Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Tembang Macapat: Pangkur

OPINI | 03 June 2013 | 20:45 Dibaca: 5783   Komentar: 22   11

Tadi malam kami susah sekali untuk tidur. Wong jam 9 malam kok seperti baru jam 5 sore. Padaaaang banget, terang sekali. Padahal jendela sudah ditutup tirai tebal. Oh, Jerman. Well, usai mbak Nen membacakan satu lembar buku cerita untuk kami, saya rengeng-rengeng. Saya menyanyikan lagu Pangkur untuk anak-anak sebelum tidur. Sudut mata kanan saya menitikkan air mata. Terharu. Nostalgila.

Laaaah, jadi ingat, lagu itu pernah saya nyanyikan dalam lomba tembang macapat tingkat SLTP se-kodya Semarang tahun 89-an. Hahaha, menang juara harapan I. Yah, lumayan daripada hanya mengharap juara. Xixi. Kata jurinya, wah cengkoknya bagus, sayang suaranya metal. Hahaha. Sayanya sih, tidak pakai suara dalam seperti sinden tenanan (penyanyi latar yang menemani pak dalang memainkan wayang). Hiya, wong nyanyinya waktu itu tidak bersimpuh tapi berdiri depan mikrophone diatas panggung. Meniru RIF waktu itu, barangkali. “Aku ingin jadi rajaaa ….“

Terima kasih pak Sunar yang menyemangati saya untuk ikut lomba dan menunggu sampai rekap nilai segala, dan tentunya ibunda saya, yang melatih setiap hari pra lomba. Pangkur? Hayukkkk!

13702670771239027794

PR, menulis pangkur pakai hanacaraka

Apa itu pangkur?

Ini dikenal sejak jaman Jawa kuno. Wah, kalau di sekolah tidak ada pelajaran bahasa daerah mana bisa generasi penerus saya di Jerman mendengar Pangkur? (Haaa ini barang langka di Jerman, lhooo).

Pangkur jadi warisan budaya yang apik dan saya gotong sampai Jerman, setidaknya untuk kalangan sendiri. Nanti kalau saya menyanyikannya didepan orang Jerman, nguantuk barangkali.

OK. Pangkur itu adalah salah satu tembang macapat yang dikenal rakyat Jawa. Jumlah barisnya ada 7 atau kami menyebutnya, pitung gatra. Pitu=tujuh dan ng adalah akhiran yang mengaitkan dengan kata kedua, gatra atau baris. Kunci vokal yang bisa ditemukan pada huruf terakhir yakni: 8 - a, 11 - i, 8 - u ,7 - a, 12 - u, 8 - a dan 8 – i.

Contohnya: Sekar pangkur kang winarna dihitung … Se (1) - kar (2) - pang (3) - kur (4) - kang (5) - wi (6) - nar (7) - na (8a).

Argh. Saya baru tahu bahwa ada tradisi rakyat Jawa yang menyebutkan adanya tumpeng Pangkur. Dikatakan ini dibuat untuk jejaka yang meninggal dan dikirim ke makamnya, tho?

Pangkur juga menjadi nama desa dimana Ken Arok menikmati masa kecil. Ini dijelaskan ada dalam riwayat Ken Angrok.

Tuladha atau contoh tembang Pangkur

Satu bait Pangkur saya hafalkan selama barang sebulan. Berikut satu bait tembang yang nadanya munggah-mudhun atau naik-turun, yang saya nyanyikan tanpa teks waktu itu (walah PD sambil umbelen, ingusan):

Sekar Pangkur kang winarna

lelabuhan kang kanggo wong aurip

ala lan becik puniku

prayoga kawruhana

adat waton puniku dipun kadulu

miwa ingkang tatakrama

den keesthi siyang ratri

Cuplikan artinya (secara sembarangan ala saya) antara lain bahwa dalam kehidupan itu, sebaiknya orang setiap saat mempelajari baik dan buruknya sesuatu, entah itu siang maupun malam (misalnya perihal tata krama atau sopan santun). Pada intinya, berisi nasehat yang baik (jadi ingat kakek Jabat).

Nah, semoga ini mengingatkan Kompasianer yang pernah mempelajari salah satu dari sembilan tembang macapat alit (kecil/awal). Kalau lupa, ngepek atau mencontek juga boleh (seperti saya).

Semoga ini masih lestari dan bertahan di era lagu modern layaknya Gangnam style dari Korea atau Pink Amerika.

Mungkin Kompasianer bukan orang Jawa asli, atau hanya leluhurnya saja yang Jawa, tetangganya yang Jawa atau pernah ke Jawa … Tak jadi soal. Mari nembang macapat. Kata bapak saya, macane papat-papat (bacanya empat-empat). OK? Salam nguri-uri budaya Jawa. (G76)

Sumber:

1. Pengalaman pribadi

2. Pangkur

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 11 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Polwan Polres Ponorogo Gemulai Menari …

Nanang Diyanto | 7 jam lalu

Tilang Saja, pak… dan saya pun ikutan …

Femmy Jaco | 8 jam lalu

Efektifkah Pertanyaan Kita?? …

Sri Endang Supriyat... | 8 jam lalu

Perubahan, Dimulai dengan Kesadaran bahwa …

Fidelia Divanika Ku... | 8 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: