Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nugroho Angkasa

Guru Privat Bahasa Inggris di Yogyakarta, Editor, dan Penerjemah Lepas. Gemar Baca dan Rangkai Kata selengkapnya

Surat Terbuka untuk Presiden SBY

OPINI | 16 July 2013 | 09:24 Dibaca: 103   Komentar: 0   0

Surat Pembaca ini dimuat di Suara Merdeka, Selasa/16 Juli 2013

Perkenalkan saya adalah seorang warga negara yang mendambakan berkembangnya toleransi di Indonesia. Saya sangat berbahagia dan mengucapkan selamat atas penghargaan penghargaan ‘’Anugerah Negarawan Dunia’’ dari The Appeal of Conscience Foundation, atas upaya Bapak Presiden SBY menggalang perdamaian dan memimpin Indonesia menjadi masyarakat demokratis yang menolak ekstremisme berkedok agama.

Kami semakin bahagia kala Bapak Presiden di sela-sela acara pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-35, menyisipkan pe-san tentang toleransi dan me-nyerukan agar tidak ada jarak dan pertentangan antara kaum mayoritas dan minoritas. Kami selalu mendambakan berkembangnya toleransi di Indonesia dan tertarik dengan gagasan Anand Krishna untuk mengapresiasi semua agama yang menurut kami sejalan dengan pandangan Bapak Presiden yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengumandangkan semangat yang sama, menjunjung tinggi toleransi.

Dapat saya sampaikan bahwa Anand Krishna sekarang berada di Lapas Cipinang tengah menjalani suatu proses peradilan yang diselewengkan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Kami yakin Bapak Presiden telah mengetahui bahwa Anand Krishna sudah divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin oleh hakim Albertina Ho pada 22 November 2011.

Kemudian Jaksa Penuntut Umum (JPU) Martha Berliana mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Kasasi terhadap putusan bebas sudah menyalahi hukum dan undang-undang pidana. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga berpendapat bahwa proses kasus ini berindikasi adanya pelanggaran HAM terhadap Anand. Komnas HAM telah menulis surat kepada Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian untuk tidak menahan Anand Krishna.

Selanjutnya, kami sebagai warga negara, mengetuk nurani Bapak Presiden untuk memberikan solusi supaya Anand Krishna cepat bebas dari penjara mengingat usia beliau menjelang 60 tahun, kondisi kesehatan yang terus menurun, dan pemikiran beliau masih dibutuhkan oleh bangsa ini.

Saya sadar betul akan independensi peradilan, tapi ketika oknum peradilan sendiri melakukan penyelewengan, maka tidak ada jalan lain bagi kami untuk mengetuk hati Bapak Presiden. Apakah uluran tangan Bapak Presiden dalam bentuk remisi, pembebasan bersyarat, atau perubahan status menjadi tahanan kota/rumah, sehingga beliau masih bisa berkontribusi terhadap bangsa dalam bidang apresiasi terhadap semua agama dan kepercayaan di bumi Nusantara tercinta.

***

Untuk mengetahui apa dan mengapa kasus ini bisa terjadi monggo silakan lihat link2 berikut ini dan disebarluaskan ke teman-teman lainnya. Matur nuwun

http://www.youtube.com/watch?v=8JglZ_0-s5E

http://www.youtube.com/watch?v=anjGKzTtvio&feature=share

http://www.freeanandkrishna.com/

13739414331940030040

http://freeanandkrishna.com/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghitung Peluang Jokowi …

Goenawan | | 16 April 2014 | 04:38

Hamil Ikut UN, Boleh? …

Khoeri Abdul Muid | | 15 April 2014 | 21:42

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

The Jakarta Post, The Washington Post dan …

Ira Oemar | 18 jam lalu

Nama Jokowi Muncul di Soal UN, Pencitraan? …

Pical Gadi | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: