Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Graziagigliotti

In process of learning how to be a creative and professional content writer

Nostalia Manis Serunya Bermain Engklek

REP | 13 July 2013 | 20:50 Dibaca: 383   Komentar: 0   0

Suatu senja di Stasiun Balapan, saya tengah menunggu kereta yang akan membawa saya pergi meninggalkan kota Surakarta, kota kelahiran saya. Saya mengedarkan pandangan saya ke sekeliling ruangan, berusaha untuk mencari view yang menarik untuk saya amati. Mata saya terantuk pada seorang anak perempuan berusia sekitar 5-7 tahun yang duduk tidak jauh dari saya. Di tangannya terdapat sebuah tab berteknologi tinggi yang membuatnya sibuk sendiri. Bagai tersedot dalam permainan yang ditawarkan tab tersebut, gadis itu seolah berada pada dunianya sendiri dan mengacuhkan sekelilingnya. Tangannya dengan lihai menari dan menggerakkan tab kepunyaannya, menunjukkan keakraban dengan benda canggih tersebut.

Tak lama kemudian, suatu panggilan terdengar. Kereta Sriwedari AC yang akan saya tumpangi segera datang di jalur nomor 3. Saya berdiri dan bergegas berjalan menuju jalur yang sudah ditentukan. Setelah kereta berhenti dan pintu terbuka, saya segera masuk dan mencari tempat duduk sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket. Ternyata gadis kecil yang saya perhatikan di ruang tunggu tadi duduk tepat di depan saya bersama seorang wanita setengah baya yang mungkin adalah nenek dari gadis tersebut. Ketika kereta mulai berjalan lagi, si gadis kecil itu kembali asyik sendiri memainkan tab kepunyaannya.

Pikiran saya melayang ke memori beberapa tahun silam, ketika saya masih seusia dengan gadis itu. Sekitar tahun 1990-an dan tentu saja saat itu belum ditemukan teknologi secanggih tab. Berbeda dengan gadis itu yang cukup puas bermain dengan tablet kecil, saya dan teman-teman sebaya saya lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain berbagai jenis permainan outdoor yang menuntut aktivitas fisik, salah satunya adalah permainan yang disebut dengan engklek. Engklek adalah permainan tradisional yang sebenarnya ada di seluruh wilayah Indonesia, sehingga mempunyai beragam istilah. Ada yang menyebut permainan ini sebagai teklek, ciplak, emprak, dan banyak lainnya.

1373723044607468851

Papan Engklek

Walaupun mempunyai nama yang berbeda di setiap daerah, inti permainan engklek ini pada dasarnya sama. Permainan yang konon berasal dari Belanda ini, biasanya dimainkan oleh 2-5 orang anak perempuan. Saya sendiri dulu biasa memainkan bersama kakak dan sepupu perempuan saya ketika kita sedang berkumpul bersama di rumah saya. Kebetulan kami memiliki pekarangan rumah yang cukup luas, paling tidak bisa digunakan untuk bermain engklek. Kami terlebih dahulu menggambar “papan” untuk bermain engklek di paving halaman rumah saya. Biasanya kami menggunakan kapur atau pecahan genting. Papan engklek itu terdiri dari 8 kotak berukuran ± 30 x 60 cm berjajar vertikal dan 1 bangun setengah lingkaran sebagai puncaknya.

Sebelum kami memulai permainan, kami mencari sesuatu yang disebut dengan gacuk yang berupa batu beralas datar. Setelah itu kita menentukan giliran dengan hompimpa atau suit. Setelah itu, pemain yang mendapat giliran pertama akan memulai permainan dengan cara melemparkan gacuk ke kotak pertama. Apabila gacuk mendarat di luar kotak atau menyetuh garis, maka pemain harus menghentikan permainannya dan digantikan oleh pemain giliran kedua.

Setelah melempar gacuk ke kotak pertama, maka pemain harus melompat dengan satu kaki menuju kotak kedua, ketiga, dan seterusnya sampai ujung yang berbentuk setengah lingkaran, sementara kaki lainnya ditekuk 90⁰. Pemain tidak boleh menginjakkan kaki ke kotak yang berisi gacuk, baik miliknya maupun milik pemain lainnya. Jadi, ada kalanya pemain harus melompati 2 sampai 3 kotak sekaligus. Inilah yang membuat permainan ini menantang.

Kemudian, setelah selesai melompat hingga ujung, pemain berbalik badan dan melompat kembali hingga kotak nomor 2, mengambil gacuk-nya di kotak nomor 1, dan melompat kembali sampai garis start. Selanjutnya, pemain harus melempar kembali gacuk ke kotak kedua, dan begitu seterusnya. Satu putaran permainan mencakup pelemparan gacuk dari kotak pertama sampai setengah lingkaran di ujung papan engklek. Setelah menyelesaikan satu putaran, pemain berdiri di garis start dan dengan membelakangi papan engklek, dia melempar gacuk ke belakang. Apabila gacuk mendarat di salah satu kotak, maka kotak tersebut menjadi miliknya dan pemain lain dilarang untuk menginjakkan kaki maupun meletakkan gacuk di kotak itu. Pemenangnya ditentukan berdasarkan banyaknya kotak yang dimilikinya.

Biasanya saya selalu kalah bagian melempar gacuk untuk menentukan kotak kepunyaan. Saya bukan tipe orang yang beruntung ya berarti hahaha. Namun, saya merasa cukup beruntung terlahir di tahun 1990-an di mana budaya tradisional masih kental terasa, termasuk permainan tradisional. Keseharian masa kecil saya diisi dengan jenis-jenis permainan bocah yang bisa membuat lupa waktu saking asyiknya. Yang namanya main engklek itu bisa dimulai dari siang sampai hari berubah menjadi gelap, dan biasanya agar permainan berhenti harus diawali dengan panggilan dari orangtua yang mengingatkan hari sudah gelap dan disuruh segera mandi.

Yang paling menyenangkan adalah jika setelah seharian main engklek, lalu diajak pergi ke luar untuk menonton Sekaten. Sekaten merupakan pasar malam bagi rakyat yang diadakan selama satu bulan di alun-alun utara Keraton Kasunanan Surakarta. Sekaten itu sendiri sebenarnya ditujukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Setelah pasar malam itu selesai dilaksanakan, akan disambung dengan upacara kerajaan selama tujuh hari ke depan.

Kota Surakarta, salah satu destinasi favorit di Indonesia Travel, memang dikenal sebagai salah satu kota budaya. Selain Sekaten, tentunya masih ada beragam upacara-upacara tradisional yang rutin diadakan demi melestarikan tradisi setempat. Yang masih ramai diikuti masyarakat adalah upacara Malam Satu Suro. Upacara ini dilakukan untuk merayakan pergantian tahun baru menurut kalender Jawa. Rangkaian acara Malam Satu Suro ini adalah Kirab Mubengi Keraton atau perarakan memutari keraton dengan arah berlawanan dengan jarum jam. Tokoh utama dalam kirab ini adalah pusaka keraton yang ditempatkan di barisan paling depan. Uniknya, pusaka keraton itu adalah seekor kerbau albino bernama Kyai Slamet.

Sesuai dengan tagline Indonesia Travel, Wonderful Indonesia, ragam budaya setiap daerah di Indonesia itu pasti memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Rasanya menyenangkan untuk selalu berpartisipasi melestarikan budaya daerah. Budaya inilah wujud nyata warisan nenek moyang yang harus kita jaga dan hargai. Seiring perkembangan jaman, mungkin teknologilah yang menjadi fokus perhatian kita. Namun, tidak ada salahnya bagi kita untuk tetap berusaha mengenal, mempelajari, dan melestarikan budaya yang telah kita miliki secara turun temurun ini. Karena sesungguhnya selalu ada nilai dan moral yang terselip di setiap kebudayaan daerah ini, baik di dalam permainan, upacara, dan kesenian tradisional.

Lamunan panjang saya seketika terhenti bersamaan dengan berhentinya kereta Sriwedari AC di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Kota tetangga inilah tempat saya menuntut ilmu. Ya, sudah cukup saya bernostalgia dengan masa kecil saya yang manis dan menyenangkan. Sekarang waktunya saya menatap dan menata masa depan saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 7 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: