Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dewa Gilang

Single Fighter!

Polemik Ustad Solmed Menurut Jalaludin Rakhmat

REP | 17 August 2013 | 14:01 Dibaca: 2451   Komentar: 28   9

Jalaludin Rakhmat atau Kang Jalal pernah menulis kolom berjudul “Mubaligh Pop” di majalah Ummat. Kang Jalal berteori, dulu di Indonesia, ulama adalah seorang sufi atau faqih. Sufi, menurut Kang Jalal, adalah ahli jalan ruhani, dan fakih adalah ahli hukum agama. Faqih memberikan bimbingan praktis tata cara hidup beragama, sedangkan sufi membimbing hati manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Belakangan, lanjut Kang Jalal, muncul kelompok modernis, yang menyerang otoritas ulama sufi dan faqih tadi. Mereka mengatakan, taklid atau mengikuti pendapat ulama tidak dianjurkan. Orang harus berijtihad atau mencari kebenaran agama langsung dari Alquran dan Hadis. Kelompok modernis ini selalu mengatakan bahwa setiap orang adalah “mubaligh”, da’i, dan harus menjadi “mubaligh”, da’i. Penyampai pesan agama, walau hanya satu ayat.

Kemudian, lama-kelamaan tawaran kaum modernis ini tidak memuaskan umat. Benturan nilai-nilai moral yang makin dahsyat di era global membuat masyarakat kembali rindu pada otoritas ulama tradisional sebagai pegangan.

Namun sayang, demikian Kang Jalal, yang muncul kemudian bukan ulama sufi atau faqih, melainkan “mubaligh Pop” alias “Ustad gaul”. Mubaligh Pop, tulis Kang Jalal, diciptakan oleh media. Mereka tidak tampil apa adanya, tetapi dalam citra-citra yang diciptakan oleh media. Dakwahnya diatur oleh efek suara, tata letak dan visual media. Kepandaiannya menghibur dan berakting lebih diutamakan ketimbang kedalaman ilmunya. Hubungannya dengan Jamaah layaknya hubungan artis dengan fans. Mereka dibayar mahal. Pakaian, kendaraan, dan rumahnya cenderung mewah.

Jika Kang Jalal mengistilahkannya dengan “Mubaligh Pop”, Mbah Ohim, sesepuh di kalangan santri, beda lagi. Mbah menyebut para Ustad itu dengan “selebriti”. Bagi Mbah, mereka bukan Ustad layaknya Ustad jaman Mbah ketika muda. Maka berceritalah Mbah tentang kedalaman ilmu Mama Gentur di Cianjur, keluhuran akhlak Uwa Ajengan Khair di Tasikmalaya, dan kesederhanaan hidup Seorang Kiai di Ciwaringin, Cirebon.

Menurut Mbah, Kiai itu gelar paling mahal. Tidak bisa dituntut oleh pendidikan tinggi manapun jua. Meskipun “nyantri” belasan tahun, fasih berbahasa Arab, berjubah, dan kuliah agama hingga Luar negeri, maka seseorang belum bisa disebut sebagai Kiai. Gelar Kiai, bagi Mbah, adalah gelar “Tuhan”. Tuhan yang langsung melantiknya melalui pengakuan masyarakat terhadap kedalaman ilmu serta keluhuran akhlak orang itu.

Sehingga Mbah hanya bisa termangu-mangu ketika menyaksikan ada acara pemilihan da’i di stasiun televisi, yang divote melalui SMS. Dengan sinis Mbah menyebutnya dengan “Ustad SMS”, “da’i selebritis”.

Baik Kang Jalal atau Mbah Ohim ada benarnya. Kang Jalal benar ketika menyatakan bahwa mereka diciptakan oleh media. Media-lah yang menasbihkan mereka sebagai “Ustad”, dan bukan masyarakat. Sehingga tidak usah heran jika sebagian masyarakat terkesan meremehkan kehadiran mereka. Perlahan-lahan unsur “entertaiment” menggeser informasi. Tujuan utamanya ialah bagaimana menghibur pendengar, bukan lagi bagaimana memberi kesadaran. Dengan demikian, kemampuan akting menggantikan kemampuan mengucapkan Alquran dan Hadis dengan fasih.

Bagi Kang Jalal, Mubaligh Pop tidak sama dengan kebanyakan kita. Mereka hidup dalam dunia mimpi kita. Mereka terkenal, kaya-raya, dan berdiri di tengah-tengah orang-orang yang cantik jelita. Buat media massa, Mubaligh Pop adalah pembuat berita. Kehidupan pribadinya menjadi sorotan. Hidung media massa masuk sampai ke dapur dan kamar tidurnya. Semua itu demi memuaskan para fans-nya.

Lalu salahkah para “Mubaligh Pop” itu? Belum tentu. Sebab, mereka ada karena kita memang menyukainya. Bagaikan hukum dagang, selagi ada permintaan maka di situ selalu ada barang. Mubaligh Pop senantiasa ada karena masyarakat kita memang meminta kehadirannya.

Berangkat dari Kang Jalal-lah kita seyogyanya memandang kasus yang tengah membelit Ustad Solmed. Media massa turut “membesarkan” nama Ustad Solmed. Sosoknya juga kerap menghiasi layar kaca yang menyayangkan infotaiment, berbanding dengan gosip para selebritis. Dan senantiasa akan terus begitu selagi masih ada permintaan. Selagi masyarakat masih menggemarinya, maka selama itu pula kita akan menyaksikan perseteruan antara Ustad dengan para fans-nya.

Gitu aja koq repot!

Ditulis sebagai tanggapan atas polemik Ustad Solmed.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 7 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 7 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 8 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: