Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nur Alfiyah

masih belajar dan akan terus belajar

Konsekuensi Religiusitas Ketauhidan

OPINI | 01 June 2013 | 09:59 Dibaca: 298   Komentar: 1   2

KONSEKUENSI RELIGIUSITAS KETAUHIDAN

Tauhid berarti mengesakan Tuhan Yang Maha Esa, baik dari sifat, dzat, dan perbuatanNya. Tauhid merupakan salah satu hal terpenting yang harus dieksplorasi dalam kehidupan seorang mukmin, yangmana tauhid menjadi wujud keimanan seseorang kepada Tuhannya. Alasannya, secara fitrah manusia sebagai makhluk selalu membutuhkan Dzat yang menciptakannya. Lebih dari itu, tidak sedikit dalil-dalil naqli (alQuran dan hadits) yang menyebutkan keEsaan Allah SWT. Adapun dalil aqli yang menyatakan keEsaan Allah SWT didasarkan pada dalil-dalil naqli. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim: “Pikirkanlah tentang keadaan makhluk Allah dan janganlah kamu memikirkan tentang dzat-Nya yang menyebabkan kamu binasa.”

Hadits di atas memberi pengertian bahwa akal manusia terbatas dan tidak mampu mengetahui secara langsung Dzat Allah SWT yang wajibul wujud atas segala kesempurnaanNya. Dan manusia hanya bisa mengetahui dan mengenal sifat-sifat Allah SWT melalui segala bentuk ciptaanNya, dengan cara mengkaji dan memikirkan sistem, aturan, dan unsur-unsur penyusun makhluk tersebut. Dari kegiatan itu, mendorong manusia meyakini kebesaran dan keEsaan Allah SWT yang tidak satupun mampu menandingiNya, dan hal ini merupakan implementasi keimanan seorang hamba sebagai makhluk individu yang meyakini ketauhidan Tuhannya.

Di sisi lain, individu juga bergerak sebagai makhluk sosial. Secara tidak langsung, terdapat konsekuensi religiusitas atas ketauhidan yang ia yakini. Sebagai makhluk yang beragama, individu diharuskan mentaati perintah-perintah agama dan menjauhi segala hal yang dilarang agama. Ketaatan yang dimaksud terefleksikan pada nilai-nilai kebaikan individu baik dalam berhubungan dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam sekitarnya.

Tidak sedikit orang mengatakan, diterima atau tidaknya ibadah puasa Ramadhan seorang Muslim terlihat pada perilakunya setelah bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan lebih menjadi waktu yang tepat bagi seorang muslim untuk beribadah dan berperilaku sebaik-baiknya, di mana seluruh amal ibadah (yang baik ataupun yang buruk) dilipatgandakan ganjarannya. Dan secara tidak langsung bagi muslim yang taat pada agamanya, mereka akan melatih kebaikan dalam dirinya selama satu bulan, sehingga sedikit banyak hal tersebut akan berefek pada perilaku muslim setelah bulan Ramadhan selesai. Apabila setelah bulan Ramadhan, seorang muslim lebih perhatian pada nasib temannya yang mendapat musibah atau sedang kesusahan, maka tidak diragukan lagi usahanya berlatih kebaikan selama bulan Ramadhan.

Perwujudan keimanan seorang muslim terlihat pada perilakunya, baik kepada dirinya ataupun orang lain di sekitarnya. AlQuran menyapa orang-orang yang beriman dengan disertai “wa’amilus shoolihaati”, artinya “dan orang-orang yang beramal sholeh (kebaikan)”. Alasannya, mereka yang beriman adalah yang senantiasa berbuat kebaikan dari setiap segi kehidupannya. Dan bukanlah beriman, mereka yang tidak suka dan tidak ingin berusaha berbuat kebaikan. Tidak berbeda halnya dengan perintah sholat lima waktu, di mana menjadi kewajiban setiap muslim dalam sehari semalam. Allah SWT menyebutkan dalam alQuran efek yang akan dicapai karena telah melaksanakan sholat, yaitu dapat mencegah perkara yang keji dan mungkar. Efek sholat atau yang lebih condong disebut manfaat sholat merupakan konsekuensi beragama atas ketauhidan yang dipegang oleh segenap kaum muslim.

Konsekuensi beragama bukanlah satu hal yang negatif. Ibarat seseorang yang belajar di bangku kuliah, ia yakin pembelajaran dalam perkuliahan akan mengantarkannya pada garba masa depan yang lebih cerah, sehingga ia berusaha mentaati peraturan yang berlaku di perkuliahannya, dan konsekuensi perkuliahan atas keyakinannya itu mendorongnya untuk menghargai dan senantiasa berbuat baik kepada mahasiswa lain, yangmana mereka juga mempunyai hak dan kewajiban seperti dirinya.

Ali Asghar Engineer mengemukakan gagasan terkait gerakan pembebasan Islam yang tujuannya untuk menaburkan nilai-nilai Islam dalam humanistik keagamaan. Alasannya, icon terpenting dalam sejarah kerasulan Muhammad SAW adalah merubah struktur sosial yang timpang dan tidak manusiawi. Beliau tidak hanya melakukan revolusi keimanan, tetapi juga melancarkan protes terhadap realitas sosio-kultural masyarakat Arab saat itu.

Lebih jauh dari itu, Ir. Soekarno mengungkapkan pentingnya api Islam dan bukan abunya. Beliau melihat pentingnya sebuah esensi agama Islam yang berupa Rahmatan lil ‘Alamiin. Di mana ketinggian akhlak adalah karakteristik nilai-nilai keislaman. Islam bukan sekedar jubah dan sorban, bukan pula sebatas tasbih dan sajadah, bahkan sangat ironis saat penampilan fisik bercorak Islam, tetapi esensi Islam tidak diwujudkan dalam ketinggian akhlak yang mulia. Karenanya, sudah seharusnya seorang mukmin siap dan berani menjalani konsekuensi religiusitas ketauhidan yang miliki.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Emak, Emang Enak Nunggu Kereta Sambil …

Masluh Jamil | | 27 November 2014 | 05:41

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | | 27 November 2014 | 01:16

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | | 27 November 2014 | 00:00

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 3 jam lalu

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI …

Abdul Adzim | 12 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 12 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: