Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Riri Satria

Founder and CEO pada Value Alignment Advisory (VA2) sebuah lembaga konsultan dan riset bidang manajemen selengkapnya

Arogan…

OPINI | 02 August 2013 | 13:27 Dibaca: 97   Komentar: 2   1

Seorang sahabat yang kebetulan ahli sosiologi pernah menuturkan kepada saya beberapa tahun yang lalu bahwa syukurlah bahwa bangsa kita ini tidak menguasai teknologi tinggi dan tidak memiliki persenjataan yang unggul. Loh mengapa? Dia melanjutkan, karena bisa-bisa kita jadi bangsa yang arogan! Saya menimpali bahwa bukankah kita terkenal dengan bangsa yang ramah-tamah? Dia lalu menjelaskan, mungkin dulu iya, tetapi arogansi itu semakin lama semakin meluas, masih berstatus negara berkembang saja sudah arogan, apalagi kalau sudah menjadi negara maju?

Apakah itu arogan? Nah, susah untuk mendefinisikan secara pas, karena ada unsur budaya dan kebiasaan suatu masyarakat di sana. Secara ringkas, mungkin definisinya adalah suatu sikap yang melanggar hukum atau menyakiti orang lain, tetapi tidak mau mengakui bahkan jika diingatkan, dia semakin menjadi-jadi. Kalau melanggar hukum, itu jelas kriterianya. Tetapi kalau menyakiti orang lain, ini tentu sangat subyektif dan tergantung kepada budaya atau kebiasaan masyarakat, bahkan orang per orang.

Kembali saya teringat penuturan sang sahabat itu. Kalau kita mengemudi mobil di lalu lintas di berbagai kota di Indonesia, nuansa arogan itu sangat terlihat. Mulai dari rakyat kecil seperti angkutan kota, mikrolet, dan buskota yang seenaknya saja di jalan raya, tidak peduli membahayakan penumpang dan pengguna jalan raya yang lain, kemudian sepeda motor yang merasa sebagai pemilik jalan raya, ketika menyerempet mobil orang lain, dia jauh lebih galak dan main keroyokan atas nama solidaritas sesama bikers, tidak mau disiplin berhenti di lampu merah, sampai dengan mobil-mobil mewah pejabat tinggi atau motor gede milik orang-orang kaya yang merasa jalan raya itu adalah miliknya dan yang lain hanyalah numpang lewat. Lengkaplah jiwa arogan itu di jalan raya, mulai dari strata sosial yang rendah sampai yang tinggi. Mulai dari pengemudi angkutan umum sampai kepada aparat polisi dan militer serta pejabat tinggi negara.

Tetapi tentu tidak smeua begitu. Masih banyak para pengguna lalu lintas yang sangat patuh, tetapi jumlah mereka secara persentasi mungkin kecil (ini hanya dugaan semata, perlu penelitia lebih lanjut sih). Saya kenal beberapa petinggi TNI dan Polri yang sangat sopan di jalan raya, begitu juga dengan pehobbi motor gede yang jauh dari sikap arogan di jalan raya. Ya, memang tidak semua arogan. Tetapi saya ingin menggarisbawahi sinyalemen sahabat saya yang ahli sosiologi itu mengenai jiwa arogransi yang mulai mengkhawatirkan di negara ini.

Nah, jiwa arogan ini juga mulai memasuki kampus. Saya juga menemukan beberapa dosen yang arogan di beberapa kampus. Si dosen sering memberikan nilai yang rendah, dan jika ada mahasiswa yang mempertanyakan justru menjawab bahwa kalau dia mamu memberi nilai rendah, mahasiswa mau apa? Itu hak dia sebagai dosen! … Gawat bukan? Dunia akademik yang sejatinya penuh dengan penalaran dan argumen yang logis, ternyata juga mulai dimasuki bibit-bibit arogan. Walaupun mungkin hanya segelintir dosen yang seperti ini, tetapi bayangkan dampaknya kepada para mahasiswa jika dalam institusi yang menjalankan pendidikan juga sudah dimasuki jiwa arogan.

Saya juga teringat seorang guru sewaktu saya SMP dulu di Padang, di mana dia menghukum keras jika ada siswa yang ketahuan merokok di sekitar sekolah, tetapi dia sendiri dengan santai merokok di dalam lingkungan sekolah bahkan di depan siswa. Dalihnya sederhana saja, aturan itu hanya untuk siswa, bukan untuk guru! .. Hebat bukan? Pesan apakah yang ingin dia sampaikan kepada para siswa berkaitan dengan hal ini? Jangan salahkan pembelajaran yang diperoleh siswa adalah bibit-bibit jiwa arogan.

Kembali saya teringat kata-kata si sahabat saya itu, si sosiolog. Menurut dia, potensi jadi arogan itu ada di setiap diri manusia … mmm menarik! .. Artinya, setiap kita ini punya potensi untuk jadi arogan, dan jiwa arogan itu adalah kelanjutan dari ketidakmampuan mengendalikan ego atau membiar ego menguasai diri secara berlebihan. Jika ini yang terjadi, maka potensi arogan pada diri itu menjadi berkembang dan menjadi perilaku sehari-hari.

Apakah yang memicunya? Pertama, tentu saja kekurangan akan ajaran budi pekerti, spiritual, serta ajaran agama yang mampu menundukkan ego. Mungkin dia belajar semua itu, tetapi gagal terinternalisasi ke dalam dirinya, dan akhirnya gagal untuk mewarnai perilaku dirinya. Kedua, ini yang berbahaya, dia memang mendapatkan contoh tentang aroganisme dalam kesehariannya, apalagi sejak kecil. Bayangkan apa yang akan terjadi kepada jiwa seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan jiwa arogan dan menganggap melanggar aturan itu adalah hal yang biasa dan lumrah? Kedua itu adalah penyebab utama, yaitu berasal dari diri sendiri.

Ada penyebab lainnya, tetapi bukanlah penyebab utama, melainkan sesuatu yang sifatnya katalis, yaitu mempercepat terbentuknya jiwa arogan, yaitu lemahnya law enforcement oleh aparat penegak hukum terhadap para pelanggar ketertiban, sehingga pembiaran ini lama-lama dianggap sebagai pembenaran.

Well, semoga kita semua dijauhkan dari segala sikap arogan, dan semoga bangsa ini tidak tumbuh menjadi bangsa yang arogan, tetap menjadi bangsa yang ramah-tamah seperti yang didengung-dengungkan selama ini. Amin.

Salam
Riri

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi ala Kaki Lima …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 11 jam lalu

Gagal Paham (Pejabat) Kemendikbud dalam PR …

Antowi | 12 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ka eM Pe …

Pak De Sakimun | 7 jam lalu

Hubungan Asmaraku dengan Ibu Kost (Bagian 6) …

Ervipi | 7 jam lalu

Life Begins at Forty …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Sore yang Cantik di Pelabuhan Kuno Gresik …

Mawan Sidarta | 7 jam lalu

Tak Ada Tulang Rusuk yang Tertukar …

Siti Nur Rohmah | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: