Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sumbo Tinarbuko

dosen komunikasi visual isi yogyakarta | konsultan komunikasi visual | pemerhati budaya visual | penulis selengkapnya

Terjajah di Negara Merdeka

OPINI | 19 August 2013 | 07:33 Dibaca: 97   Komentar: 0   1

Oleh Sumbo Tinarbuko

terjajah di negara merdeka

Tujuh belas Agustus tahun empat lima/Itulah hari kemerdekaan kita/Hari merdeka nusa dan bangsa/Hari lahirnya bangsa Indonesia/Merdeka/Sekali merdeka tetap merdeka/Selama hayat masih di kandung badan/Kita tetap setia tetap setia/Mempertahankan Indonesia/Kita tetap setia tetap setia/Membela Negara kita/

Syair yang diberi judul ‘Hari Merdeka’ adalah anggitan H Mutahar. Seorang seniman besar yang karya ciptanya tidak lekang oleh zaman. Sayang anak-anak zaman mulai meninggalkan simbolisasi dan semangat yang dikobarkan H Mutahar.

Kesejahteraan Tidak  Merata

Selain ditinggalkan anak-anak zaman, simbolisasi dan semangat yang dikobarkan H Mutahar untuk senantiasa setia mempertahankan Indonesia, ternyata tidak banyak digubris penyelenggara Negara. Pemerintah, pejabat publik dan anggota dewan lebih suka membincangkan dan menggerakkan kehidupan politik praktis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Penyelenggara negara  terlihat enggan memikirkan nasib rakyatnya. Mereka setengah hati dalam menyejahterakan hidup dan kehidupan rakyatnya. Parahnya, mereka abai memberi perlindungan agar rakyat dapat terus hidup dan merdeka. Mereka membiarkan hidup dan kehidupan di negara ini dikuasai sekelompok elit politik dan segolongan orang berduit. Dampaknya,  garis kesejahteraan rakyat tidak  merata.

Dampak turunannya, pesimisme rakyat makin menderu saat pemerintah, pejabat publik, anggota dewan dan elit politik tidak menjalin hubungan kekeluargaan yang didasarkan pada semangat untuk melindungi dan melayani masyarakat berdasarkan asas komunikasi fungsional bukan komunikasi struktural. Dampak moral dan sosialnya, muncullah tragedi kekerasan, kejahatan dengan pemberatan dan ketegangan sosial di berbagai daerah.

Kenapa kekerasan sosial selalu muncul di depan mata rakyat Indonesia? Ditengarai karena pemerintah melakukan pembiaran atas tumbuh suburnya berbagai kekerasan okol (otot), terorisme, radikalisme, dan kriminalitas yang digerakkan orang-orang jahat di Indonesia. Sementara itu, kejahatan publik yang menjadi basis kekuatan kriminalitas dan radikalisme merebak akibat kekecewaan rakyat terkait dengan kehidupan sosial ekonomi yang timpang serta tidak berkeadilan sosial bagi masyarakat luas.

Masih Terjajah

Meski sudah memasuki momentum 68 tahun Indonesia merdeka, tetapi realitas sosialnya rakyat Indonesia semakin terjajah. Lihatlah misalnya, lidah sebagian rakyat Indonesia dikendalikan produk kuliner bercitarasa luar negeri. Adat istiadat dan kebudayaan asli digempur dan dipaksa untuk ditinggalkan hanya dengan alasan agar dianggap sebagai orang modern. Beragam sinetron, talkshow, dan pertunjukkan musik  hasil tiruan televisi asing, menyuburkan jejaring penjajah industri tontonan di negeri ini. Akibatnya, lahirlah budaya visual yang membelit rakyat Indonesia lewat program ideologi pembodohan yang secara sistematis dimasukkan ke dalam otak rakyat Indonesia. Rakyat pun selalu diposisikan sebagai bangsa konsumen yang ditaklukkan dengan ideologi budaya instan, gaya hidup modern berbasis budaya layar yang  konsumtif dan  hedonis.

Jika pemerintah, pejabat publik dan anggota dewan  tidak segera berbenah diri,  rakyat pun semakin bersedih. Ketika rakyat dirundung kesedihan permanen, maka kawula alit merasa hidup sendiri tanpa perlindungan dari pemerintah dalam melangsungkan hidup dan kehidupannya di bumi Indonesia ini. Jika hal itu terjadi, maka ketakutan masyarakat pun akan mewujud dalam sebuah mitos yang bertajuk belum merdeka di negara merdeka.

Wahai pejabat publik dan anggota dewan, rakyat menunggu janjimu sebagai pelayan masyarakat yang senantiasa melayani dan memayungi masyarakat dalam suka dan duka. Bukan sebagai penguasa yang menguasai rakyat. Kita memperingati hari merdeka, meski kita belum merasakan sebuah kemerdekaan di sebuah negara yang katanya sudah merdeka.

*) Sumbo Tinarbuko (www.sumbotinarbuko.com) adalah Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual ISI Yogyakarta. Twitter @sumbotinarbuko.  Artikel ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Senin Kliwon, 19 Agustus 2013.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 7 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 10 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 21 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 22 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: