Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sisca Jedida

I am a daughter, a sister, a worker, and a human :)

Hubungan Beda Suku

OPINI | 29 June 2013 | 13:27 Dibaca: 220   Komentar: 5   4

Saya fikir fenomena hubungan yang ditentang karena perbedaan suku atau ras itu hanya ada di sinetron.

Tapi saya salah, di dunia nyata masih sering terjadi.

Jujur saya pribadi tidak mengerti kenapa perbedaan suku menjadi hal yang sangat penting bagi sebagian orang dalam sebuah hubungan. Kok seperti menjudge sang Pencipta (CMIIW). Let’s see these points :

1.Manusia tidak pernah tahu dari rahim Ibu dan suku mana dia dilahirkan. Manusia tidak bisa memilih dan jelas yang menentukan dari suku mana manusia dilahirkan adalah murni Tuhan atau alam jika kalian atheis. Jadi dari suku manapun manusia itu dilahirkan, itu bukan kesalahnnya.

2. Yang menentukan tinggi rendahnya hidup seseorang adalah kualitas hidupnya, bukan sukunya. Misal saja suku A dianggap lebih tinggi dari suku B, tapi pada kenyataannya seorang pemuda dari suku A bekerja sebagai OB dan pemuda dari suku B bekerja sebagai Manager. Atau misalkan saja pemuda dari suku A tercatat pernah melakukan tidak kriminal, sedangkan pemuda dari suku B tidak. Bagi saya, jelas pemuda dari suku B memiliki kualitas hidup lebih tinggi dibandingkan A meskipun masyarakat menilai suku A lebih tinggi.

3. Banyak orang bilang bahwa dalam sebuah hubungan dari suku yang berbeda, “Menyatukan 2 kepribadian saja susah apalagi menyatukan 2 kebudayaan dan adat”. Well, kebudayaan itu kekayaan dan identitas. Dalam sebuah keluarga, menurut saya, yang terpenting adalah kecocokan. Kunci berpasangan dengan gembok, sendal kanan dengan sendal kiri, dan lain-lain. Mereka ini berbeda satu sama lain, tapi bisa saling melengkapi. Perbedaan kebudayaan itu bukan masalah besar asal bisa saling menghargai. Asalkan mindset bisa sama, maka semuanya akan baik-baik saja. Seorang Jawa memiliki adat sendiri yang berbeda jauh dengan orang Tionghoa. Dalam adat Tionghoa, ada semacam sembahyangan yang dilakukan turun temurun. Apabila adat ini tidak dilakukan, apakah akan berdampak buruk ? Menurut saya tidak apabila orang tersebut tidak mempercayai sugesti yang diberikan. Buktinya orang Jawa tidak melakukan sembahyangan itu juga tidak masalah. Karena adat tidak bersifat universal. Untuk adat yang tidak memiliki sugesti atau doktrin, bisa dijalankan bersama-sama dengan pasangan tapi bagi yang memiliki doktrin, bisa dengan membuka mindset untuk bersikap universal.

4. Lepas dari pandangan universal, mari move to sudut pandang ketuhanan. Tuhan mana yang menentang hubungan beda suku ?

Tidak semua orang memiliki mindset yang sama dengan yang lainnya. Ada yang menyerah pada keadaan, ada yang fight.

Kebudayaan dan adat itu lahir karena ada manusia. Jadi kenapa manusia harus takluk dengan kebudayaan dan adat itu sendiri ?

Kebudayaan dan adat itu benda mati. Kenapa makhluk hidup takluk pada makhluk mati ?

Correct me if I am wrong ^_^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 8 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 15 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 16 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 16 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: