Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Akhmad Fauzi

—–Ingin tahu, agar tahu kalau masih belum tahu—– KLIK : 1. bermututigaputri.guru-indonesia.net 2. www.titik0km.com selengkapnya

Murid Kita, Mucikari…???

OPINI | 22 June 2013 | 22:39 Dibaca: 204   Komentar: 1   1

MURID KITA, MUCIKARI…..???

Tuhan,


Kembali Engkau Tunjukkan khilaf kami lagi.


Baru sejenak kami bernafas dari tiga kejadian yang hampir sejenis


Engkau pertontonkan lagi



Kalau aku, yang diamanati, yang mengasuhnya


Lengah akan uang jajannya.


Kalau aku, yang dipercaya membasuh fikirnya


Angkuh, hingga terjerembab dalam pelukan


yang tidak seharusnya


Kalau aku, yang seharusnya teman bermainnya


Tidur pulas oleh ego sendiri



Kalau aku, yang telah memilihku, dalam hatinya, pertiwi ini


Terlalu sibuk membuat janji-janji!



Senyum yang semestinya ranum di lima sepuluh tahun lagi


harus gugur


Binar mata perawan itu, gelap


mengiringi trauma tak bertepi


senyum tipis dengan nafas harum


kini semburat tak beraturan arah


Terjemput bangkai kenistaan


yang sekarang, tertimang zaman!



Tuhan,


Indah, Engkau tuliskan ini


ketika aku terkoyak-koyak juga



Tersungkur aku tanpa tahu di mana,


Yang teryakini


tulisan apa lagi yang hendak Engkau buat


………..



disadur dari : http://bermututigaputri.guru-indonesia.net/artikel_detail-44079.html

Waspada atau siaga dengan keadaan ini, seorang siswa belia sudah berani mengais rezeki dengan penuh talenta di ladang yang sudah harus menggugah kesadaran kita. Akhiri kata menyalahkan, apalagi mencemooh, seolah ini adalah DOSA dia. Sikap Poltabes cukup elegan, tidak menahan, memberikan layanan psikologi, sembari mencatat BAP-nya. Tepat kiranya. Media, dengan segala kehausan berita, mengcloos cerita ini tanpa henti.

Mari, Anda yang sedang menonton tragedi ini jangan berlagak apapun. Tangkap tontonan ini, poles dengan kemampuan yang ada, agar tidak menjalar menjadi cerita “sarkasmik”. Sebuah cerita yang selalu “seolah-olah” kemudian dilemparkan ke tempat menjijikkan, namun, di sekali waktu nanti muncul lagi dengan seragam baru yang lebih “membelalakkan mata”.

Mari, Anda, saya, menghadirkan senyum tatap sayang kepada mereka, meski harus berdarah-darah pembuluh darah kesadaran kita. Ada peran dosa kita di sana, ada kenistaan yang sempat kita titipkan dalam lakon ini. hapus itu dengan tetes air mata, walau hanya satu dua, ataukah cukup berkaca-kaca.

Jangan lihat ini adalah kasus temporal. Inilah yang sejatinya buah dari komulasi kenistaan yang sekarang begitu di timang oleh zaman. Lebih sitemik dari pada sistem perundangan yang ada, lebih silent dari pada teroris hebat di jamannya. Ini adalah selimut lembut yang akan memusnahkan kita sekaligus huniannya juga.

Penulis teringat puisi Cak Nun :

Kemana, anak-anak kita itu.


Kemana, anak-anak kita itu,


anak anak yang dilahirkan oleh bangsa ini dengan seluruh keringat,


dengan luka, dengan darah, dengan kematian!!!


Kemana, anak-anak kita itu


Kemana, anak-anak yang dilahirkan oleh sejarah


……………………..


Aku melihat anak-anak itu lari tunggang langgang


anak-anak itu diserbu oleh rasa takut yang mencekam


……………………..


Tapi kita iseng…


kita tidak serius terhadap nilai-nilai


Bahkan terhadap Tuhan pun


KITA SETENGAH HATI………..!!!

Masihkah hilang kesadaran ini, kalau jengkal langkah mereka kitapun harus ikut memegangkan kuas hidupnya. Teremat ego diri ini, kalau masih bersembunyi dikhusuknya diri. Anak-anak itu ternyata sudah tunggang langgang. menggores-goreskan kuasnya agar kita tahu kalau mereka SUDAH TAK TERSAPA LAGI. Sementara kita, enjoy menghitung apa yang akan KITA TUMPUK…..

Kita adalah aku, penulis

Kita adalah orang-orang tercintanya, mungkin anda.

Kita adalah negara, yang bernama INDONESIA!

(Ungkapan keprihatinan yang cukup serius untuk kalian, lima-delapan orang putri. Maafkan, hanya ini yang bisa aku persembahkan untuk ikut merasakan luka hidup kalian….)

Kertonegoro, 13 Juni 2013

Salam,

Berangkat Dari Hati Untuk Menumbuhkan Energi Positif 13719153291471665040

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: