Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Estu Utami

sedang berjerih menajamkan pena ;D

Antara Hari Anak Nasional, Wak Wak Gung, dan Generasi Online

OPINI | 23 July 2013 | 15:02 Dibaca: 516   Komentar: 2   0

1374565886681348187

Ketika hendak menonton sendratari Betawi ‘ARIAH’ di Monas beberapa waktu lalu, saya melalui wall of fame (dinding promosi) dan melihat tulisan Wak Wak Gung! Tiba-tiba saya ingin berfoto di sana, tulisan di dinding itu mengingatkan saya pada permainan tradisional yang sering saya dan teman-teman mainkan semasa kecil. Banyak jenis permainan tradisional di masyarakat yang mempunyai kemiripan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Pada dasarnya waktu kecil saya suka bermain, dan permainan yang saya gemari adalah permainan yang melibatkan banyak teman serta diiringi lagu atau nyanyian.

Ternyata ditengah pertunjukkan sendratari kolosal itu, permainan wak wak gung dimainkan sekilas yang menggambarkan keceriaan masa kanak-kanak Ariah di Batavia  tahun 1860-an. Walau lirik lagu dan gerakannya tidak benar-benar pas dengan permainan versi yang sering dimainkan anak-anak, karena disesuaikan dengan bentuk seni pertunjukan panggung sendratari, tetapi secara garis besar telah mencerminkan permainan anak Betawi tempo dulu. Para penari berderet memanjang ke belakang memegang pinggang teman di depannya sambil menyanyikan lagu, “Wak Wak Gung!” Penampilan mereka di panggung malam itu sukses membangkitkan kembali memori saya di masa lalu. Kedua orang tua saya adalah warga pendatang, karena lahir dan besar di Jakarta, saya lumayan akrab dengan lingkungan dan permainan khas Betawi.

Permainan wak wak gung (ada juga yang menyebutnya wak wak kung) mirip dengan permainan ular naga (panjangnya), melibatkan banyak orang dan diiringi nyayian, bedanya dalam permainan ini ada dua orang yang nantinya berperan sebagai induk ayam dan burung elang. Dua orang ini dipilih yang bertubuh besar, kuat, dan gesit sebagai penjaga. Mereka berdua membentuk terowongan dengan saling mengangkat tangan dan berpegangan di atas. Sementara anak-anak lain berbaris berderet ke belakang sambil memegang punggung atau pinggang teman di depannya. Semua peserta permainan menyanyikan lagu wak wak gung sambil berjalan berkeliling dan menerobos terowongan kemudian berputar-putar kembali.

Tidak seperti permainan Sim Sim Terimakasim di mana pemain harus hafal benar lirik lagunya (kadang permainan bisa batal karena perbedaan versi lirik lagu…hahaha dasar anak-anak), permainan wak wak gung bisa tetap seru walaupun pemain tidak hafal secara lengkap lirik lagu. Dulu saya hanya hafal pada bagian awalnya “Wak Wak Gung! Nasinye nasi jagung” dan itu diulang-ulang saja sampai permainan berakhir. Belakangan saya baru tahu kalau lirik lengkap dari permainan ini adalah :

~Wak wak gung

~Nasinye nasi jagung

~Sarang goak di pu’un jagung

~Gang ging gung

~Tam tam buku

~Seleret daon delime

~Pate lembing pate paku

~Tarik belimbing

~Tangkep satu

~Pit alai pit

~Kuda lari kejepit sipit

~Kosong kosong kosong…isi isi isi

Seiring dengan berakhirnya lagu, dua penjaga menurunkan tangan di deretan orang yang paling belakang kemudian menanyakan pemain mau ikut orang pertama atau orang ke dua (biasanya disimbolkan seperti hujan atau petir, bulan atau bintang, sesuai kesepakatan). Pemain yang telah ditanya kemudian berdiri di belakang penjaga yang dipilihnya. Setelah pemain dalam barisan habis terbagi di belakan masing-masing penjaga, kemudian para penjaga melakukan suit (adu jari). Penjaga yang kalah suit harus merelakan anak buahnya pindah kelompok ke penjaga yang menang. Penjaga yang kalah kemudian berperan menjadi elang (ulung-ulung) dan penjaga yang menang berperan sebagai induk ayam yang bertugas melindungin anak-anak ayam di belakangnya.

Penjaga yang berperan sebagai induk ayam dengan merundukan badan dan merentangkan tangan, kadang lebih mirip penjaga gawang dari pada seperti induk ayam (hahaha), tugasnya melindungi anak-anak ayam di belakangnya. Di sinilah letak kegembiraan pada permainan wak wak gung, di mana terjadi kejar-kejaran yang dipenuhi tawa riang sambil terus menyanyikan lagu. Elang berusaha sekuat tenaga menangkap anak ayam di belakang induknya. Kadang ada pemain yang terjatuh, tapi teman yang lain akan sigap membantu. Permainan berakhir jika semua anak ayam telah tertangkap juga induknya. Kadang, karena anak ayamnya telah habis, pemain yang berperan sebagai induk ayam berubah menjadi elang dan sebaliknya. Begitulah permainan bisa saja diperpanjang tergantung keinginan pesertanya. Permainan benar-benar selesai  sampai para pemain bosan dan berganti dengan permainan lain, atau sampai kecapaian dan membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing.

Permainan wak wak gung bisa dilakukan kapan saja. Dulu pada saat bulan Ramadhan (sekolah sering diliburkan), saya dan teman-teman sering bermain wak wak gung sepulang sholat tarawih atau setelah sholat subuh di kebon atau lapangan milik teman yang di tepinya banyak ditumbuhi tanaman tropis khas Betawi seperti ceremai, rambutan, kelor, buni, dan lain sebagainya.

Banyak manfaat serta pelajaran yang dapat diambil dari permainan yang melatih gerak motorik kasar anak ini, seperti : sportivitas dalam memilih pemimpin, ketangkasan, mengasah kreativitas, kebersamaan, gotong royong, dan cinta alam (lihat saja liriknya yang menyebutkan nama hewan dan tumbuhan). Dulu permainan ini menyebar begitu saja di tengah masyarakat diwariskan turun temurun oleh entah siapa. Namun kini permainan wak wak gung mulai jarang dimainkan oleh anak-anak, hal ini mungkin dikarenakan oleh kemajuan jaman, di mana keterbatasan lahan yang didukung oleh kemajuan teknologi membuat anak-anak sekarang lebih akrab dengan game online yang lebih praktis, ringkas, namun mahal.

Belakangan saya mengetahui kalau di sekolah diajarkan mengenai budaya lokal pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lalu dan permainan wak wak gung ada di buku pelajaran kelas 3 SD. Namun yang saya khawatirkan, nanti permainan ini mungkin hanya dipelajari di sekolah, bukan dimainkan lagi. Oleh karena itu, dengan momentum Hari Anak Nasional 2013 ini mari kita lestarikan permainan tradisional yang dapat merekatkan nilai-nilai luhur serta kekayaan dan keanekaragaman bangsa ini yang dapat kita nikmati di Indonesia Travel.

Bersumber :

Chaer, Abdul, Folklor Betawi, Kebudayaan & Kehidupan Orang Betawi, Masup Jakarta, November 2012

Sunarto, et al, Buku Pendidikan Lingkungan: Budaya Jakarta 3, Ganeca Exact


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 8 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 9 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Vox Populi Vox Dei? …

Angin Dirantai | 7 jam lalu

Kayungyun: Catatan Sang Pelacur …

Kang_insan | 7 jam lalu

Tentang “Hobi” Baru SBY di …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Kenikmatan DPR …

Tion Camang | 8 jam lalu

Kata Mawar …

Prayogo Tulus | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: