Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wangsa Jaya

Seorang guru di SMA Negeri 8 Jakarta, menyelesaikan pendidikan terakhir di Magister Ilmu Geografi UI. selengkapnya

Konsep Geografi dan Humaniora?

OPINI | 27 August 2013 | 17:17 Dibaca: 179   Komentar: 0   0

Sewaktu kuliah, belajar geomorfologi dengan pak Sarwa, ujung-ujungnya kita harus menterjemahkan Arthur L. Bloom dan AK Lobeck. Kalau kuliah pak Frans di Geologi kita akan ketemu dengan bukunya Prof Katili. Awalnya sulit banget membangun sebuah gambaran wilayah yang tergambar hanya fisiknya saja. Sempat mau KO deh. Padahal saat niat keluar dari IPB tahun 1989, masuk UI jurusann Geografi karena suka dengan jalan-jalan dan berbincang masalah sosial dari sisi fisik wilayah yang berbeda. Wah jangan kaget saat itu sudah mulai melihat perbedaan antar wilayah dengan kehidupan manusianya. Hehehehe

Akhirnya setelah sekian lama di Geografi UI jadi makin cinta melihat hubungan fisik wilayah dengan kondisi kemanusian. Ternyata Tuhan maha adil sekali. Banyak hal yang terlihat seperti oang-orang di pantai lebih keras dan berani, orang-orang di pedalaman lebih pemalu dan berkelompok. Perjalanan panjang selama kuliah melihat desa-desa dan wilayah-wilayah yang belum terjamah, termasuk pada saat tugas akhir di ujung Cilacap, sebuah desa di kecamatan Dayeuh Luhur,… hening dan sepi… Jam 16.00 sore sudah tidak ada aktivitas yang berarti. Judul tugas akhir saya saat itu adalah : Batas Suku Bangsa Jawa dan Sunda di Kabupaten Cilacap Bagian Barat.

Pembimbing tugas akhir Pak I Made Sandy (Almarhum) dan ibu Tuty Handayani, banyak yang saya dapatkan dalam bimbingan mereka. Jadi tidak kaget saat Sidang Sarjana tidak sampai 30 menit sudah diusir keluar ruang oleh Prof I Made Sandy. Fakta-fakta yangs saya sampaikan menjawab semua pertanyaan dalam skripsi tersebut.

Skripsi tersebut memperjelas, bahaw jalan dan sungai adalah faktor pembatas kesukuan di wilayah Cilacap, suku bangsa sunda lebih banyak yang berdiam di bukit-bukit atau pegunungan, suku bangsa Jawa di daerah dataran rendah, dan suku bangsa campuran dimana hamper semua orang bisa berbahasa Jawa atau pun bahasa Sunda terletak di dua lapis desa dari Jalan Utama.

Setelah sekian tahun mengajar di sekolah, bertemu dengan seorang teman diskusi yang amat menarik. Teman ini membagi wilayah pulau Jawa jika dibelah melintang, akan dibagi menjadi wilayah orang-orang pandai cerdas karena belajar dan bertemu orang asing wilayahnya tersebuar di seluruh pantai Utara Jawa, wilayah kedua adalah kekuasaan para pendekar silat atau orangorang yang mempuyai ilmu kanuragaan terletak di wilayah tengah Pulau Jawa yang terdiri dari perbukitan dan pegunungan, sementara wilayah ketiga adalah di selatan Pulau Jawa dimana banyak orang-orang yang mempunyai ilmu kesaktian kemistisan.

Sewaktu saya mendengarnya, saya senyum-senyum. Berusaha mengerti. Memang Utara pulau Jawa adalah wilayah yang termaju. Berhubungan dengan pelabuhan laut maka akan terbuka hubungan dengan bangsa lain yang lebih maju. Wilayah Pantura adalah dataran rendah yang subur, hasil kipas aluvial dari pegunungan di wilayah tengah. Wilayah tengah Pulau Jawa merupakan wilayah yang berbukit-bukit, pegunungan dan tentunya hutan belukar yang ganas. Wajar saja yang mampu hidup adalah para pendekar dan ahli-ahli beladiri atau pun para rampok. Kalau wilayah selatan yang merupakan wilayah lipatan yang jarang terbuka, terisolir dan kekuatan pantai yang langsung berhunungan dengan samudera menyebabkan pantainya terkenal dengan deburan ombak yang kuat. Terisolirnya wilayah tersebut sering membuat orang yang bermasalah melarikan diri keselatan. Berguru dalam tanda kutip juga diidentikan dengan wilayah selatan. Sebut saja wilayah Jampang Kulon, Surade, Pantai Selatan dan Cisolok. Kesaktian Nyi Loro Kidul demikian jauh melampaui wilayah selatan. Begitu juga dengan Pengonbatan Jampang dan Mak Erot, sudah sering diidentikan dengan mistis.

Alhasil ternyata kenampakan fisik juga bisa berhubungan erat dengan humaniora. Hehehhe,…. minimal menurut saya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | 8 jam lalu

Takut Pada Presiden Jokowi, Malaysia Bongkar …

Febrialdi | 8 jam lalu

Melihat dari Film II …

Nilam Sari Halimah | 8 jam lalu

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 8 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: