Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ida Raihan

Seseorang yang sedang belajar melangkah, memaknai hidup. Sempat menulis di beberapa buku Antology keroyokan, duet dalam selengkapnya

Menanggapi Perseteruan Ustadz Solmed dan Organisasi Muslim Hong Kong

REP | 15 August 2013 | 12:00 Dibaca: 16325   Komentar: 156   50

Selasa, 13 Agustus 2013 lalu, saat saya tengah berkunjung ke rumah salah seorang sahabat di daerah Gandaria, Teve di rumah sahabat tersebut sedang menanyangkan sebuah berita yang menarik perhatian saya. Seorang ustadz muda yang wajahnya sudah sering nongol di Teve (katanya - karena saya sendiri belum pernah menyaksikan ceramahnya di Teve) seperti sedang mengklarifikasi sesuatu. Saya yang tak pernah tertarik dengan gosip-gosip artis ataupun Ustadz-Ustadz muda jaman kini, tiba-tiba merasa tertarik untuk menyimak. Semua karena berhubungan dengan Hong Kong.

Saya langsung mencari tahu, bagaimana kronologinya. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi.

Berita yang saya dapat dari sisi organisasi Hong Kong, Thariqul Jannah, yang berencana mengundang Ustadz Solmed untuk mengisi pengajian di Sheung Wan – Hong Kong, pada 15 September nanti, akhirnya memutuskan untuk membatalkan undangannya. Itu mereka lakukan karena Ustadz Solmed memiliki banyak permintaan. Dari minta penginapan yang mewah, tiket PP Jakarta – Hong Kong untuk empat orang, sampai meminta bagian dari uang penjualan tiket dan infak.

Sementara yang saya tangkap dari pemberitaan dan keterangan Ustadz di televisi, sangat bertentangan dengan pihak organisasi Hong Kong. Ustadz Solmed merasa telah melakukan yang benar karena menolak untuk mengisi dakwah di Hong Kong jika para pelaksana pengajiannya tetap mematok tarif untuk setiap peserta yang datang. Sementara pelaksana di Hong Kong menuduh Ustad Solmed telah menyalahi janji untuk datang ke Hong Kong.

Dalam pernyataannya kemarin juga, Ustadz Solmed berkata, bahwa beliau melakukan pembatalan itu karena tidak mau dakwahnya dimanfaatkan sebagai ajang bisnis oleh organisasi yang mengundangnya. Sebagai warga yang pernah tinggal dan berorganisasi di Hong Kong, maka saya jmerasa tersentil, dan tergelitik untuk ikut menanggapi perkataan beliau ini.

Ustadz Solmed SALAH BESAR jika mengatakan penarikan biaya yang berkisar antara HKD $ 20 – HKD $ 100 ini, adalah bisnis. Saya tahu betul pemanfaatan uang yang terkumpul dari hasil penjualan tiket pengajian tersebut. Tak sepeserpun uang-uang tersebut masuk ke dalam kantong para BMI yang mengadakan kegiatan. Mereka melakukan itu, karena untuk mengadakan pengajian besar dengan mendatangkan Ustadz dari luar negeri tentulah membutuhkan biaya yang sangat besar.

Untuk biaya gedung saja terkadang bisa mecapai, HKD $ 25.000 (tergantung gedung mana). Tiket Pulang-Pergi Ustadz sendiri bisa mencapai HKD $ 5.000. Untuk biaya makan dan tinggal di selama di Hong Kong. Belum lagi jika si Ustadz ingin mengunjungi tempat-tempat tertentu Seperti Salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia, Patung Buddha, Patung Lilin dan lain-lain. Besarnya biaya bisa melebihi HKD $ 50.000 (Setara Rp 60.000.000-an). Biaya sebegitu besar, bisa didapat dari mana jika tidak diangkat secara gotong royong dengan para jamaah yang hadir? Sedangkan uang dari sponsor, seperti yang diungkapkan Ustadz Solmed sebagai dana transportasi kemarin, tidaklah mungkin akan mampu menutupi semua biaya itu. Paling besar dana yang didapat dari sponsor tidak melebihi HKD $ 10.000! Itupun sudah gabungan dari puluhan sponsor.

Jika pada pengajian tersebut menyisakan dana setelah pemotongan pembiayaan semua administrasi, uang tetap tidak akan pernah menjadi bagian para penyelenggara.

Para Muslimah di Hong Kong yang notabenenya adalah Pekerja Rumah Tangga, juga sangat faham hak dan kewajiban. Mereka tidak buta ilmu pengetahuan tentang agama. Sebagian dari organisasi di Hong Kong memiliki Yayasan di Indonesia. Entah itu Yayasan Yatim Piatu, Badan Zakat, atau pemberdayaan Ummat. Dan bagi yang belum memiliki yayasan sendiri, mereka menjadi donator tetap beberapa Yayasan sekaligus setiap bulannya.

Sebagai salah satu anggota Organisasi Majelis Muslimah Meifoo Hong Kong, dan juga Forum Lingkar Pena Hong Kong, saya dan ratusan anggota lainnya sudah tahu harus dikemanakan uang-uang tersebut. Tidak lain untuk menyumbang sebagian masyarakat kita di Indonesia. Ini adalah cara efektif untuk menggalang dana guna membantu saudara-saudara kita di tanah air.

JADI SALAH BESAR JIKA PUNYAI PIKIRAN BAHWA PENGAJIAN DI HONG KONG ADALAH LADANG BISNIS PARA MUSLIM/MUSLIMAH DI SANA!

Ida Raihan

Kramat Jati, Kamis, 15 Agustus 2013 (Dzuhur Time, 11:58)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 12 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: