Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ibnu Dawam Aziz

pensiunsn PNS hanya ingin selalu dapat berbuat yang dipandang ada manfaatnya , untuk diri,keluarga dan selengkapnya

Pemukulan terhadap Pramugari Nur Febriani, menguak Tirai Budaya Premanisme

OPINI | 08 June 2013 | 08:55 Dibaca: 303   Komentar: 0   0

13706563982088753186Foto : Dok. Pribadi.   Satu bentuk Premanisme berkendara.

Budaya Premanisme memang sudah sangat berkembang di Negeri ini, budaya gila hormat dan mencari kehormatan dengan menundukkan apa saja. Bisa mengalahkan apa saja itu merupakan satu kebanggaan.

Kasus pemukulan yang dilakukan Kepala BKPMD Provinsi Bangka Belitung, Zakaria  Umar Hadi terhadap pramugari Sriwijaya Air Nur Febriani sebenarnya hanya salah satu yang sangat kecil bila dibanding dengan berbagai gaya Premanisme yang marak dilakukan oleh siapa saja, bahkan mungkin menjadi kebiasaan kita.

Berani dan bisa melakukan yang orang lain tidak bisa dan tidak berani melakukan menjadi satu kebanggaan, walaupun itu harus melanggar hak orang lain.

INILAH AKU , KARENA AKU BERBEDA DENGAN KALIAN.

Sikap inilah sebenarnya yang sedang tumbuh diNegeri ini. Berkembang dan marak tanpa sadar bahwa dirinya merupakan sumber bencana bagi orang lain. Marilah kita lihat kebiasaan yang dianggap sepele dan biasa akan tetapi akibatnya bisa menjadi luar biasa.

1. Merokok ditempat umum, lihat betapa gagahnya orang yang merokok ditempat umum ? seakan ia berkata “ Jangan ganggu aku ! Kalian harus menghargai kebiasaanku !

2. Naik motor tidak pakai helm, Kalau ia tentara atau Polisi seakan ia berkata “ Siapa berani tegur aku? “ sebaliknya kalau ia sipil “ Buat apa Helm ? ngrepotin aja, masalah Polisi he sepuluh ribupun beres “

3. Menerobos antrian, “ ngapain saya harus antri ? …banyak alasan dibalik premanisme jenis ini.

Dan banyak lagi contoh, betapa melanggar aturan itu menjadi satu kebanggaan, betapa bisa mengalahkan orang lain itu menjadi satu tujuan.

Bangsa ini telah kehilangan budaya yang luhur sebagai jati diri Bangsa Indonesia .

Marilah kita renungkan bersama , apa yang kita lakukan hari ini yang sebenarnya telah melanggar hak orang lain?

Baru kemudian kita renungkan apa hak kita hari ini yang dirampas orang lain ?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 12 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 13 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi & The Magnificent-7 of IndONEsia …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Diperlakukan-Dikerjain-Anda Bagaimana? …

Astokodatu | 8 jam lalu

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 8 jam lalu

Kemana Hilangnya Lagu Anak-anak? …

Annisa Ayu Berliani | 9 jam lalu

[Nangkring Cantik] Cantik itu harusnya luar …

Bunda Ai | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: