Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pubertas Dini

OPINI | 22 August 2013 | 12:54 Dibaca: 220   Komentar: 0   0

Ini hanya sebuah pengamatan saja berkenaan dengan masa kanak-kanak yang tampaknya akhir-akhir ini terasa sangat singkat seiring dengan perkembangan zaman (khususnya yang berkenaan dengan teknologi & industri). Sebuah fenomena yang menceritakan bahwa anak SD kehilangan sifat kekanakannya termakan psikologi dewasa yang melingkupinya yang merasuki dirinya lewat tontonan-tontonan yang dijadikan tuntunan. Adalah televisi dan internet yang menjadi salah satu biangkeroknya. Tidak perlu merujuk pada hasil penelitian lewat lembaga survey, kita baca saja apa yang terjadi dengan nasib anak-anak ingusan yang kini secara instan menjadi anak “kumisan”. Para pakar pendidikan sangat kewalahan menghadapi kenakalan remaja yang memang bibit-bibitnya telah tumbuh sebelum anak-anak itu puber secara jasmani. Tampaknya pendidikan dasar yang harusnya menjadi konsumsi mereka menjadi pendidikan nyasar karena salah orientasi. Kurikulum di sekolah-sekolah dibenahi tapi kiblat pendidikan yang sebenarnya sulit diterapkan. Tawuran masih menjadi hobi sebagai simbol jati diri remaja pemberani. Merokok adalah bukti kejantanan lelaki sejati (padahal impotensi akibat rokok adalah simbol ketidakjantanan hehehe…). Seks bebas adalah petualangan sepasang remaja penuh fantasi (di sebagian tempat umur 17 tahun belum pernah ML dianggap “ndeso”). Inilah potret pubertas dini (khususnya secara psikologi) yang dialami anak-anak zaman ini.

Secara jasmani, pubertas juga dialami anak-anak masa kini. Berdasarkan penelitian yang pernah saya baca anak-anak zaman ini 2 tahun lebih cepat dewasa dibanding anak-anak tahun 1970-an. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan pubertas dini di antaranya adalah kegemukan, penyimpangan hormon, racun akibat lingkungan, genetik dan penyakit. Perkembangan industri yang menghasilkan menu-menu berbahan kimia menjadi penghubung faktor-faktor itu semua. Belum juga lingkungan yang berpolusi dan pola hidup instan yang menyebabkan “malas gerak”. Tampaknya ketika semuanya sudah menjadi “racun” , pubertas dini akan dialami oleh anak-anak. Sedangkan orang dewasa apa yang terjadi ? Penuaan dini …

Tampaknya kalau pemerintah sedang membahas jumlah muatan materi di sekolah-sekolah yang nampaknya terlalu banyak dan terlalu membebani, maka bagi orang tua hendaklah menjaga anak-anaknya agar tidak mengalami “penuaan dini” dengan pendidikan yang tepat. Hendaklah orang tua menjaga asetnya dengan memberi makanan dan minuman yang halal bergizi, menanamkan pendidikan karakter yang kuat melalui doktrin-doktrin spiritual agar ke depannya memiliki dasar yang kuat dalam menyikapi lingkungan yang barangkali sangat buruk.

PR orang tua zaman ini semakin berat (bagi yang menyadarinya), melepas anaknya dari lingkungan seperti menceburkan mereka ke kandang buaya. PR para pemimpin sebetulnya juga lebih berat karena harus menanggung amanat akhlak bangsa yang nanti juga akan ditanyakan pertanggungjawabannya (selama ini materi demo adalah berkenaan dengan kesejahteraan guru, gaji buruh, sekolah gratis dan hal-hal lain yang bersifat ekonomis kuantitatif bukan kualitatif).

Nampaknya saya beruntung menjadi anak zaman dulu yang mainannya masih petak umpet, kelereng dan gatheng, belum tahu TV, game dan internet sehingga pubernya pas. Hasilnya adalah awet muda (sekedar ngrumongso hehe) tapi tantangan mendidik anak-anak di masa depan semakin berat dan penuh rintangan. Kedepannya saya hanya berharap bisa memberikan warisan-warisan terbaik bagi anak-anak bangsa, karena menurut saya warisan terbaik untuk anak-anak adalah apa yang ditanamkan dalam diri mereka bukan hanya apa yang ditinggalkan untuk mereka.  Semoga kita menjadi manusia yang tidak mengalami penuaan dini baik secara jasmani dan rohani.

Amin….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 9 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 10 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi-kursi Senayan… …

Florensius Marsudi | 8 jam lalu

Naik Transjakarta Rp 40 Ribu …

Aba Mardjani | 8 jam lalu

Memotivasi Mahasiswa untuk Belajar Lewat …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Patah …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: