Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hamid Amren

always learning

Ramadhan dan Nafsu Konsumtif

OPINI | 10 July 2013 | 09:25 Dibaca: 160   Komentar: 2   2

Ramadhan bulan penuh barokah, rahmat dan ampunan. Dibulan ini bagi orang-orang yang beriman (umat Islam) diwajibkan berpuasa. Kenapa berpuasa, agar umat tidak hanya bertitel Islam semata, tetapi juga menjadi umat yang bertaqwa. Mentaati seluruh perintah agama dan meninggalkan atau tidak melakukan sesuatu yang dilarang agama. Demikian pengertian sederhana dari taqwa. Tetapi implentasinya tidak mudah dilakukan oleh banyak umat Islam. Pertanyaan berikutnya kenapa harus bertaqwa? Jawabannya, karena syurga disediakan hanya bagi orang-orang bertaqwa, taat, tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Pastilah seratus persen tidak ada diantara umat Islam yang tidak menginginkan masuk syurga di hari kemudian kelak.

Inti dari ketaatan kepada perintah dan mejauhi larangan Allah SWT (taqwa) adalah pengendalian hawa nafsu. Termasuk hawa nafsu dalam melakukan konsumtif keperluan sehari-hari dibulan ramadhan. Yang sering kita saksikan adalah sebuah paradok umat, seyugianya dengan berpuasa kita diperintahkan menahan diri dari makan dan minum disiang hari dan memperbanyak amal dimalam hari. Faktanya banyak diantara umat justru meningkatkan pengeluaran konsumsinya dibulan ramadhan. Pengeluaran belanja rumah bisa meningkat dari bulan-bulan sebelumnya. Bahkan peningkatannya bisa dua atau tiga kali lebih besar dari biasanya. Sebagian dari kita mungkin hanya memindahkan saja jatah makan siang untuk dirapel pada malam hari. Atau ada juga yang memaknainya sebagai bagian dari berkah ramadhan, rejeki bertambah, pengeluaran bertambah dan pendapatan pedagang juga bertambah, wallahu a`lam.

Dalam pandangan ilmu ekonomi, jika permintaan meningkat maka akan diikuti dengan kenaikan harga. Hal ini yang kemudian menjadi problematika yang pelik. Pasar seringkali tidak saja ditentukan oleh kebutuhan konsumen tetapi juga oleh ekspektasi konsumen. Dan konsumen umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kultur pasar. Pengeluaran terhadap konsumsi barang dan jasa  dan pembentukan harga acapkali dipengaruhi oleh keinginan konsumen yang tidak tak terbatas.

Tingkahlaku konsumen (cunsumen behavior) seperti ini yang sering dimanfaatkan pelaku usaha. Dengan tim marketing yang piawai mampu menarik konsumen untuk melakukan pengeluaran yang sesungguhnya barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Memang tak bisa disalahkan. Karena wants atau keinginan manusia memang tidak tak terbatas walaupun sumber-sumber yang tersedia selalu terbatas terbatas. Kembali kejatidiri masing-masing umat. Sejauh mana mampu mengendalikan hawa nafsu dalam melakukan pengeluaran.

Namun demikian semua stake holders telah mengambil peran maksimal untuk mengendalikan kenaikan harga dan mencukupi kebutuhan dipasar. Dengan sistim mekanisme pasar yang dianut, harga yang terjadi adalah atas dasar tawar menawar diantara penjual dan pembeli. Secara umum barang kebutuhan masyarakat dipasar adalah bukan barang subsidi. Sehingga peran pemerintah tidak pada penentuan harga pasar, tetapi lebih kepada bagaimana menjaga ketersediaan barang dan jasa yang cukup, menerobos bottle necking dan membuat  regulasi agar pasar bersifat fear dan adil.

Mumpung dibulan ramadahan, umat yang berkecukupan mempunyai peran untuk melakukan pengeluaran konsumsi yang tidak berlebih-lebihan. Jika tidak, maka akan selalu terjebak dalam perangkap kenaikan harga. Karena dengan peningkatan permintaan maka hukum pasarpun berlaku yaitu terjadinya kenaikan harga. Hal ini akan berdampak dua kali lebih berat bagi masyarakat yang berpendapatan rendah. Perlu kesadaran dalam perspektif ketaqwaan dengan empati merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat yang tergolong masih belum mampu.

Walaupun setiap momentum ramadhan, idul fitri dan tahun baru selalu menyumbang angka signifikan terjadinya  inflasi (kenaikan harga), namum jika saja banyak orang mampu mengendalikan diri dalam melaukakan konsumsi terhadap barang dan jasa, paling tidak dapat menekan terjadinya kenaikan harga. Mudah-mudahan ramadhan tidak saja kita menahan diri dari haus dan lapar tetapi juga juga mampu mengendalikan hawa nafsu secara konfrehensif termasuk dalam melakukan konsumsi kebutuhan sehari-hari. Inysa Allah menjadi umat yang bertaqwa. (**)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 5 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: