Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Abdullah Nasution

i am the amazing one.

Belajar Puasa

OPINI | 11 July 2013 | 01:33 Dibaca: 69   Komentar: 0   1

1373481103548245416

Marhaban ya Ramadan….. Bagi seorang mukmin, Perasaan senang dan gembira tentu tidak bisa disembunyikan ketika kembali berjumpa dengan bulan ramadan. Bulan ampunan, bulan pesta kebaikan, bulan meroketnya ganjaran dari sebuah amal, bulan di atas bulan, dan seribu satu macam lagi sebutan untuk menyongsong bulan yang diberkahi, yang dinanti, dan dicintai. Pada bulan Ramadan yang sangat mulia ini, jangan kan puasamu, shalatmu,dzikirmu, sedekahmu, bahkan setiap detik hembusan nafasmu telah dihitung sebagai sebuah kebaikan, tidurmu, setiap langkahmu, bahkan gerak gerikmu bisa menjadi pemasukan bagi tabungan akhiratmu dengan syarat semuanya diniatkan dengan ibadah kepada Allah Subhana Wata’ala.

Nabi Muhammad bersabda: “Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka” dari hadits tersebut kita bisa merenungkan kembali alangkah begitu besarnya keutamaan bulan yang mulia ini. Hanya dengan bergembira dengan kahadirannya saja kita telah diganjar dengan sebuah pahala yang besar. “Allah mengharamkan jasadnya dari neraka”, hanya dengan bergembira saja. Memang, kalau cuma bergembira bukan lah hal yang diminta, karena bergembira tidak akan berpengaruh apa-apa kalau tidak diikuti dengan langkah dan gerakan yang nyata. Selama bulan Ramadan kita dianjurkan untuk menyusun agenda agenda mulia dan kemudian mengerjakannya, mengimplementasikannya agar bulan ini menjadi bermakna, dan kita bisa menjadi mulia, berharga, dan bernilai juga tentunya.

Belajar. Ya, belajar adalah hal dan fakta tak terbantahkan yang harus kita lakukan. Tidak hanya bulan puasa saja pastinya, akan tetapi dengan datangnya bulan suci Ramadan ini, perintah untuk belajar seharusnya semakin tinggi kuantitasnya dan semakin baik kualitasnya. Karena dalam berpuasa terdapat begitu banyak pelajaran disediakan. Dalam menahan lapar dan haus terdapat kurikulum tuhan untuk mengarungi kehidupan. Dalam sebulan bangun di sepertiga malam, ada ribuan SKS dan bahkan lebih pendidikan moral yang ditawarkan. Kemudian pada akhirnya, selain syahrul Qur’an, syahrul Maghfiroh, Syahru najah, dan syahru syahru lainnya Ramadhan juga merupakan syahru Tarbiyah, bulan pendidikan dimana kita langsung diospek oleh sang maha pencipta, Allah Subhana waTaa’la. Dalam berpuasa kita dilarang menelan makanan dan meneguk minuman sejak sebelum subuh sampai matahari terbenam, itu adalah ospek dan pelajaran paling dasar dari Allah agar kita berfikir dan bisa merasakan bahwasannya di samping kita masih begitu banyak orang orang yang tidak mampu untuk membeli makan dan minum, masih banyak orang yang tidur di dalam lapar dan haus, masih banyak saudara kita makan sehari tidak makan tiga hari. Allah mau agar kita peka, makanya diospeknya,ditatarnya kita dengan perantara puasa. Puasa sebenarnya tidak sesederhana menahan lapar dan haus. Puasa adalah bagaimana kita berperang melawan diri sendiri, meminimalisir nafsu, melatih kedermawanan, dan bla bla bla bla. Tidak sederhana bukan? Tapi di bagian itu lah seni berpuasa kita rasakan. Kalau kita sukses, hebat. Jika gagal, ah, mosok begitu aja gagal? Hehe. Pelajaran dari puasa adalah bagaimana agar kita berubah. Menjadi Insan yang peduli, menjadi hamba hamba yang menebar misi Rahmatan lil’alamin. Ibarat ulat yng menjijikkan, begitu lah manusia sebelum berpuasa. Dipaksa ’sakit-sakitan’ sebulan lamanya dalam kepompong Ramadan, agar kelak setelah berpuasa kita bermetamorfosis menjadi kupu kupu indah nan menawan. Pendidikan Ramadan mendidik kita agar menjadi insan mulia, excellent with morality. Bulan ramadan mendidik polisi agar mengayomi, politisi agar tidak lagi korupsi, guru agar mendidik sepenuh hati, manusia agar seling mencintai dan pada akhirnya bermuara pada ummat Islam itu sendiri yang akan meneruskan misi rahmatan lil’alamin. Dan Allah mendidik, mengospek,menatar, atau apa pun namanya dengan perantara puasa. Jangan seperti ular, berpuasa bukannya berubah menjadi burung Merak yang indah, malah menjadi ular yang lebih menakutkan. Dengan datangnya bulan Ramadan, kita bisa menjadi insan terdidik. Beriman dan bertqwa. Berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Semoga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 4 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 6 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 7 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: