Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pong Sahidy

pong sahidy. orang jombang: ada ijo ada abang.

Sembunyi di Balik Jubah Putih Ramadhan

OPINI | 07 July 2013 | 12:07 Dibaca: 267   Komentar: 2   1

Maka tanda puasa segera tiba adalah maraknya iklan sirup, gencarnya acara pengajian, semaraknya pawai simbol-simbol Islam. Sepanduk dipasang: hormatilah orang yang berpuasa. Nafsu berbelanja meningkat pesat. Budaya konsumtif tidak terbendung. Bulan puasa menjadi ajang pelampiasan nafsu konsumerisme.

Media masa paham betul apa yang diinginkan masyarakat. Industri kapitalisme dengan piawai membimbing apa yang harus dilakukan masyarakat selama bulan ramadhan. Televisi menjadi kitab suci yang mengajarkan bagaimana mengisi bulan puasa dengan style manusia modern.

Cermatilah tema perbincangan seperti Sang Artis Menghabiskan Waktu Sahurnya di Jalan, Waktunya Kue Lebaran Tampil Lebih Keren, Menu Puasa Artis, dan seabrek perbincangan remeh temeh lainnya.

Kita memang patut prihatin menyaksikan perilaku konsumtif selama bulan Ramadhan. Perilaku ini bukanlah berdiri sendiri tanpa sebab yang mendahuluinya. Bagaimana pola hidup sebelum dan sesudah bulan Ramadhan menjadi penentu akan seperti apa kita menyambut dan mengisi bulan penuh berkah.

Sikap konsumtif seakan menjadi cermin yang memantulkan bopeng wajah kita sendiri bahwa di luar Ramadhan kita adalah manusia pemamah biak dan tidak pernah puas dengan segala. Di tengah aroma suasana Ramadhan yang sarat dengan simbol-simbol Islam, kita lampiaskan hasrat memakan apa saja. Kita pintar berlindung di balik jubah putih Sang Ramadhan.

Ditunggangi oleh kebutuhan industri kapitalisasi Ramadhan disikapi sebatas kalkulasi ekonomi. Terbayang hujan laba dan keuntungan berlipat ganda selama satu bulan penuh. Ramadhan adalah bulan meraup untung sebesar-besarnya dengan modal usaha sekecil-kecilnya.

Di tengah dahsyatnya gempuran materialisme dan kapitalisme kita memerlukan berlipat-lipat tenaga agar puasa berfungsi optimal menarik diri kita sehingga tercipta jarak yang tepat dari hiruk pikuk dunia. Seberapa tepat jarak itu? Adalah ketika kita sanggup menghayati dan menemukan makna lapar, makan secukupnya, dan berhenti makan sebelum kenyang.

Ilmu makan yang paling sederhana saja kita kerap luput menangkap maknanya. Tujuan makan bukanlah meraih kenyang. Secara alami tanpa diniati agar kenyang, makan akan dengan sendirinya menghadirkan rasa kenyang. Sesuatu yang sudah jelas tidak perlu diniati dan dijadikan tujuan. Maka, berhentilah makan sebelum kenyang. Karena buat apa engkau makan kalau justru membuatmu kekenyangan, malas, dan menumpuk penyakit?

Bagi mereka yang madhep manteb, aku hadapkan wajahku pada-Nya, semua remeh temeh itu tidak mengurangi keagungan dan kedalaman makna bulan Ramadhan. Mereka berpuasa bukan ketika Ramadhan saja: mereka berpuasa sepanjang hidupnya. Ramadhan adalah bonus dari Tuhan - semacam metodologi untuk meraih percepatan tertentu - agar dirinya optimal dalam menempuh transformasi sosial (taqwa).

Dari jarak yang tepat kita pandang dunia bukan dalam rangka melarikan diri seperti seorang pengecut. Dunia akan memanggilmu karena engkau yang dirindukan untuk mengentaskan segala persoalan yang melilitnya. Tentu saja kita juga butuh tenaga ekstra untuk melayani persoalan dunia. Puasa sebulan penuh akan menyuplai tenaga ekstra itu. []

Pong Sahidy

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: