Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agil Khair

Islam, Indonesia, pendidikan, sejarah & Pers. Allahu akbar!!! Merdeka!!

Solusi Praktis Uji Keperawanan

OPINI | 22 August 2013 | 08:43 Dibaca: 122   Komentar: 0   1

Assalamualaiukum wr.wb

Perawan, kata kata sakral yang sering menunjukkan suatu keadaan dimana objek yang masih suci. Misalnya digunakan untuk menunjukkan seorang gadis yang belum dijamah oleh kaum Adam. Atau hutan yang belum dijamah manusia dengan kondisi yang masih asri. Bisa juga dianalogikan botol minuman yang segelnya belum rusak.

Baru-baru ini wacana yang cukup heboh muncul, ujian keperawanan bagi siswi putri saat akan mendaftar sekolah. Bagi saya yang perjaka tentu “asik-asik aje” ada wacana seperti itu. Tapi bagaimana dengan para calon ibu-ibu itu? Tentu saja wacana itu terdengar kurang ajar karena menyangkut harga diri. Ditolaknya mendapat hak pendidikan gara-gara gagal uji keperawanan dengan bebagai macam alasan.
Ada sedikit solusi dalam pikiran saya menyikapi tes keperawanan ini.
Bagaimana jika suatu saat mungkin muncul wacana baru jika para calon siswi yang tidak perawan tetap boleh sekolah dengan syarat membawa Surat Keterangan Sudah Tidak Perawan (SKSTP) atau Surat Pernah di Perkosa (SPdP). Apa jadinya kalau seperti ini?

Saya jadi ingat artis dangdut yang terkenal dengan panggilan Dewi Perssik. Mantan suami Saiful Jamil ini pernah beberapa kali menikah tapi masih perawan. Kok bisa ya? Hehee…
Ya tentu saja bisa lah, apa gunanya Fakultas Kedokteran jika cuma menjahit selaput dara tidak bisa. Dengan sedikit operasi kecil “bim Salabim adakadabra” jadi perawan lagi. Biaya modifikasi dan reparasi kelamin ini juga tidak semahal yang dibayangkan. Saya tidak tahu persis tapi pernah membaca suatu artikel hanya sekitar 2 juta. Jauh lebih murah dibanding pasien kecelakaan Lalu Lintas.

Ada solusi paling murah menghadapi uji keperawanan bagi siswi ini. Selipkan selembar kertas merah jambu bergambar Soekarno-Hatta tepat di saku baju petugas medis penguji keperawanan. Tak butuh waktu lama pasti hasil tes seperti yang diinginkan. Atau bahkan mungkin ini latarbelakang muncul wacana konyol bin tolol seperti ini.

Saya juga melihat peluang disaat seperti ini. Para calon dokter akan mendapat banyak kesempatan berkembang jika mereka mengambil spesialisasi kulit dan kelamin. Tentunya proyek tes keperawanan akan menguntungkan tenaga medis bidang kelamin.
Bagi saya pribadi keperawanan bukan hanya di kelamin tapi juga di akhlak, tingkah laku, perbuatan dan pikiran.

Wassalam…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Si Belang, Si Nenek, dan Barang Bekasnya …

Ulfah Fa'izah N... | 7 jam lalu

Tips Bepergian Backpacking …

Rizal Abdillah | 7 jam lalu

Saudis Gay “Luthiy” …

Ali Uunk | 7 jam lalu

Tangisnya Danum …

Hozrin Hilmo | 7 jam lalu

Project Sophia: Memutus Benang Konflik …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: