Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahmad Baihaqi

Tulisan adalah goresan titik pada mangkuk huruf NUN. Berlayarlah dg mangkuk itu...

Tahukah Kamu, Apakah Malam Qadar itu?

OPINI | 30 July 2013 | 10:14 Dibaca: 164   Komentar: 5   2

Bentuk kalimat tanya pada judul di atas adalah penggalan dari salah satu firman Allah swt yang tertulis dalam surat al-Qadr, tepatnya di ayat kedua. Bunyi lengkap surat tersebut sebagai berikut :

1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam qadar; 2) dan tahukah kamu, apakah malam qadar itu?; 3) malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan; 4) pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan; 5) dialah keselamatan hingga di tempat terbitnya fajar.

Berikut adalah tanda-tanda malam Qadar, sebagaimana disimpulkan di dalam kitab-kitab klasik sesuai hadits Rasulullah SAW.

1. Udara dan suasana pagi yang tenang, sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

2. Cahaya matahari lemah, cerah tapi tak bersinar kuat keesokan harinya. Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Keesokan hari malam lailatul qadar adalah matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim).

3. Terkadang terbawa ke dalam mimpi. Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum tentang malam lailatul qadar ini.

4. Bulan nampak separuh bulatan. Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata, “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim).

5. Malam akan terasa terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan). Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

6. Malaikat menurunkan ketenangan pada malam ini. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

7. Muncul pada hari-hari ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sabda Rasulullah : “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. “ (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Begitu indah, mempesona dan mengagumkan ilustrasi dalil tentang malam qadar itu. Semuanya (seolah) menitikberatkan pada penampakan-penampakan inderawi yang hanya memunculkan decak kagum dan keterpesonaan.

Hmmm…., apa iya begitu? Kalau iya, lalu setelah itu apa? Adakah merasakan perubahan diri ke arah yang lebih positif? Tiba-tiba dada terasa lapang, begitu? Atau, apakah setelah itu muncul dorongan kuat seperti rasa empati dan sifat welas asih gitu? Atau barangkali tiba-tiba muncul dari dalam diri kita sikap ekstrimisme, sehingga rasanya kepingin kita obrak-abrik tempat-tempat maksiat dan kita bunuh semua para pendosa, begitu? Atau, apa mungkin setelah ketemu malam qadar itu, kepingin kita selesaikan saja hidup diri kita di dunia ini dengan “jihad” bom bunuh diri misalnya? Heheheeee….. ada gak sih manfaat langsungnya bagi diri kita sekarang?

Allah swt sudah tegaskan, tidak ada yang Dia turunkan atau ciptakan itu sia-sia “…maa khalaqa haadzaa baathilaa…”. Termasuk malam qadar ini, semuanya pasti ada manfaat langsung buat diri sendiri, lingkungan masyarakat dan alam semesta. Nah, pertanyaannya, tanda-tanda malam qadar sebagaimana tersebut di atas itu apakah merupakan sebab sehingga seseorang harus mencari atau mengintip-ngintip malam qadar? Ataukah barangkali ia sebuah akibat langsung yang muncul dari seseorang yang bertemu malam qadar?

Maksud saya begini ya saaay…., keadaan alam semesta sebagaimana tersebut di atas itu haruskah kita tunggu-tunggu, kita cari-cari, dan kita intip-intip, sehingga ketika terlihat keadaan alam seperti itu (menurut persepsi kita) dikatakan kita telah bertemu dengan malam qadar ? Heheheeee….. (tungguin deh tuh, plototin teruss sambil mangap).

Kadang-kadang persepsi kita terhadap suatu istilah agama, seperti “laylatul qadr” misalnya, justru membuat kita mengobyektifikasinya sehingga tak ada hubungannya dengan keadaan diri kita sebagai subyek beragama. Agama itu harus menjadi subyek dan jangan diobyektifikasi. Kalaupun menjadi obyek, katakanlah itu sebagai pembuka khazanah yang bisa mendorong subyek (para penganut agama) supaya lebih menghayati dan mencerap teks-teks agama sehingga memicu perubahan diri menjadi lebih baik. Tetapi, jika teks-teks dan istilah-istilah agama itu hanya sekedar diobyektifikasi, maka justru membuat diri ini kita semakin keluar dari agama. Nah lho!!!

Oke, apa sih malam qadar itu?

Qadar itu artinya kuasa, ukuran, kadar, nilai, potensi, fitrah, bakat. (are you get it?). Jika digandeng dengan “laylatun” menjadi “laylatul qadr”, maka “qadr” itu menjadi kata sifat yang menyifati “laylatun”. Dalam gramatika bahasa Arab disebut dengan “mudhaf-mudhaf ilaiyhi”. Jadi, “laylatun” yang padanan Indonesianya itu adalah “malam” disifati oleh kekuasaan, ukuran, kadar, dll. Bahasa singkatnya dapat diterjemahkan sebagai, malam kadar, malam kuasa, malam ukuran, malam nilai, dll.

Nah, jika malam qadar itu ditujukan untuk meng-alegori diri manusia, maka malam qadar itu harus diterjemahkan sebagai makna untuk menjelaskan tentang manusia. Artinya, penyebutan malam qadar itu merupakan personifikasi dari nilai dasar yang dimiliki manusia. Berapa sih nilai dasarnya? Atau, berapa sih fitrahnya?

Coba deh, dikupas pelan-pelan (kaya ngupas bawang, gitu…). Bahwa penyebutan “malam” itu merujuk kepada makna bahwa manusia ketika brojol (lahir) ke dunia fana ini sungguh telah tertutup matanya dari pandangan-pandangan “langit”. Kesaksiannya terhadap Tuhan terhijab (tertutup) oleh pandangan mata dunia (lahiriyah/inderawi). Karena itu, ia disebut malam, gelap. Akan tetapi, meskipun gelap, dirinya itu tidak kemana-mana dan tidak di mana-mana, ia tetap berada pada wilayah “ke-Tuhan-an”. Dirinya tetaplah terjerat dan terikat pada hukum-hukum Tuhan meskipun tidak disaksikannya. Hukum Tuhan tetap menjerat kemanapun dirinya pergi dan dimanapun dirinya berada. Jadi, kemana-mana tapi sebenarnya tidak kemana-mana (hehehee…, lieur-lieur dah).

Namun demikian, sebelum manusia brojol ke dunia fana nan kejam ini, ia ditanya oleh Tuhan tentang sebuah kesaksianNya; “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”. Lalu si manusia menjawab; “Ya, kami telah menyaksikan”. (Mengapa pertanyaan itu tertuju pada “kalian”? Untuk penjelasan ini, silahkan baca artikel saya yang berjudul amanah keabadian atau di sini). Nah, pertanyaan Tuhan tentang sebuah kesaksian itulah yang disebut alam terang atau alam siang. Begitu brojol, saat itulah manusia memasuki alam gelap, atau alam malam.

Pertanyaan Tuhan terhadap manusia ketika di alam terang adalah sebuah pernyataan tentang kadar, nilai, potensi atau bakat si manusia yang bakal dia bawa ketika memasuki alam gelap (malam). Pertanyaan Tuhan itu menunjukkan seberapa terang kesaksiannya terhadap Tuhan. Apakah “sangat terang” (1), “terang sekali” (2), “terang saja” (3), “kurang terang” (4), atau mungkin “remeng-remeng” (5). Angka (1), (2), (3), (4), dan (5) itu adalah nilai atau ketetapan kadar (hanya ilustrasi saja). Karena itulah, begitu ia brojol ke dunia fana nan gelap ini, dikatakan ia telah ber-kadar atau bernilai di dalam kegelapan. Disebut juga “laylatul qadar” (kegelapan bernilai). Are you get it?

Nah, brojolnya manusia di alam kegelapan ini telah ditetapkan membawa jeratan mekanisme hukum Tuhan yang disesuaikan dengan kadar atau nilainya. Semakin hari, si bayi ini semakin tumbuh dewasa. Seiring waktu pertumbuhannya, si manusia itu telah melakukan banyak perbuatan yang pada akhirnya ia benar-benar lupa akan nilai dan kadar awal yang ditetapkan oleh Tuhan. Lupa akan kadarnya, artinya ia lupa akan Tuhannya.

Namun demikian, Tuhan memberikan permaklumannya. Bahwa setiap tahun, manusia diberikan kesempatan untuk meningkatkan kadar kesaksiannya kepada Tuhan. Peningkatan kadar kesaksian itu bisa dicapai oleh manusia dengan syarat si manusia harus mengetahui dulu berapa kadarnya yang dinyatakan oleh Tuhan di awal alam terangnya dahulu kala, sebelum ia brojol ke dunia fana ini. Duh, duh, duh, sungguh sedih, ternyata si manusia telah banyak lupanya. Kadar kesaksian Tuhan yang diberikan dahulu kala tak banyak dia ingat. Ia tinggalkan dirinya yang telah dinilai Tuhan. Lupa diri dan tak tau diri. Mengembara di alam kegelapan tapi tak mengerti bahwa dirinya membawa nilai kesaksian Tuhan. Dirinya tak mengerti telah membawa jeratan-jeratan hukum Tuhan yang mesti ia taati. Walhasil, si manusia “fitri nan asli” telah ditinggal pergi jauh sekali oleh si manusia “palsu”. Si manusia “palsu” tak mau diajak kembali ke manusia “fitri”. Ia telah lari dari “khitthah” kejadiannya. Sungguh malang nasibmu nak…..

Sejauh ini, malam qadar adalah sebuah pendadaran ruhani yang menetapkan nilai berkelanjutan bagi manusia. Ia dituntut untuk selalu memalingkan pandangannya dari kepalsuan dan mengarahkannya kepada Tuhan. Apapun dan bagaimanapun keadaannya. Berapapun harta yang dimilikinya dan setinggi manapun status sosialnya.

Malam qadar adalah malam kesadaran yang membuka secara sistematis tirai-tirai kegaiban dirinya terhadap Tuhan. Sebuah malam “khazanah” yang menempel di tiang ‘arsy, memberikan kekokohan dan keteguhan dalam laku dan polah. Ia diperlihatkan tentang sebuah rahasia dari “kerajaan alam semesta” sehingga segala sesuatu nampak sebagai ruhani. Langit, bumi, angin, pepohonan, air mengalir, dan seluruh alam semesta disaksikan sebagai ruhani. Karena itu, pancaran pandangannya adalah kedamaian dan keselarasan. Ia ridha terhadap takdir yang telah di tetapkan bersama hukum yang telah dibawa oleh dirinya.

Sebuah pengakuan di alam kegelapan yang mencitrakan pancaran cahaya sehingga alam ini menjadi terang. Bahasa alam semesta menjadi ritme yang membuat dirinya “berdendang” bersama. Sebuah kegelapan yang pada akhirnya diliputi cahaya, karena dirinya telah berada dalam keadaan ekstase, si “palsu” telah lebur dan menyatu kepad si “asli”. Karenanya, ia tidak lagi palsu. Dirinya telah kembali, seperti dulu, sewaktu pertama kali ia baru saja dilahirkan. Amboi, begitu indahnya….(lanjutken sendiri deh…)

Wallahu a’lam, wahuwa muwaffiq ilaa sabiilittaufiiq wahuwal Lathiiful Khabiir…

alHajj Ahmad Baihaqi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 14 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 17 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 17 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Jokowi …

Jamaluddin Mohammad | 10 jam lalu

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 15 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 15 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 15 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: