Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mutaya Saroh

Sedang belajar bahasa dan sastra indonesia di UNY. Senang membaca dan menulis. Bermimpi kelak akan selengkapnya

Antropologi Sastra

OPINI | 05 June 2013 | 00:14 Dibaca: 320   Komentar: 0   0

Antropologi sastra belum mendapatkan perhatian yang bagus, hal itu menyebabkan perkembangannya pun tidak sesignifikan psikologi sastra yang telah bergerak sejak lama di indonesia. Kemungkinan hal itu terjadi karena belum ada yang mau memperhatikan antopologi sastra sebagai salah satu kajian yang penting untuk perkembangan karya sastra Indonesia, dalam kaitannya dengan hubungan sastra dan budaya masyarakat.

Sepanjang yang diketahui, mengutip dari buku karya Kutha Ratna, isu mengenai hubungan antara sastra dan antropologi pertama kali muncul dalam kongres ‘Folklore and Literary Anthropology’ (Poyatos, 1988: xi-xv) yang berlangsung di Calcutta (1987) diprakarsai oleh Universitas Kahyani dan Museum India. Oleh karena itu, tidak secara kebetulan buku yang diterbitkan pertama kali diberikan subjudul ‘A new Interdisiplinary Approach to People, Signs, and Literature.’ Meskipun demikian Payatos, mengakui bahwa sebagai istilah baik sebagai antropologi sastra maupun sastra antropologi pertama kali dikemukakan dalam sebuah tulisannya yang dimuat dalam semiotica (21:3/4 tahun 1977) berjudul “Form and Function of Nonverbal Communication in the Novel: A New Perspective of the Author-Character-Reader Relationship.” Dalam hubungan ini perlu disebutkan sebuah tulisan singkat berjudul “Toward an Anthropology of Literature” (Rippere, 1970) di dalamnya di jelaskan peranan bahasa dalam karya sastra, yaitu bahasa yang lebih banyak berkaitan dengan konteksnya terhadap realitas, sehingga makna bahasa jauh lebih luas dibandingkan dengan apa yang diucapkan.

Ada dua istilah yang muncul yakni antropologi sastra (Antropology of literature) dan sastra antropologi (Literary Antropology). Lagi-lagi mengutip kata-kata Kutha Ratna, dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai dan demikian isi yang terkandung di dalamnya, yang dibicarakan dalam antropologi sastra adalah analaisis karya sastra dalam kaitannya dengan unsure-unsur antropologi. Sebaliknya, sastra antropologi adalah analisis antropologi melalui karya sastra, atau analisis antropologi dalam kaitannya dengan unsure-unsur sastra. Dalam antropologi sastra, antropologi merupakan gejala sekunder, sebagai instrument, sebaliknya sastra antropologi yang menjadi gejala sekunder sekaligus instrument adalah karya sastra itu sendiri. jadi, antropologi sastra adalah analisis dan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan. Dalam perkembangannya juga mengikuti perkembangan sosiologi sastra yang semula hanya berkaitan dengan masyarakat yang ada dalam karya sastra kemudian meluas pada masyarakat sebagai latar belakang penciptaan sekaligus penerimaan.

Karya sastra yang di dalamnya mencakup masyarakat menjadi bagian, bahkan menjadi latar belakang dan sekaligus penerima ciptaan itu sendiri berarti karya sastra tersebut sudah bukan lagi sebagai refleksi sederhana, bukan semata-mata memantulkan sebagai cerminan masyarakat saja, seperti kata Sapardi Djoko Damono, melainkan merefraksikan, membelokkan sehingga berhasil mengevokaso keberagaman budaya secara lebih bermakna, kata Kutha Ratna.

Ilmu antropologi sastra, memerlukan pemahaman yang terbaik di kalangan para akademis, baik mahasiswa ataupun dosen agar mengalami perkembangan yang bagus. Gunanya untuk kepentingan perkembangan ilmu sastra bagi kehidupan manusia seperti halnya psikologi sastra dan sosiologi sastra. Kutha Ratna menyarankan agar antropologi sastra dimasukkan ke dalam matakuliah.

Yogyakarta, 29 Mei 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 6 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: