Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Tembang Macapat: Pangkur

OPINI | 03 June 2013 | 20:45 Dibaca: 9494   Komentar: 22   11

Tadi malam kami susah sekali untuk tidur. Wong jam 9 malam kok seperti baru jam 5 sore. Padaaaang banget, terang sekali. Padahal jendela sudah ditutup tirai tebal. Oh, Jerman. Well, usai mbak Nen membacakan satu lembar buku cerita untuk kami, saya rengeng-rengeng. Saya menyanyikan lagu Pangkur untuk anak-anak sebelum tidur. Sudut mata kanan saya menitikkan air mata. Terharu. Nostalgila.

Laaaah, jadi ingat, lagu itu pernah saya nyanyikan dalam lomba tembang macapat tingkat SLTP se-kodya Semarang tahun 89-an. Hahaha, menang juara harapan I. Yah, lumayan daripada hanya mengharap juara. Xixi. Kata jurinya, wah cengkoknya bagus, sayang suaranya metal. Hahaha. Sayanya sih, tidak pakai suara dalam seperti sinden tenanan (penyanyi latar yang menemani pak dalang memainkan wayang). Hiya, wong nyanyinya waktu itu tidak bersimpuh tapi berdiri depan mikrophone diatas panggung. Meniru RIF waktu itu, barangkali. “Aku ingin jadi rajaaa ….“

Terima kasih pak Sunar yang menyemangati saya untuk ikut lomba dan menunggu sampai rekap nilai segala, dan tentunya ibunda saya, yang melatih setiap hari pra lomba. Pangkur? Hayukkkk!

13702670771239027794

PR, menulis pangkur pakai hanacaraka

Apa itu pangkur?

Ini dikenal sejak jaman Jawa kuno. Wah, kalau di sekolah tidak ada pelajaran bahasa daerah mana bisa generasi penerus saya di Jerman mendengar Pangkur? (Haaa ini barang langka di Jerman, lhooo).

Pangkur jadi warisan budaya yang apik dan saya gotong sampai Jerman, setidaknya untuk kalangan sendiri. Nanti kalau saya menyanyikannya didepan orang Jerman, nguantuk barangkali.

OK. Pangkur itu adalah salah satu tembang macapat yang dikenal rakyat Jawa. Jumlah barisnya ada 7 atau kami menyebutnya, pitung gatra. Pitu=tujuh dan ng adalah akhiran yang mengaitkan dengan kata kedua, gatra atau baris. Kunci vokal yang bisa ditemukan pada huruf terakhir yakni: 8 - a, 11 - i, 8 - u ,7 - a, 12 - u, 8 - a dan 8 – i.

Contohnya: Sekar pangkur kang winarna dihitung … Se (1) - kar (2) - pang (3) - kur (4) - kang (5) - wi (6) - nar (7) - na (8a).

Argh. Saya baru tahu bahwa ada tradisi rakyat Jawa yang menyebutkan adanya tumpeng Pangkur. Dikatakan ini dibuat untuk jejaka yang meninggal dan dikirim ke makamnya, tho?

Pangkur juga menjadi nama desa dimana Ken Arok menikmati masa kecil. Ini dijelaskan ada dalam riwayat Ken Angrok.

Tuladha atau contoh tembang Pangkur

Satu bait Pangkur saya hafalkan selama barang sebulan. Berikut satu bait tembang yang nadanya munggah-mudhun atau naik-turun, yang saya nyanyikan tanpa teks waktu itu (walah PD sambil umbelen, ingusan):

Sekar Pangkur kang winarna

lelabuhan kang kanggo wong aurip

ala lan becik puniku

prayoga kawruhana

adat waton puniku dipun kadulu

miwa ingkang tatakrama

den keesthi siyang ratri

Cuplikan artinya (secara sembarangan ala saya) antara lain bahwa dalam kehidupan itu, sebaiknya orang setiap saat mempelajari baik dan buruknya sesuatu, entah itu siang maupun malam (misalnya perihal tata krama atau sopan santun). Pada intinya, berisi nasehat yang baik (jadi ingat kakek Jabat).

Nah, semoga ini mengingatkan Kompasianer yang pernah mempelajari salah satu dari sembilan tembang macapat alit (kecil/awal). Kalau lupa, ngepek atau mencontek juga boleh (seperti saya).

Semoga ini masih lestari dan bertahan di era lagu modern layaknya Gangnam style dari Korea atau Pink Amerika.

Mungkin Kompasianer bukan orang Jawa asli, atau hanya leluhurnya saja yang Jawa, tetangganya yang Jawa atau pernah ke Jawa … Tak jadi soal. Mari nembang macapat. Kata bapak saya, macane papat-papat (bacanya empat-empat). OK? Salam nguri-uri budaya Jawa. (G76)

Sumber:

1. Pengalaman pribadi

2. Pangkur

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 3 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Semoga Presiden Jokowi Tidak Salah Pilih …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Pelatihan Intel Teach Project Based Learning …

Aosin Suwadi | 9 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 10 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: