Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Amir Hamzah

Volunteer di Pemuda Penggerak Desa | Blog : pemudapenggerakdesa.blogspot.com. I am twin boy and just selengkapnya

Nilai-nilai Pancasila yang Hilang

OPINI | 02 June 2013 | 07:43 Dibaca: 391   Komentar: 1   1

Baris-berbaris rasanya saat ini sudah tidak diminati siswa-siswi lagi. Bisa dihitung orang yang  mau baris-berbaris mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati kemerdekaan indonesia (tgl. 17 Agustus). Alasannya mungkin sederhana, panas lah, gak asyik lah atau ngapain capek-capek ikut upacara. Mendingan jalan-jalan dan jajan, daripada panas-panasan gak jelas.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawannya..” begitulah pelajaran PPKN yang aku terima ketika duduk di bangku MTs. Siswa sekarang mungkin tidak tahu apa itu kepanjangan dari PPKN karena saat ini pelajaran itu kini telah diubah menjadi PKN. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, itulah kepanjangan dari PPKN. Eskul Pramuka yang kurang diminati ditambah lagi dengan penanaman nilai-nilai pancasila yang sudah meredup mengakibatkan merosotnya rasa naionalisme dalam diri siswa. Lambat laun mengikis dan akhirnya menghilang dalam dirinya.

Sederhananya, ketika kita sudah tidak mau mengikuti upacara memperingatai kemerdekaan 17 Agustus berarti bisa dikatakan bahwa kita sudah tidak menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah mengorbankan seluruh harta, keluarga, bahkan nyawanya untuk kemerdekaan yang kini kita nikmati. Alangkah tidak tahu diri, tidak punya malu, dan tidak memiliki harga diri jika memiliki pandangan bahwa upacara bendera itu tidak memiliki makna.

Jika para pahlawan yang dulu memperjuangkan kemerdekaan masih hidup, tentu mereka akan merasa sedih dan menyayangkan sikap generasi penerus bangsa yang saat ini mengalami dekadensi moral. Sikap apatis dan tidak tahu balas budi serta tidak menghargai perjuangan-perjuangan yang telah mereka korbankan demi kemerdekaan anak cucunya kelak. Kenapa hal ini terjadi??

Budaya pancasila sudah hilang, pancasila yang dulu sakti kini sudah tidak begitu sakti. Bahkan dalam acara televisi suasta disiarkan ada seorang memiliki gelar tinggi, bahakan bisa dikatakan sebagai orang penting. Tetapi ketika diperintahkan untuk menghafal pancasila, ternyata ini tidak hafal lima dasar pancasila tersebut. Sungguh sangat memalukan dan tentunya tidak boleh ditiru, orang seperti ini.

Berarti, jangannkan ia mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, hafal juga tidak. Semua terasa percuma, gelar yang ia punya tak begitu berarti jika nilai-nilai yang ada dalam pancasila sudah ia lupakan. Wajar jika korupsi, kejahatan, tawuran bahkan pencabulan terjadi setiap hari.

Tulisan bhineka tunggal ika yang terdapat pada pita burung garuda, kini hanya simbol tulisan semata. Tak lagi memiliki nilai bahkan sudah banyak dilupakan oleh kita. Kita saksiakn kerusuhan dan tawuran anatar warga yang sering sekali terjadi. Ini menandakan bahwa perbedaan tak lagi dihargai. Telah dicabik-cabik dan dirusak oleh generasi yang tidak bertanggung jawab. Generasi yang tidak merasakan pedihnya perjuangan melawan penjajah, untuk memeperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Tidak hanya itu pedoman yang ada dalam pancasial itu sendiri kini telah terkikis. Apakah kita masih ingat akan arti “bhineka tunggal ika..” walaupun berbeda-beda suku, adat dan bahasa tapi kita tetap satu. Kini yang terjadi malah sebaliknya, tawuran tidak hanya dilakukan oleh sisiwa dan mahasiswa saja, melainkan kini dilakukan oleh warga. Sungguh amat disayangkan. Perpecahaan yang ada malah semakin meluas dan seharusnya kita bangkit dan sadar akan semua ini. Yuk kita perangi (KKN) Korupsi Kolusi dan Nepotisme… tapi jangan malah menjadi temannya. Apakah kita siap???

Ditingkat pejabat, pancasila sudah dijadikan sebagai “alat” untuk memperkaya diri dengan mengatasnamakan rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat, demikian nama yang mereka punya. Tetapi yang terjadi hak-hak rakyat tidak pernah diberikan. Rakyat tidak pernah merasa diperhatikan dari semua kebutuhannya. Petani tak lagi dihargai, pendidikan masih saja harus dibebankan biaya dan masih banyak yang lainnya.

Jika benar-benar mengakui dirinya nasionalis buktikan. Jika merasa agamis buktikan. Mengaku sebagai nasionalis dan agamis seharusnya dibuktikan dengan mentaati nilai-nilai pancasila itu sendiri. Kesalehan sosial dan kesalehan spiritual harus berimbang.

Pengikisan Nilai-Nilai Pancasila
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak lebih suka menggunakan media sosial, sebut saja facebook. Padahal, secara tidak langsung facebook dapat merusak tatanan kebiasaan masyarakat indonesia. Misalnya saja tegur sapa dan saling menghormati. Apa yang terjadi dengan Facebook? kebiasaan yang seing kita bangun justru malah hilang sedikit demi sedikit. Memiliki Facebook boleh-boleh saja, tetapi tidak sampai berlebihan, apalagi memprovokasi pihak lain.

Begitu juga dengan handphone. Banyak disalah gunakan dalam menggunakannya. Dulu, sebelum ada handphone bisa dikatakan sangat jarang orang membatalkan janji, bahkan bisa dikatakan hampir selalu ditepati. Semenjak ada Handphone mendorong seseorang untuk mudah dalam membatalkan janjinya. Lima menit sebelum pertemuan, ia dengan mudahnya membatakna perjanjian yang sudah disepakati dua minggu yang lalu.

Media televisi tak lagi memberikan pendidikan. Salah satu televisi swasta yang menayangkan kemampuan seseorang dalam bernyanyi. Setelah seleksi yang cukup panjang akhirnya dipilihkah beberapa finalis. Dari beberapa finalis ini mereka akan dicari mana yang lebih baik. Nah, cara yang dilakukan untuk menentukan siapa yang terbaik ditentukan cengan cara voling suara SMS terbanyak. Kok bisa? bukankah dengan cara yang demikian tidak adil. Buaknkah cara yang demikian sama saja dengan tidak fair?

Sangat jelas dan tanpa disadari pengikisan itu terus ada disekeliling kita. Harus pandai memilah dan memilih serta cerdas dalam mensikapi sesuatu hal. Jangan hanya karena orang lain kemudian kita ikut-ikutan. Masa depan negri ini ada di tangan kita, kalau bukan kita yang menjaganya siapa lagi?

*********

(Artikel ini pernah diikutkan lomba blog, di www.PustakaIndonesia.org dengan tema “Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 3 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 5 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Menteri, Tolong Hentikan Nyiksa Anak SD …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Dari Pelukis Jalanan, Becak Indonesia dan …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Memecah Kontroversi RUU Pilkada …

Daryani El-tersanae... | 8 jam lalu

Kodam Jaya Terlibat Serbuan Teritorial ke …

Simon | 8 jam lalu

“Quantum Leap eSeMKa” …

Tjhen Tha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: