Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ilam Maolani

Alung Rawawis (Anak Galunggung dari Rawa Sindangraja), If wealth is lost, nothing is lost; If selengkapnya

Selamat Tinggal Yusuf Mansyur…!

OPINI | 21 July 2013 | 10:48 Dibaca: 847   Komentar: 8   3

13743783031359639018

(Sumber Photo: syafiiantonio.com)

Para pembaca tentu masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Aa Gym berpoligami dengan menikahi Alfarini Eridani (Teh Rini). Efeknya sungguh luar biasa. Aa Gym yang saat itu sedang ‘jaya-jayanya’ sebagai da’i kondang, mendadak redup dan ditinggalkan umatnya gara-gara kasus poligaminya. Pesantren Darut Tauhid di Kota Bandung (sebagai ‘base camp’-nya Aa Gym) mendadak sepi dari pengunjung, ditinggalkan umatnya, undangan pengajian mendadak sedikit, ‘gurita’ bisnis yang dijalankannya sempat hampir kolaps, simpati mengalir deras pada istri pertamanya (Teh Ninih). Teh Ninih pun menggugat cerai Aa Gym. Jalan menuju Darut Tauhid yang biasanya ramai dan macet, mendadak lengang. Ketika itu ‘sinar terang’ Aa Gym mendadak redup.

Nah, kali ini kasus berbeda sedang menerpa Ustadz Kondang Yusuf Mansyur. Beliau sedang bermasalah dengan program investasinya. Seperti diberitakan TVOne pada kabar petang kemarin (20/07/2013), investasi yang dihimpun oleh Ust. Yusuf Mansyur dari para jema’ahnya, salah satunya berupa pembangunan hotel di Jakarta (sumber dana pembangunan hotel tersebut dihimpun dari program investasi jama’ahnya), ternyata tidak memenuhi prosedur izin pendirian, sehingga Beliau memutuskan untuk membekukan sementara investasinya. Beberapa pakar ekonomi dan investasi, termasuk Ketua MUI Pusat, menyatakan bahwa penghimpunan dana ala Yusuf Mansyur menyalahi aturan  dan sebaiknya dihentikan. Lebih baik Yusuf Mansyur membuat perusahaan terlebih dahulu sebelum menghimpun dana lewat investasi jama’ahnya.

Melihat kasus yang sedang menimpa ustadz Yusuf Mansyur tersebut, mungkinkah efeknya akan sama dengan kasus Aa Gym dulu, yakni umat atau jama’ah Yusuf Mansyur akan meninggalkannya sehingga dakwah-dakwahnya sepi pendengar alias tidak laku lagi?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

7 News: Korban Gempa 3.200 dan Masih Terus …

Tjiptadinata Effend... | | 27 April 2015 | 19:26

Tindakan Kekerasan dalam Paket Berita …

Ombrill | | 27 April 2015 | 18:44

[BANJARMASIN] Jelajah Non Tunai bersama Bank …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:00

Pemindahan Ibukota Jakarta : Belajar dari …

Hardian Relly | | 27 April 2015 | 11:00

Blog Competition: Kotaku Kota Cerdas! …

Kompasiana | | 27 April 2015 | 01:52



Subscribe and Follow Kompasiana: