Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ivanho

wong cilik yang hanya ingin negeri ini menjadi lebih baik

Haram? Jangan Hanya Solaria, Dong ….

OPINI | 03 August 2013 | 09:29 Dibaca: 7020   Komentar: 13   0

Solaria, sebuah restoran ternama yg sudah mewabah di banyak mall, sedang menjadi sorotan publik. Pasalnya, restoran ini dicurigai menggunakan bahan atau proses produksi yang tidak halal, alias HARAM. Kecurigaan publik pun makin menguat ketika MUI menyatakan bahwa Solaria belum mempunyai sertifikat halal sebagaimana diberitakan Kompas.com (1-8-2013).

Informasi ini -dari kacamata muslim- merupakan angin segar untuk kembali membangun kesadaran publik terhadap produk makanan halal. Sebenarnya kalau mau jujur, tidak hanya Solaria yg tidak memiliki sertifikat halal, tapi banyak. Lihat saja tulisan saya sebelumnya “susahnya mencari makanan halal di Jakarta”.

Lalu, kenapa hanya Solaria? Bukankah tidak fair ketika hanya Solaria yg dimunculkan ke permukaan ketika banyak restoran lain yg (juga) tidak memiliki sertifikat halal!

Bagi umat Islam, produk makanan halal sebenarnya sesuatu yg sangat sensitif dan tidak bisa di tawar. Masih ingat, ketika MUI mengeluarkan fatwa di awal tahun 2000an bahwa Ajinomoto haram karena “tercampur” lemak babi?! Akibat dari pengharaman itu, pabrik Ajinomoto di Mojokerto ditutup (disegel). Sekitar 4000 buruhnya diliburkan. Ribuan produk Ajinomoto ditarik dari pasaran, dengan kompensasi Ajinomoto harus membayar kerugian hingga 55 miliar rupiah. Serta sederet kerugian materiil dan im-materiil lainnya akibat dari vonis haram tersebut (baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Ajinomoto).

Ancaman kerugian yg akan diderita oleh Solaria akibat dari vonis haram, sangat mungkin terjadi. Tak heran kalau manajemen Solaria kemudian bergegas mengeluarkan pernyataan resmi akan segera memproses sertifikat halal tersebut. Bagaimana dengan yang lain? Apakah ini akan berimbas pada restoran yang lain? …. Jawabannya : belum tentu.

Inilah uniknya bangsa ini. Di satu sisi sangat mudah menjauhi produk yg sudah jelas “tervonis” haram, tapi di sisi lain tidak peduli ketika produk tersebut belum jelas kehalalannya. Ketika Solaria ter-image haram, konsumen Indonesia akan dengan mudah menjauhinya. Tapi ketika sebuah restoran belum memiliki sertifikat halal, konsumen Indonesia umumnya tidak peduli.

Kepedulian itu yg mestinya harus ditumbuhkan. Jangan hanya Solaria dong yg dituntut untuk melengkapi sertifikat halal. Restoran lain pun masih banyak kok yg tidak bersertifikat halal. Artinya, masih belum jelas halal dan haramnya.

Apa yg terjadi dengan Solaria diharapkan menjadi momentum penting yg membuka mata kita semua. Bahwa sertifikat halal haruslah menjadi pertimbangan kita sebagai muslim ketika memutuskan untuk bertandang ke sebuah restoran. Kalau konsumen seperti kita sama-sama peduli mengenai pentingnya sertifikat halal, maka otomatis para pengusaha restoranpun akan peduli untuk mengurus sertifikat tersebut.

Sedangkan di sisi lain, negara dan MUI juga semestinya melakukan berbagai terobosan untuk mendorong restoran-restoran itu agar mengurus sertifkat halalnya. Mungkin bisa dengan memasukkannya dalam prosedur pengurusan ijin, misalnya. Kalau hal ini dianggap terlalu mencampuri kebebasan pasar, bisa juga dilakukan dengan penempelan stiker warna merah yg bertuliskan “Belum Memiliki Sertifikat Halal”. Jadi yang baca stiker ini jadi lebih peduli, kalau produk restoran tersebut tidak jelas kehalalannya. (flb)

Note : “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 173)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: