Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Andri M Kusumawardhana

Wawasan dan Pengalaman, Modal Utama Kehidupan....

Kaum Sosialita di Kalangan Masyarakat Kota

OPINI | 05 June 2013 | 10:53 Dibaca: 1606   Komentar: 2   0

Jalan jalan lagi, pada suatu sore saya sengaja pergi ke sebuah mall besar di Kota Bandung yaitu BIP, ketika itu saya lagi mencari foodcourt karena saking laparnya.. hehehe.. saya jalan dengan teman saya yang sedikit ortodoks dan pemikiran yang agak kolot, lalu saya dan teman saya akhrinya mendapatkan tempat makan yang sedikit enak dan mahal tentunya , disamping tempat duduk kami terdapat banyak ibu ibu muda dengan bergelantungan jam tangan bermerk, lalu pakaian yang modis dan seksi, serta gadget yang sangat mumpuni dan canggih dengan seorang laki - laki muda, sekitaran 7 orang ibu ibu muda dan 1 orang pria muda disamping meja saya dan kawan saya bercanda ria, dan mengadakan acara acara seperti acara arisan dan lainya, lalu dengan celetuknya teman saya berbicara dengan keras “haduh ibu ibu kayak yang ga punya kerjaan aja di rumah, anak ga diperhatiin “, sampai terdengar oleh satu ibu itu, sebut saja Ibu Mawar sehingga mereka berpindah dua meja dari saya, saya sedikit malu atas perbuatan teman saya, namun memang ada benarnya juga.

lalu, apa yang salah dari kejadian itu? itulah yang menjadi pertanyaan di benak kita, di Kota Besar Bandung, contohnya, kita sering menemukan berbagai macam kaum perempuan paruh baya atau berumur sering mengadakan perjumpaan di mall mall besar dengan menterengkan pakaian yang modis, perilaku yang kebarat - baratan dan melupakan kewajiban sebagai seorang perempuan, dengan mengadakan acara arisan di Mall itu lebih bergengsi daripada melayani dan merawat anak di rumah, ini memang sering terjadi di masyarakat kita terutama di Kota Besar indonesia, lalu apa itu Kaum sosialita? Nah definisi lain mengenai kaum sosialita adalah mereka yang terlahir kaya dan menggunakan kekayaaanya itu untuk kegitan yang bersifat sosial. Tentu saja kegiatan atau aksi sosial yang sesuai dengan kelas mereka. Macamnya bisa menggadakan penggalangan dana dengan konser music, atauperagaan busana, pesta kebun dan lain sebagainya di hotel berbintang dan dimengundang media pastinya. *eh* perlu kita bahas bahwa mereka mengadakan acara sesuai dengan KELAS MEREKA, secara tidak langsung, kita mereka telah mengkasta kita menjadi beberapa bagian kasta seperti umat Arya, di India waktu lampau.

lalu, apakah kaum sosialita dilegalkan? sebenarnya tidak akan menjadi masalah, namun akan menjadi masalah dengan yang namanya Kesenjangan Sosial, sebenarnya kaum sosiailita sendiri telah menciptakan jarak yang begitu jauh antara kaum High Class, dengan Lower Class Jarak antara orang Miskin dan Orang Kaya semakin jauh, dan semakin seperti antara langit dan bumi, dengan melakukannya secara tidak sadar.

apakah akibat dari pergaulan sosialita? sebenarnya tergantung bagaimana kita menyikapinya, banyak sekali daripada kaum “Ibu Ibu” muda terjerat kehidupan hedonis, seperti perselingkuhan, pergaulan seks bebas, dan narkotika lebih parahnya, ada suatu cerita dari sebuah kisah yang diangkat dalam suatu buku menjelaskan bagaimana seorang Ibu Muda, terjerat kasus Suap, Perselingkuhan, pencemaran nama baik dan Narkotika sehingga membuat kehidupan Ibu muda tersebut terpuruk,  satu cerita seorang ibu itu kita panggil Ibu melati, ini sedang mengadakan arisan berondong, arisan dimana yang memenangkan arisan itu mendapat jatah untuk melakukan hubungan seksual dengan seorang Pria Muda / gigolo dengan gratis,  sedangkan ia adalah seorang pejabat tinggi di suatu daerah , dengan dandannan super mentereng, ia datang ke mall dengan teman teman mereka yang mengagungkan kehidupan Jetset mereka, lalu dengan bahagia ia memenangkan arisan itu, lalu tanpa rasa was was dihatinya , ia jalan dengan pria muda itu menuju hotel bintang lima di kota itu, lalu ada seorang wartawan mencium gelagat ibu itu dan akhirnya apa yang terjadi? media meramaikan kejadian itu, sehingga membuat malu dia sendiri juga membuat ibu itu menginap di hotel prodeo karena terbukti memakai narkotika bersama pasangan selingkuhnya, sungguh naas nasib ibu itu.

dari cerita diatas, bisa disimpulkan bahwa, pergaulan sosialita di masyarakat kota seringnya menggundang kehidupan yang hedonis, sehingga banyak pula yang mencibir sinis daripada apa yang mereka lakukan. berkata kata pedas, dan kebanyakan mencaci,

lalu? kalau kita tidak bisa meninggalkan sosialita demi pertemanan, apa yang kita harus lakukan? Kegiatan kaum sosialita itu banyak bukan? selain arisan, adapula acara amal, kita adakan acara amal atau acara apapun atau menjadi tenaga sukarelawan untuk menolong saudara saudara kita di Indonesia yang masih terancam kemiskinan, TANPA DILIBATKAN MEDIA! ingat , Allah SWT tidak menyukai orang yang RIYA, percuma saja kita menjadi tenaga sukwan, tapi melibatkan media, ? sama aja bohong, mungkin orang bilang mau melakukan pembersihan, atau menarik simpati masyarkat? lebih nikmat kalau kegiatan itu secara ikhlas dilakukan.

banyak dari kita juga sering meremehkan kaum dibawah kita, dengan perilaku yang jijik dan antisosial, seperti apa yang pernah dikatakan oleh seorang MAHASISWI perguruan tinggi negeri kota Bandung yang pernah berteman dengan saya dan berbicara seperti ini “Oh iya, kamu kan ga punya mobil, maaf deh! kita gajadi jalan jalan aja, aku ga suka kalau naik angkot, kayak orang kere aja” bagaimana? itulah akibat juga daripada kaum sosialita sendiri, kehidupan malam, dan kehidupan hedonis semakin mereka puja, tanpa melihat ke bawah, tanpa menengok kiri kanan, dan tanpa melihat dan merasakan perasaan oranglain.

saran saya bagi kaum sosialita yang membaca artikel ini, kalau misalnya anda tidak ingin meninggalkan hal tersebut, cobalah untuk menghargai sesama, baik itu orang yang dibawah kita maupun sesama kita, jangan memperlihatkan kekayaan kita di depan umum demi sebuah gengsi, tapi perlihatkan Jiwa besar kita kepada orang lain dengan menolong sesama yang lebih membutuhkan, dan memberikan kontribusi kepada negara kita dengan hal hal yang positif.

#semoga Bermanfaat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 9 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 14 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Noise Penyebab Miskom Dalam Organisasi …

Pical Gadi | 8 jam lalu

Rindu untuk Negeri Intimung …

Riza Roiyantri | 8 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 8 jam lalu

Akankah, Fatin Go Kompasianival? …

Umar Zidans | 8 jam lalu

Menteri yang Diharapkan Bisa Profesional …

Yulies Anistyowatie | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: