Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Eka Wahyuni

seorang ibu rumahtangga dengan 2 anak, hobi membaca dan memasak, serta berprofesi sebagai dokter umum

Kuatkan Persatuan dan Kekompakan Dengan Gobak Sodor

REP | 30 July 2013 | 20:45 Dibaca: 60   Komentar: 4   1

Gobak sodor, permainan tradisional tempo dulu, merupakan jenis permainan anak-anak yang kerap dimainkan oleh anak-anak Indonesia terutama pada malam hari sewaktu bulan purnama. laki-laki perempuan semua bisa mengikuti permainan ini. Permainan ini meriah sebagai bentuk perayaan bulan purnama dimana sinarnya menerangi bumi Indonesia seperti di siang hari. Dulu memang belum ada listrik masuk. Sehingga satu hal yang sangat istimewa bila bulan sedang purnama. Permainan gobak sodor ini diramaikan anak-anak sekitar jam 19.00-21.00. Waktu ini disesuaikan dengan jam belajar yang sudah selesai dan jam tidur mereka selanjutnya. Hampir seluruh penduduk desa keluar rumah hanya untuk sekedar menikmati terangnya sinar bulan purnama yang dulu terasa lebih indah. Gobak sodor dimainkan dengan cara berkelompok. 10 orang dibagi menjadi 2 kelompok. pembagian kelompok harus secara adil. Ada laki-laki ada perempuan. Ada anak yang umurnya masih muda ada yang sudah senior. Semua dibagi rata. kemduian terbentuklah 2 kelompok, satu kelompok penyerang, satu kelompok bertahan. Kemudian untuk menentukan kelompok mana dulu yang main digunakan teknik pingsut yang dilakukan oleh kapten/ketua kelompok. Yang menang ¬†menjadi penyerang dan menempatkan posisidi depan “rumah” yang harus dijaga oleh kelompok bertahan. Rumah ini terdiri dari 6 ruangan imajiner yang semuanya dipetak-petak di sebidang tanah yang di gambar menyerupai ruangan rumah. sayap kanan kiri diisahkan oleh garis tengah yang memanjang dari depan hingga belakang yang nantinya ditunggu oleh satu orang tim bertahan. Di garis inilah dia bebas berlari menguasai garisnya yang harus dipertahankan jangan sampai dilewati oleh tim penyerang. Kemudian masing-masing sayap kanan dan kiri dibagi 3 bagian yang sama menjadi kamar depan, tengah dan belakang kanan dan kiri. dimana masing-masing garis yang membatasi kamar depan dengan tengah dan garis yang membatasi kamar tengah dan belakang serta garis depan dan belakang ditempati oleh anggota tim bertahan lainnya. sehingga dalam satu episode main masing-masing tim harus mempunyai 5 orang anggota. Untuk garis “rumah”nya digunakan abu dapur. Digunakan abu dapur supaya di malam hari lebih terlihat nyata garisnya dengan bantuan sinar bulan purnama. Selain itu abu dapur ini juga bisa didapatkan secara gratis. Teknik permaian ini sangat simpel. Bagi kelompok penyerang yang menempatkan diri di depan rumah harus bisa berhasil masuk menyusup ke seluruh bagian rumah dan harus berhasil sampai di belakang rumah dengan selamat tanpa terpegang oleh anggota kelompok yang bertahan. Sedangkan untuk kelompok bertahan harus bisa mempertahankan rumahnya supaya tidak terbobol kemasukan lawan. Mereka mempertahankan rumahnya dengan cara menempati garis-garis rumah dan diperbolehkan lari-jalan menguasai garisnya agar jangan sampai terelewati oleh lawan. Mereka menggunakan tangan maupun kaki untuk menyentuh salah satu anggota tim penyerang. Jika ada salah satu anggota tim penyerang yang tersentuh di garis manapun, depan tengah atau belakang maka posisi kelompok harus bergantian. Tim penyerang berganti menjadi tim bertahan dan tim bertahan berubah menjadi tim penyerang. pada permainan ini, yang paling jadi target operasi adalah anak-anak yang masih junnior, yang tekniknya masih lemah dan kurang gesit. Biasanya untuk anak yang muda ini harus mengandalkan seniornya untuk membantunya melewati rintangan-rintangan tim bertahan. Kesulitan untuk menang bagi tim dengan salah satu anggotanya masih junior. Menariknya permainan ini dituntut untuk kerjasama saling membantu melewati rintangan yang dijaga oleh tim bertahan. tidak hanya mengandalkan kemampuan lari dan mengerem kecepatan, permainan ini juga syarat dengan taktiknya yang harus jeli dan gesit. Permainan ini selain menguras pikiran dengan taktik yang jitu juga menguras tenaga karena harus lari menyusup sekaligus menghindar dari tangkapan lawan, sedang bagi tim bertahan harus lari sepanjang garis yang mereka jaga agar tidak sampai kebobolan. Indahnya nostalgia masa kecil. Hampir puluhan tahun yang lalu hal ini menjadi favorit bagi semua anak Indonesia. Sekarang mungkin sudah tidak pernah bisa kita temui lagi permainan ini. Permainan yang bila dijalankan begitu mudah namun menguras tenaga juga untuk menguraikannya. Bermain tidak sesulit menjelaskannya, kita hanya perlu lari, berhenti, dan menghindar atau kita harus lari, berusaha menangkap lawan itu saja. Terima kasih buat www.indonesia.travel yang telah mengajak kita untuk bernostalgia. Semoga kebudayaan Indonesia tidak akan punah meskipun listrik sudah melimpah dan permainan yang sifatnya elektronik sudah merajalela. Aku Cinta Indonesia dengan segala budayanya. Salam Indonesia

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: