Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Phadli Hasyim Harahap

Membicarakan kehidupan sosial dan budaya. Ayah yang suka bercerita pada anaknya tentang apa saja.

Jokowi dan Kota Jakarta

OPINI | 03 July 2013 | 01:56 Dibaca: 259   Komentar: 2   1

Kalau dipikir-pikir, Jakarta sungguh bersyukur mempunyai pemimpin seperti Pak Jokowi. Gubernur yang suka jalan-jalan ke sana ke mari. Tampaknya tidak susah mencarinya, yang sulit menebak kemana dia akan pergi kecuali sudah ada jadwal tertentu dari pekerjaan hariannya. Jalan-jalannya bukan jalan biasa, menyusuri satu kampung ke kampung lain, hingga nongkrong bareng di perhelatan ulang tahun Kota Jakarta di Monas. Semua dijabanin, seperti tidak kenal lelah. Istilah bekennya “blusukan”. Meski ada kesan pencitraan karena sering diikuti wartawan.

Jokowi  hadir ditengah-tengah rakyatnya. Pemimpin luar biasa yang mau melihat-lihat kondisi hingga ke perkampungan. Kalau kata Budiarto Shambazy, Jokowi adalah” pemimpin yang biasa saja” sebenarnya, namun dia tampak istimewa karena mau kerja. Saya malah berpikir justru sosok Jokowi menjadi luar biasa karena mau kerja. Coba lihat dan baca berapa banyak pemimpin yang seperti Jokowi yang mau bekerja. Kalaulah pemimpin “luar biasa” ini banyak jumlahnya, pasti tidak hanya Jokowi yang tampil begitu dielu-elukan rakyatnya dan sering muncul di media massa. Seolah-olah media tidak punya sosok lain untuk dibicarakan. Jokowi tampak bertindak melalui proses-proses yang menyentuh dari sisi manusiawi. Seperti headline di surat kabar dengan tema “Gebrakan Jokowi”.

Sebelum adanya Jokowi, jarang sekali rasanya memperhatikan geliat tindakan yang dilakukan gubernur Jakarta, paling-paling muncul pada acara serimonial atau ketika ada kegiatan yang memaksa untuk hadir di depan media, misal kalau ada banjir besar untuk berkilah atu mencari-cari alasan. Jadilah, kita terbiasa melihat pemimpin yang tidak bekerja dan cuek saja melihat pemimpin yang bertindak rakus mengkorupsi uang negara.  Ah itu biasa. Padahal hal-hal buruk yang menjadi biasa adalah permasalahan krusial yang sedang melanda negeri ini.

Jokowi mencoba mengubah wajah kota menjadi humanis yang dicintai oleh penunggunya. Bersama wakil gubernur, dia memberi gebrakan demi gebrakan. Dari membahas permasalahan pendidikan yang adil buat si miskin, tempat tinggal bagi warga miskin, hingga transportasi massal yang mampu menanggung beban jutaan manusia di Kota Jakarta.

Jokowi dan wakilnya tampaknya sadar betul kalau perubahan dari sisi sosial dan budaya bisa mempengaruhi citra kota dibenci menjadi begitu dicintai oleh warganya. Karnaval Jakarta dan acara di Monas sebagai wujud cerdiknya Sang Gubernur menarik perhatian warganya. Keluar rumah dan menikmati bersama kemeriahan kota.

Sosial dan Budaya  kota bisa berperan mempengaruhi  pola hubungan manusia yang hidup di  dalamnya. Kesadaran akan sosial dan budaya tersebut diwujudkan Jokowi dengan mencoba memperbaiki kondisi kota berupa memperbanyak kampung deret, merelokasi warga ke rumah susun, mengadakan ruang terbuka hijau, dll. Ketika warga sudah merasa nyaman dengan kondisi kota, maka mempengaruhi kondisi kehidupan masyarakat sehingga menjadi pola tindakan yang mewujud dalam budaya kota. Jokowi menunjukkan bahwa kemauan pemerintah daerah menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi bagi warganya mampu memperkecil kesenjangan hubungan secara struktur antara pemimpin dan rakyatnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

UGM dalam Sorotan, dari Plagiat, Titisan …

Ninoy N Karundeng | | 29 August 2014 | 13:08

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 6 jam lalu

Soal BBM, Bang Iwan Fals Tolong Bantu Kami! …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Gaduhnya Boarding Kereta Api …

Akhmad Sujadi | 9 jam lalu

Jokowi “Membela” Rakyat Kecil …

Melvin Hade | 10 jam lalu

Saya Pernah Dipersulit oleh Pejabat Lama …

Enny Soepardjono | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Menaikkan BBM, Menghapus Subsidinya, …

Popy Indriana | 7 jam lalu

Negotiating with Our Dream.. …

Ogie Urvil | 8 jam lalu

6 Kegiatan Sederhana Bersama Anak …

Cucum Suminar | 8 jam lalu

Harga BBM Naik, Siapa yang Takut? …

John Rubby | 8 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: