak Asuh AQJ Ada di Tangan Ibunya, Tentulah Musibah yang Dialaminya Takkan Terjadi

OPINI | 11 September 2013 | 08:53 Dibaca: 702   Komentar: 3   1

Kasus kecelakaan maut yang menimpa AQJ putra bungsu Ahmad Dhani sungguh memiriskan hati, bagaimana tidak bocah seusia AQJ sudah menjadi penyebab kecelakaan yang menyebabkan 6 orang korban tewas dan 9 lainnya luka parah termasuk AQJ sendiri, sudah banyak tulisan ataupun ulasan di kompasiana ini mengenai kejadian ini, namun saya coba untuk menulis ini dari sudut pandang saya sebagai seorang IBU, apalagi kita ketahui bersama bahwa AQJ besar dan tumbuh dalam asuhan tunggal ayahnya, akibat perceraian kedua orang tuanya, dari sisi ini sebagai seorang ibu saya sangat-sangat menyayangkan keputusan pengadilan yang memberikan hak asuh AQJ bersaudara kepada ayahnya AD, dalam pandangan sempit saya jika saja AQJ berada dalam asuhan mbak Maia ibunya, terlepas dari masalah takdir mungkin saja kejadian seperti ini tidak akan terjadi.

Anak sekecil AQJ akhirnya harus diperhadapkan pada tanggungjawab hukum yang begitu berat baik secara fisik apalagi secara psikis, apapun bentuk pernyataan tanggungjawab dari AD ayahnya atas musibah ini, semua itu telah tertoreh dan tidak mungkin dapat terhapus tanpa meninggalkan bekas bekas yang mendalam, padahal seharusnya anak seusia AQJ ini sangat-sangat bisa diproteksi atau dilindungi dari melakukan tindakan-tindakan yang setragis musibah ini jika memang “orangtua” betul-betul melaksanakan tanggungjawabnya dalam mendidik, membimbing dan melindungi anak-anaknya, dan biasanya hal ini secara naluriah dan kodrati adalah lebih baik jika dilakukan oleh seorang ibu.

Maaf dalam opini sempit saya keegoisan dan keangkuhan seorang AD lah yang berperan besar dalam perkembangan tumbuh kembangnya anak-anaknya yang lebih mengedepankan kemampuan materialnya dibandingkan naluriah perlindungan terhadap anak-anaknya dari perbuatan-perbuatan yang bisa berimplikasi negatif baik terhadap dirinya dan orang lain.

Dari sebuah telewicara di satu stasiun TV dengan AD, dari pernyataan-pernyataan AD yang ditanyakan terkait musibah yang dialami oleh putranya, saya menangkap kesan bahwa AD hanya bermain pada logikanya tanpa kemampuan untuk melaksanakan atau mengimplementasikan logikanya dalam mengasuh tumbuh kembang anak-anaknya, saya menangkap itu semua sebagai pernyataan b*llsh*ts.

1. Ketika ditanya dalam telewicara itu apakah AD sudah menanyakan ke AQJ mengenai kronologis peristiwa kecelakaan ?. AD menjawab tentu saja ia tidak menanyakan hal itu, karena katanya secara logika kita bisa merasakan bagaimana beban mental seorang bocah seusia AQJ menyangkut kecelakaan yang menewaskan 6 orang korban. Betul sekali pernyataan AD ini, beban traumatik anak seusia AQJ menghadapi kenyataan ini tentulah sangat berat dan ini perlu penanganan khusus guna menghilangkan beban traumatiknya.

2. Ketika ditanya pula mengenai pemberian hadiah mobil untuk AQJ yang masih dibawah umur, lagi lagi AD memberi alasan bahwa secara logika orang tua mana yang membiarkan anaknya membahayakan keselamatan orang lain kata AD, tidak ada orang tua yang membiarkan anaknya melakukan sesuatu yang bisa mengancam atau membahayakan keselamatan orang lain, kata AD ada sopir yang ia siapkan untuk AQJ. Sekali lagi sangat sangat benar apa yang dikatakan oleh AD diatas, orang tua pastilah harus melindungi anak anaknya dari melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan dan mengancam keselamatan orang lain maupun dirinya sendiri.

Dari pernyataan AD di atas terlihat bahwa AD berusaha memberikan pesan dan kesan bahwa ia adalah orangtua yang perhatian, yang mengerti serta bertanggungjawab terhadap anak anaknya. Namun dari musibah yang dialami oleh AQJ, ini adalah satu kenyataan yang sangat bertolak belakang dari pernyataan AD, dari fakta olah TKP oleh pihak kepolisian diketahui bahwa spedometer kendaraan yang dikemudikan AQJ berhenti pada posisi 82 km/jam, ini berarti kecepatan mobil saat itu bisa lebih dari 100 km/jam, dengan kecepatan seperti ini tentunya kendaraan bukan lagi dikemudikan oleh orang yang baru belajar membawa mobil, tapi ini menunjukkan bahwa AQJ sudah terbiasa mengendarai mobil, jadi merupakan satu hal yang mustahil jika AD sebagai orang tua tidak tahu kalau putranya AQJ bisa membawa mobil, pastinya AD tahu dan mengizinkan hal tersebut.

Lantas bagaimana mungkin seorang bocah seusia AQJ saat dinihari masih berada diluar rumah apalagi menurut beberapa media kronologis kejadiannya, AQJ saat musibah itu terjadi baru saja bersama seorang temannya mengantar pulang pacarnya, dimana perhatian, dimana pengawasan dan dimana perlindungan orang tuanya ?. Apakah dunia ini sudah edan sehingga anak seusia AQJ dianggap wajar wajar saja masih keluyuran ditengah malam, membawa kendaraan sendiri dan juga sudah berpacaran, oh my god !!!, menurut saya bukan dunianya yang sudah edan tapi orangtualah yang lalai dalam hal memberikan pengasuhan, pengawasan dan perlindungan bagi AQJ, dan adalah hal yang tidak mungkin terjadi jika saja AQJ berada dalam hak pengasuhan ibundanya, kasih sayang seorang bunda bukan hanya sepanjang jalan tapi sepanjang usia bahkan masa, kasih sayangnya tidak hanya sepanjang akal tapi bahkan sepanjang perasaan.

Kejadian musibah kecelakaan tragis yang dialami AQJ adalah merupakan peringatan bagi AD bahwa ia sesungguhnya telah menghianati anak anaknya untuk mendapatkan kasih sayang naluriah dan kodrati yang tulus dari seorang ibu, hanya karena topeng keegoisan dan keangkuhannya, Semoga saja musibah ini membuka mata kita semua bahwa betapa rentannya bocah bocah seperti AQJ ini kehilangan masa depan hanya karena terpisahkan dari pengasuhan seorang ibu akibat persoalan rumah tangga kedua orangtuanya.

Duka yang dalam atas semua korban dalam musibah ini semoga keluarga para korban diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi cobaan ini, dan senantiasa berada dalam lindungan dan bimbingan yang kuasa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 20 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: