Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Selamatkan Demokrasi Pancasila dan UUD’45 dari Rongrongan ide Khilafah

REP | 18 June 2013 | 21:27 Dibaca: 712   Komentar: 5   0

Bangsa Indonesia adalah sekelompok manusia yang bermasyarakat dan bertempat tinggal di wilayah kawasan Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Mereka punya semangat cita-cita ,asal-usul,norma hidup dan watak yg sama.Kemasyarakatan yg bermacam-macam suku,agama,kebudayaan. Norma yg berbeda-beda itu sebenarnya satu tersimpul dalam semboyan bhinekka tunggal ika.

Organisasi yg mengikat ditingkatkan lagi menjadi bangsa lalu negara yg memiliki keinginan luhur supaya tercapai kehidupan kebangsaan yg bebas,bersatu,berdaulat,adil,dan makmur. Pencetusan keinginan itu adalah proklamasi 17 Agustus 1945,Saat lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sesungguhnyalah, republik ini berdiri atas sokongan berbagai aliran ideologi. Mulai dari Tan Malaka yg lebih dulu memperkenalkan konsep republik ini pada tahun 1925 dengan karyanya Naar de republik atau menuju Republik Indonesia lalu aktivis-aktivis beraliran kiri, kanan, tengah, bahkan liberal sekalipun, ikut andil dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Hingga puncak proklamasi 17 Agustus 1945, mereka bersatu padu.

Bulir masalah baru menampakkan diri setelah proklamasi. Aliran liberal menghendaki Indonesia menjadi negara Uni Belanda dan menerapkan sistem demokrasi ala Barat. Para pejuang kiri, berusaha menjadikan komunisme menjadi ideologi negara. Sementara aktivis kanan, menghendaki lahirnya negara Islam.

Bung Karno? Proklamator dengan endapan banyak ideologi, Bapak Bangsa yang jatuh hati terhadap kultur dan budaya Nusantara dari Aceh hingga Papua, sama sekali tidak menghendaki Indonesia liberal, Indonesia negara Islam, Indonesia menjadi negara komunis, atau bentuk-bentuk negara lain.

Pancasila adalah ideologi yang ia tawarkan. Pancasila adalah ideologi yang tumbuh dari bumi pertiwi. Pancasila adalah hasil endapan pergulatan batin, intelektual dan budaya luhur bangsa ini. Terlebih, manakala ia tawarkan Pancasila pada pidato 1 Juni 1945, tidak satu pun tokoh bangsa ini yang menolak.

Jika kemudian Sukarno melangkah dengan panji Pancasila, itu karena ia meyakini, Pancasila saja yang paling pas dan cocok buat bangsanya. Ia pun mengayuh biduk Indonesia Raya ke samudera ganas. Ia dihantam ombak komunis, ia diterjang ombak kapitalis-imperialis, ia digoncang ekstrim kanan.

Sukarno sukses memadamkan setiap upaya rongrongan terhadap Pancasila dan UUD’45 mulai dari Peristiwa Madiun 1948(kalau benar),DI/TII,PRRI/PERMESTA.Pun demikian dengan penguasa setelahnya yg sukses menumpas PKI yg memberontak pada Pancasila yg “sakti”,Pasca G30S 1965(mulai diragukan kebenarannya setelah rezim penguasa itu tumbang).

Waktu terus berlalu,Ketika Pancasila sudah jauh dari harapan para pendiri bangsa serta kegagalan negara mewujudkan cita-cita kemerdekann berupa tegaknya keadilan sosial dan terciptannya kesejahteraan yg merata.Korupsi yg menggurita bukti nyata kegagalan ini, maka ide untuk menegakkan keadilan khilafah mulai muncul di negara ini.

Seperti pendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yg berkumpul di GBK dalam rangka menghadiri puncak perayaan Muktamar Khilafah 2013,awal Juni silam.Agenda Muktamar Khilafah ini, jelas dia, kembali mengokohkan peran Khilafah di tengah arus perubahan besar yang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia.Kenapa mereka mau menegakkan khalifah di bumi Indonesia?Apakah hak2 mereka tidak dipenuhi negara,Apakah mereka didzolimi negara?

Negara Indonesia bukanlah negara Islam,tetapi negara Demokrasi Pancasila.40% wilayah NKRI dikuasai oleh masyarakat Kristen,Budha dan Hindu meskipun secara kuantitas penduduk Indonesia 90% beragama Islam tapi konsentrasi penduduk terbanyak itu hanya di Pulau Jawa&Sumatera.Jadi bangsa Indonesia itu adalah manusia yg bersendikan Pancasila dan bhinneka tunggal ika.

Hizbut Tahrir membuat rapat akbar mengusung khilafah dan mengharamkan demokrasi. Mereka juga kerap demo dan berpawai mengkafir-kafirkan demokrasi adalah. Padahal rapat akbar, demo, pawai adalah aktivitas2 yang jadi karakter khas demokrasi. Artinya, kalau mengikuti cara berpikir HTI, rapat akbar, demo, dan pawai adalah haram.

Berdasarkan sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia,prinsip ketertiban yg akan dituangkan ke dalam hukum tertulis itu adalah prinsip demokrasi. Kita wajib menghormati dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi itu.Hukum tertulis itu merupakan pendukung yg memperkukuh bangsa Indonesia di dalam segala gerak.tingkah laku,tindakannya.Dengan prinsip itu negara berusaha menciptakan kemakmuran bangsa dengan memperhatikan kepentingan rakyat.

Dua landasan yaitu landasan ideologi dan landasan struktural. Landasan ideologi adalah Pancasila dan landasan  strutural adalah UUD 45,Keduanya itulah yg menjadi sumber hukum kita.Dan harus kita pertahankan demi cita-cita dan tujuan bangsa.

Sekarang sudah tidak ada lagi Soekarno maka tugas yg mulia itu harus kita lanjutkan, mari hargai asas bhinneka tunggal ika,mari bertoleransi antar umat beragama,mari tegakkan kemanusian yg adil dan beradab,mari eratkan persatuan Indonesia,mari menjunjung tinggi prinsip demokrasi,pemerintah harus menegakkan keadilan sosial,Maaf ini bukan berarti  SARA tapi demi harga mati NKRI mari selamatkan demokrasi pancasilan dan UUD’45 dari rongrongan ide khilafah.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Optimistis Melihat Produk Lokal dari Pasar …

Asri Alfa | | 22 October 2014 | 19:36

Happy Birthday Kompasiana …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 October 2014 | 18:24

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ngaku Kompasianer Langsung Diterima Kerja …

Novaly Rushans | | 22 October 2014 | 07:36

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 13 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 13 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 14 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Bidan Desa Tak Peduli, Nyawa Bayi …

Yohana Damayanti Ma... | 8 jam lalu

Judge …

Ayu Syahbana Surbak... | 8 jam lalu

Memilih Makanan Halal di Eropa …

Aries Setya | 8 jam lalu

Amplas …

Katedrarajawen | 9 jam lalu

Obama Dream atau Obama Nightmare ? …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: