Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sarie

Mencintaimu adalah mencintai hidup...

Perempuan Bau Laweyan

REP | 24 July 2013 | 14:30 Dibaca: 987   Komentar: 48   5

Indonesia, budaya dan mistik. Ketiganya mempunyai keterkaitan. Banyak  beberapa daerah yang mempunyai cerita-cerita yang berhubungan dengan mistik. Misalnya di Jawa. Ada salah satu cerita mistik yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan atau dipercaya begitu saja. Yaitu bagi perempuan yang mempunyai tembong (tahi lalat) di bahu sebelah kiri pasti akan mengalami kesialan. Dalam perpektif Jawa, hal tersebut dikenal dengan bau laweyan atau perempuan pembawa sial.

Mitos tersebut sudah mulai berkembang pada jaman R. Ng. Ronggowarsito dalam salah satu karyanya, yaitu Serat Witaradya. Mengenai R. Ng. Ronggowarsito dapat dibaca disini. Konon, seperti yang tertuang dalam Serat Witaradya keberadaan perempuan bau laweyan tersebut memang ada. Tapi keberadaannya dapat dihitung dengan jari dan mulai diperhitungkan pada kejayaan kerajaan Pengging.

Kisah tersebut diawali ketika kerajaan Pengging mengadakan acara jumenengan (ulang tahun penobatan raja).  Raja Pengging  saat itu tidak hanya sakti tapi juga memiliki banyak teman. Baik dari golongan manusia sampai golongan jin yang bernama Gandarwa Kurawa. Pada saat jumenengan tersebut semua temannya diundang termasuk si Gandarwa. Dalam acara tersebut. Gandarwa tertarik kepada salah seorang putri yang bernama Dewi Citrasari. Karena dari dunia yang berbeda, si Gandarwa tidak bisa berbuat apa-apa selain sungkan dengan sang Raja yang menjadi sahabatnya.

Tapi yang namanya cinta. Siapapun yang sudah terkena virusnya, akan sulit untuk menolak. Begitupun dengan Gandarwa. Segala cara dan upaya dilakukannya. Dengan kesaktian dan kekuatan yang dia miliki, akhirnya dia bisa melakukan hubungan intin dengan sang putri. Dewi Citrasari pun mengandung benih percampuran antara manusia dan jin. Akhirnya, janin yang dikandungnya lahir. Seorang bayi perempuan dengan membawa tanda khusus yaitu tompel di bahu sebelah kiri dan oleh masyarakat setempat disebut dengan istilah bau laweyan.

Perempuan bau laweyan mempunyai ciri-ciri pendiam, suka menyendiri dan mempunyai tatapan mata kosong. Selain itu, perempuan bau laweyan juga kebal terhadap serangan berbagai ilmu hitam, seperti santet, teluh dan sebagainya. Kehidupannya  tidak normal, kerena sudah dipengaruhi ssifat-sifat jin jahat. Dan jika dia menikah, siapapun yang menjadi suaminya tidak akan bertahan lama. Karena ketika melakukan hubungan intim, si suami akan meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ironisnya sampai saat ini ada sebagian masyarakat yang masih mempercayainya. Oleh karena itu, jika di suatu daerah kedapatan perempuan dengan ciri-ciri tersebut, maka tidak akan ada laki - laki yang mau menikahinya dan dikucilkan. Padahal, setiap manusia yang lahir ke dunia berhak mendapat perlakuan dan penghidupan yang layak.

Semoga kita dijauhkan dari segala tipu daya setan dan jin yang menyesatkan manusia untuk masuk ke dalam perangkapnya.

Wallahualam bishowab…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Pernahkah Ini Terjadi di Jaman SBY …

Gunawan | 3 jam lalu

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 7 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 8 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: