Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Somboy

UNCONDITIONAL LOVE

Semudah Tidak Memakan Babi

OPINI | 06 August 2013 | 22:44 Dibaca: 232   Komentar: 2   1

Bulan Ramadhan sudah hampir selesai dan sebentar lagi akan Idul Fitri, maka saya ucapkan selamat mempersiapkan memasuki bulan baru dengan ke-fitrian bagi saudara-saudarku umat muslim.

Jikalau selama 1 bulan ini banyak hal-hal rohani yang semakin dilaksanakan dengan khusyuk maka saya berharap meskipun ramadhan segera berakhir, tidak mengurangi kehidupan kerohanian saudara-saudaraku menghadapi kehidupan setelah ramadhan.

Saya berharap semua dosa yang lalu tidak lagi dilakukan dan kedepannya menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi demi mencapai masyarakat yang lebih bermartabat dan bebas dari banyak masalah perilaku yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan.

Satu hal yang bisa menjadi pesan dan doa saya, walaupun filosofi ini berlaku ke semua umat beragama namun karena ini momennya sedang ramadhan umat muslim maka tulisan ini semoga di responi dengan simpel saja yaitu tentang haram hukumnya memakan Babi, kiranya dapat dilakukan juga kepada hukum-hukum larangan lainnya seperti korupsi, kolusi, anarkis dan lain-lainnya.

Saya yakin, jika larangan tindakan haram lainnya yang Tuhan peringatkan kepada kita jika kita menanggapinya sama dan sebangun responnyaseperti peringatan larangan memakan babi, maka akan lebih mudah untuk menjauhinya bukan?

Karena saya sangat-sangat meyakini bahwa hampir semua saudara-saudaraku Muslim tidak ada yang pernah makan babi bukan? Saya sedang membayangkan betapa akan adanya perubahan yang cukup besar di Bangsa Indonesia ini juga jika semua umat muslim tidak ada yang korupsi lagi, karena semuanya menganggap akan sangat hinanya korupsi dan itu sama saja dengan makan Babi yang jelas-jelas haram. Bukan karena umat lainnya tidak ada seperti itu, tetapi karena jumlah penduduk yang besar ini maka pengaruhnya akan sangat besar (itulah harapan saya); yach walaupun kenyataanya banyak menunjukkan kalau kuantitas memang tidaklah menjamin kualitas, namun jika kuantitas diikuti dengan kualitas, maka bukankah itu suatu berkah yang luar biasa bagi bangsa ini!

Just make it simple.

The things people do to each other, we remember.

If we stay together, it’s not because we forget, it’s because we fogive.

MINAL AIDZIN WALLFAIDZIN

1434 H

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: