Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahlul Bait, Apakah Identik dengan Syiah?

OPINI | 03 July 2013 | 14:07 Dibaca: 1319   Komentar: 100   16

Kita sering dianjurkan dalam mejelis ilmu dan mejelis dzikir&selawat untuk berselawat kepada Nabi Muhammad sebanyak-banyaknya. Perintah kepada umat Islam untuk membaca selawat untuk Nabi SAW datang setelah Allah memberitahu bahwa IA berselawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firmanNya :
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat (memuji dan berdoa) atas Nabi(Muhammad SAW). Wahai orang-orangyang beriman berselawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan.” (Surah Al-Ahzab: ayat 56).

Perkataan selawat berasal daripada perkataan solat yang bererti doa atau pujian. Dan selawat orang mukmin ialah berdoa memohon supaya Allah SWT melimpahkan rahmat, menambahkan kemuliaan, kehormatan dan pujian kepada penghulu kita Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya kepada Nabi kita dia anjurkan berselawat tapi juga kepada seluruh keluarga atau keturunan Nabi.
Ketika perintah berselawat kepada Nabi turun, para sahabat bertanya kepada beliau,”Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui bagaimana kami harus mengucapkan salam kepadamu. Lalu bagaimana kami berselawat kepadamu?”
Maka beliau bersabda, “Ucapkanlah Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.”
Yang artinya: Ya Allah ya Tuhan kami, limpahkanlah keselamatan dan kemulian kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarganya.

Sebagai seorang muslim yang taat, setidak-tidaknya minimal kita berselawat lima kali sehari semalam yaitu ketika kita sholat lima waktu. Pada rakaat terahir diwaktu tahyat akhir kita pasti membaca, “Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad”.
Disini kita tidak hanya bersholawat kepada Nabi tapi juga kepada keluarga Nabi.

Lalu siapakah yang dimaksud dengan keluarga Nabi itu?
Di Indonesia kita mengenal Istilah Habib, Syarif, Syarifah, Sayyid, dan Sunan (ini hanya untuk wali songo). Mereka inilah merupakan garis keturunan/juriat Nabi dari putri beliau, Fatimah. Mereka mereka itu dikenal juga dengan nama lain yaitu Ahlul Bait. Para Ahlu Bait yang ada di Indonesia ini kebanyakan berasal dari Hadramaut, yaman. Mereka ini terdiri dari berbagai marga/keluarga, antara lain Al-habsyi, Al-Hadadad, Assegaf, Al Athos, Al-Idrus dll. Kebanyakan dari Ahlul Bait ini menjadi ulama meneruskan Jejak Nabi Muhammad SAW berdakwah dan menyebarkan Agama Allah di muka bumi ini. Tapi ada juga yang menjadi umaro/menlu seperti Ali alatas dan artis/penyanyi dangdut, Muksin Alatas ( Al Athos). Bahkan mungkin juga ada sebagai pedagang, karyawan swasta dan PNS. Kepada mereka mereka ini kita harus hormat dan mencintai mereka. Seandainya para ahlul Bait/Habib ini berbuat salah, khilaf atau kekeliruan janganlah kita membenci mereka, menghujat atau mencela tapi berilah teguran atau kritik dengan sopan dan santun. Bagaimanapun mereka adalah keturunan Nabi. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang mencintai keluargaku maka ia akan bersamaku di dalam syurga dan barang siapa yang membenci dan mencela keluargaku maka haram baginya mendapatkan syafa’atku nanti di hari kiamat”.
Jadi walaupun para Habaib (kata jamak untuk para habib) berbuat salah dan melanggar HAM seperti yang dilakukan oleh FPI yang dipimpin oleh Habib Riziq Shihab, yang sering melakukan razia atau sweping tempat tempat yang dianggap maksiat. Janganlah kepada habib habib yang ada dalam organisasi itu kita menghina, mencela dan merendahkan martabat para habib itu. Bagaimanapun mereka itu juriat Nabi/Ahlul Bait.

Ada juga yang mengatakan Ahlul bait itu identik dengan Syiah. Bukan tampa sebab ada yang mengatakan demikian. Kita mengenal sebuah Ormas Islam yang bernama Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang beraliran Syiah yang digagas oleh Jalaludin Rahmat atau yang lebih dikenal dengan panggilan kang Jalal.

Apakah memang benar Ahlul Bait itu Syiah? Selama ini kalau kita mendengar kata kata Ahlul Bait pasti pikirannya mengarah ke Syiah.

Ahlul Bait dalam bahasa arab artinya Orang Rumah atau keluarga. Dalam tradisi Islam, Ahlul Bait mengarah kepada keluarga Nabi Muhammad SAW.
Disini terjadi perbedaan pendapat baik antara Syi’ah, Sunni maupun Wahabi.
Syi’ah berpendapat bahwa Ahlul Bait terdiri dari Ali, Fatimah, Hasan dan Husain beserta keturunannya.
Sementara Sunni berpendapat bahwa Ahlul Bait adalah keluarga Nabi Muhammad SAW dalam arti luas, meliputi istri-istri beliau, anak dan cucu-cucunya.
Adapun Wahabi menafsirkan Ahlul Bait itu memang hanya mencakup keluarga Ali, akan tetapi keluarga Nabi Muhammad mencakup seluruh umat Muslim yang taat, sebab hubungan kekeluargaan tersebut adalah berdasarkan takwa pada kepercayaan Islam, dan bukan berdasarkan pada darah keturunan.
Kaum Wahhabi percaya bahwa setiap orang yang taat adalah bagian dari Ahlul Bait, dan bahwa beberapa orang secara khusus disebutkan sebagai bagian daripadanya. Beberapa orang ini, adalah istri- istri Nabi Muhammad,yang menurut pendapat mereka disebutkan di dalam Al Qur’an sebagai bagian dari Ahlul Bait.

Setelah Nabi Muhammad wafat, kepemimpinan beralih kepada Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Kemudian berlanjut kepada dinasti Ummayah. Dalam masa dinasti Umayah inilah, karena perseteruan politik, Ahlul Bait mengalami masa masa yang suram, puncaknya terjadi di padang Karbala, Cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bersama seluruh keluarganya terbunuh ditangan bala tentara Ummayah. Bahkan setelah dinasti Ummayah runtuh dan berganti dengan dinasti Abbasyiah (yang sebetulnya masih kerabat Nabi, keturunan Abbas bin Abdul-Muththalib) pembunuhan terhadap Ahlul Bait/keturunan Hasan dan Husein– lewat jalur Ali Zainal Abidin satu, satunya putra Husein bin Ali yang selamat diari pembantaian di Karbala–, terus berlanjut. Untuk menyelamatkan diri, Ahlul Bait ini menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Asia tenggara. Sebagian besar Ahlul Bait yang ada di Nusantara ini, termasuk Indonesia, berasal dari keturunan Husein tapi ada juga dari jalur Hasan. Bahkan Ahlul Bait dari jalur Hasan bin Ali menjadi sultan di kesultanan Brunai, Sambas dan Sulu. Sedangkan Ahlul Bait dari jalur Husein bin Ali menjadi Sultan di Kesultanan Ciribon dan Banten.

Lalu apakah Ahlul Bait itu menganut Paham Syiah atau Sunni?
Aliran yang dianut Ahlul Bait itu terbagi dua yaitu Sunni dan syiah.
Keturunan Husuein yang ada di Irak, Iran dan sekitarnya mayoritas berfaham syiah. Sedangkan keturunan Husein yang ada di Yaman, India dan Nusantara/Indonesia mayoritas berfaham Sunni.

Jadi jelaslah sudah bahwa Ahlul Bait itu tidak identik dengan Syiah. Ahlul Bait ada yang berpaham Sunni, Syiah bahkan mungkin Wahabi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: