Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fey Down

Simple lady who likes the simple things in life. Berusaha menulis yang bermanfaat bagi masyarakat. selengkapnya

Pelajaran Berharga Dari Pak Ikhsan, Penjual Kerupuk Tuna Netra

HL | 07 June 2013 | 23:51 Dibaca: 2196   Komentar: 33   20

1370623326722593272

Picture: Fey Down

Setelah saya menulis tentang pak Ikhsan, seorang tuna netra penjual kerupuk di Pamulang Barat. Ada seorang Ibu cantik  SW sahabat saya dari Jeddah mengirim dana untuk  beliau.  Pesan si ibu, semua terserah saya gimana ngaturnya. Kalau dibeliin semua, gimana bawanya ya? Saya bertekad, amanat harus dilaksanakan hari ini juga agar hati tak ada beban.

Jum’at pagi, kira kira jam 10.30 saya  meluncur naik motor bersama anak perempuanku. Dalam perjalanan saya berdoa, semoga Pak Ikhsan hari ini berjualan.  Dari kejauhan nampak beliau  sedang duduk menunggu pelanggan. Motor berhenti perlahan tepat di depan dagangannya, sambil saya ucapkan salam. Iapun  membalas salam dan senyum tulus tersungging dibibirnya. Saat itu saya berpikir, berapa banyak diantara kita yang berbadan sehat, tak kekurangan apapun, tapi selalu mengeluh dan sulit tersenyum, padahal senyum itu gratis dan termasuk ibadah.

Terlintas dalam hati dari  pada uang dibelikan kerupuk semua, pak Ikhsan dapat apa? sedang untung kerupuk sangat kecil. Sayapun bicara hati hati sekali dengan beliau.

” Pak, maaf lho ya..Ini ada titipan untuk bapak dari ibu SW di Jeddah ” ( Sambil saya sebutkan  jumlahnya)

Jawaban pak Ikhsan sangat mengejutkan.

” Maaf ibu,  bukan saya menolak. Saya masih muda dan bukan termasuk golongan orang yang berhak menerima zakat. Saya kan ada pekerjaan berjualan kerupuk. Beli saja kerupuk saya dengan uang titipan dari Ibu SW itu.”

Saat itu terlintas dipikiran saya, berapa banyak oknum  yang punya jabatan masih suka minta bagian jika  ada proyek2 kakap.  Berapa banyak oknum berseragam yang tanpa malu2 minta uang disaat warga sedang butuh bantuan. Sebagai manusia kadang  kita pun merasa  senang jika ada yang memberi uang,  padahal kita tak kekurangan dan  tubuh kita sehat. Sungguh mestinya kita semua malu pada diri sendiri.

Lihatlah pak Ikhsan yang memegang teguh pendirian.  Walau ia tak dapat melihat  namun mata hatinya mampu menembus dunia. Bibirnya selalu mengucap  syukur pada Allah SWT

Pak Ikhsan punya harga diri, tak mau dikasihani. Ia  tak ingin menerima uang sumbangan tanpa bekerja.  Jika ada yang membeli kerupuk lalu kembalinya diberikan pada pak Ikhsan, baginya itu tak masalah. Ia bangga menjadi diri sendiri, ia bangga menjadi suami dan ayah yang  bertanggung jawab untuk anak istrinya.

Saya dan anak perempuanku saling pandang karena bingung. Tak lama saya ajak beliau bercanda.

” Duh pak Ikhsan, kalau uang ini di beliin kerupuk semua, bawanya  gimana pak? Rumah saya kan jauh.” (terpaksa deh bohong dikit)

Hampir sepuluh menit saya dan pak Ikhsan ngotot ngototan. Saya ingin sampaikan amanat, pak Ikhsan nolak kalau hanya diberi uang tanpa membeli kerupuknya. Akhirnya musyawarah tercapai juga, beli kerupuk sedikit, sisanya untuk beliau, tapi dengan pesan.

” Jangan sering sering kayak gini ya bu, saya ngga mau lho banyakan terima uangnya dari pada beli kerupuknya.” ujar Pak Ikhsan.

Disaat kita manusia sehat , senang sekali jika ada yang sering sering kasih hadiah. Malah berani minta terang terangan, seperti seseorang yang saya kenal, tiap ketemu selalu bilang “Mana oleh oleh buat gue, tinggal di luar negeri pelit amat!” Dia ngga peduli keluarga saya banyak di Indonesia.

Setelah kerupuk masuk kantong plastik besar, uang sudah saya serahkan sambil sebutkan jumlahnya. Sayapun bertanya tentang anaknya yang baru berusia 8 bulan. Binar binar bangga terpancar dari wajahnya.

Tak lama pak Ikhsan cerita dengan tetap tersenyum.

” Pernah lho bu, bulan puasa tahun lalu. Ada sepasang suami istri beli kerupuk saya pake uang palsu. Uangnya 100 ribu, beli kerupuk 2, saya kembaliin 90 ribu. Sampai rumah kata istri saya uangnya palsu”

” Ah?? tega amat tuh manusia pak? Bulan Ramadan bukannya banyak beramal malah nipu bapak.” Geram sekali saya mendengarnya.

” Ngga apa apa bu, Allah Maha Melihat setiap perbuatan manusia.  Saya juga bilang sama istri saya, biar saja mereka menipu saya,  rezeki dari Allah  tak akan tertukar “

Pak Ikhsan kembali berkisah ia berdagang dari tahun 2011 dan pernah dagang di perumahan Griya Jakarta. Disana pembeli ramai sekali, tiba tiba ada yang ikut berdagang kerupuk disana. Iapun mengalah dan pindah ketempat yang sekarang ini. Lokasinya tepat di depan masjid Al Munawarah, Witana Harja Pamulang Barat. Alhamdulilah, katanya rezeki dari Allah ada dimana mana.

” Pak , saya bantuin ya jualan. Kan ramai tuh pak mobil motor pada lewat.” Ujarku PD abis karena ingin bantuin dagangan pak Ikhsan biar cepat habis.

” Tidak usah ibu, jika yang datang pada saya ingin membeli kerupuk. Itu artinya mereka IKHLAS membeli dagangan saya, tapi kalau ibu bantuin cegat mereka ditengah jalan, artinya sedikit memaksa. Terima kasih bu, tak apa saya duduk di sini menunggu pembeli. “

Sambil mengucapkan salam, sayapun pergi meninggalkan pak Ikhsan. Kerupuk yang tadi kami beli, kami bagikan pada  pengemis, nenek penjual pecel, kakek tukang parkir, dll. Lega rasanya ketika amanah sudah saya laksanakan, lalu saya ceritakan semua pada ibu SW. Tak lupa saya ucapkan terima kasih disertai doa untuk ibu SW.

Sepanjang perjalanan pulang, banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari pak Ikhsan. Saya tak melihat siapa yang bicara, tapi apa yang dibicarakan. Jika bermanfaat, Insya Allah saya petik hikmahnya.

Betapa mulia hati pak Ikhsan ..terima kasih dan doaku untuknya.

” Semoga pak Ikhsan selalu diberi kesehatan dan mendapat limpahan barokah dari Allah SWT. Amin YRA “

“Hidup terasa lebih berarti jika kita mau berbagi. Berbagi DOA, berbagi KASIH, berbagi REZEKI, berbagi WAKTU dan  berbagi ILMU.  Ternyata jika kita rajin berbagi,  apa yang kita miliki tak akan berkurang tapi bertambah, dan yang pasti bertambah berkahnya. Insya Allah ” (fey down)

Kisah Pak Ikhsan sebelumnya :

http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/05/pak-ikhsan-penjual-kerupuk-tuna-netra-di-pamulang-562525.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 9 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 9 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cerpenku : Setrika Antik Ibu Mertuaku …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Menemanimu Diruang Persalinan …

Toras Lubis | 8 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 8 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 8 jam lalu

Menunggu Hasil Seleksi Dirut PDAM Kota …

Panji Kusuma | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: