Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Neemra Zahra

Ikhlas itu indah

Beberapa Pengalaman Berhenti Merokok yang Mengesankan

REP | 31 May 2013 | 03:55 Dibaca: 1102   Komentar: 4   3

Dalam Rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2013

Merokok adalah hal biasa di negeri kita, bahkan baru-baru ini ada pernyataan dari seorang perempuan politisi   (mantan bintang sinetron) bahwa rokok kretek adalah warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan seperti batik dan tempe, kebetulan yang bersangkutan adalah perokok. Di kalangan pecandu rokok, merokok itu menyehatkan, membuat lebih produktif, mencerahkan pikiran, memudahkan dalam mengalirkan gagasan dan banyak sekali alasan yang dikatakan oleh seorang perokok untuk tetap merokok. Pendek kata sekali merokok, tetap merokok, walau sering terbatuk-batuk, suara serak, wajah kucel, bahkan sebagian pria perokok mengorok lebih keras. Jika dipertimbangkan lebih mendalam, betapa merokok mengganggu seseorang dan lingkungan terdekatnya sehari-hari.

Minimnya informasi tentang bahaya merokok, membangun anggapan bahwa merokok itu baik, sehat, normal, menambah pemasukan negara dari setoran cukainya, memberikan lapangan kerja bagi rakyat kecil, walau penelitian mengatakan bahwa buruh industri rokok mendapatkan upah terendah jika dibandingkan dengan buruh industri lainnya. Adanya hasil penelitian US Surgeon General 2010 (http://www.surgeongeneral.gov/library/reports/tobaccosmoke/index.html) bahwa di dalam asap rokok mengandung 7.000 kimia dan senyawa berbahaya, adiktif dan karsinogenik, apakah informasi seperti ini sampai kepada masyarakat Indonesia di pelosok? Padahal mendapatkan informasi yang benar tentang dampak buruk dari mengonsumsi produk, seperti rokok, yang sifatnya legal tapi berpotensi buruk terhadap Kesehatan, diperdagangkan secara masif merupakan hak asasi yang dijamin Undang-Undang Dasar. Hal ini nampaknya diabaikan oleh pemerintah untuk ditegakkan, mengingat lebih dari sepertiga bangsa Indonesia adalah perokok, dan 70 persen dari perokok tergolong miskin.

Kita lupakan data dan angka tentang konsumsi rokok yang dahsyat di negeri kita, dan kita tengok pengalaman dan perjuangan beberapa orang terdekat saya untuk memutuskan berhenti merokok.

Sahabat saya Atri (57), sejak menjanda menjadi perokok berat, seminggu ia menghabiskan 1 slop rokok putih impor, ia gigih mencari rokok selundupan merek kesukaannya, dan membeli dalam jumlah banyak, sejalan dengan waktu rokok selundupan tersebut sulit ditemukan lagi, jika ada, harganya wow mahal sekali. Akhirnya ia memutuskan ganti rokok putih buatan lokal, beberapa kali ganti merek, ia merasa tidak ada yang cocok, tapi untuk membeli rokok impor kesukaannya, sudah di luar kemampuan. Setelah berjalan 6 tahun Atri merokok, dengan merek rokok yang gonta ganti, suatu hari kejadian buruk menimpa Atri. Suatu malam ia terbangun dari tidur dan merasakan dirinya berputar-putar, panik, ia berpegangan pada pinggiran tempat tidurnya, tapi dia tetap merasa berputar-putar, setelah menutup mata beberapa saat, ia menyadari bahwa ia menderita vertigo hebat. Bolak balik ke dokter, diperiksa ini itu, tidak ditemukan apa-apa, dua bulan Atri tersiksa oleh vertigo, sudah banyak obat yang ditelannya, tak kunjung sembuh. Tetapi satu hal yang tidak dia lakukan adalah stop merokok. Karena derita vertigo, pusing 7 keliling, setiap kali melakukan gerakan tiba-tiba, menengok ke kiri atau ke kanan, bumi serasa berputar-putar mengerikan. Akhirnya, Atri memutuskan untuk berhenti merokok, karena merokok semakin tidak nyaman apalagi dalam keadaan vertigo. Dan sehari setelah berhenti merokok, vertigo pun langsung hilang dan tak pernah datang lagi hingga hari ini 9 tahun kemudian.

Robin (28), ibunya adalah teman saya, sejak SMP ia merokok. Ibunya tidak sanggup melarang anaknya merokok, apalagi jika anaknya sedang bersama-sama dengan teman-temannya, pasti mereka merokok bersama di teras rumah, sambil main gitar, bernyanyi, ngobrol. Ibunya berpikir, sepanjang Robin tidak ngelayap, tak apalah. Hari demi hari, terus berjalan, sampai tiba saatnya Robin akan menikah, ibunya meminta dengan sangat agar ia berhenti merokok. Robin lalu berjanji bahwa sesudah menikah dia akan berhenti merokok. Tibalah hari pernikahan Robin dan Andin. Ibunda Robin berharap Robin segera berhenti merokok, tetapi hal itu tidak terjadi. Setelah setahun menikah, ibunda Robin menyampaikan sekali lagi harapannya agar puteranya berhenti merokok, dengan meneteskan airmata sang ibu meminta dengan penuh harap: “Nak, kamu janji akan berhenti merokok sesudah menikah, kapan kamu penuhi janjimu pada ibu?” Andin, istri Robin, tidak keberatan suaminya merokok, karena ayahnya juga perokok. Akhirnya suatu hari, Robin mengatakan pada ibunya: “Bu, aku mau berhenti merokok, rasanya sudah mulai terganggu, harus mengeluarkan uang ekstra untuk beli rokok, padahal uang rokok bisa aku sisihkan untuk banyak hal yang lebih manfaat. Dimanakah cari pertolongan untuk berhenti merokok?” Ibundanya berjanji akan mengupayakan agar Robin segera mendapat bantuan untuk berhenti merokok. Suatu hari kakak Robin mengatakan bahwa di sebuah toko buku besar, ada terapi berhenti merokok gratis, namanya terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Segeralah Robin diantar kakaknya menuju ke sana, dan diterapi. Terapinya dengan cara ditotok di bagian tertentu (kepala, dada, punggung) selama 15 menit, sebelum ditotok, pasien harus mengucapkan niatnya untuk berhenti merokok. Setelah ditotok, pasien disuruh merokok lagi, dan saat ini yang tidak bisa dilupakan Robin, karena ketika dia menghisap rokok kembali, asapnya terasa sangat tidak enak, dia merasa pusing dengan baunya, mual ingin muntah. Sejak itu dia stop merokok hingga hari ini 3 tahun kemudian. Setelah terapi SEFT dan berhenti merokok sehari, menurut Robin badan terasa lebih segar. Ini ada video tentang terapi SEFT http://pindahanmultiply.wordpress.com/2013/03/16/terapi-seft-untuk-berhenti-merokok-by-fuad-baradja/ yang mungkin bermanfaat untuk dicoba bagi mereka yang sudah berniat untuk berhenti merokok, karena pada terapi ini kuncinya adalah pada niat. Konon, terapi tersebut ditujukan untuk mengembalikan rasa tidak enaknya rokok ketika pertama kali dihisap.

Seorang kerabat saya, pak Arsil (55), adalah perokok berat yang sudah menahun merokok dengan nikmatnya. Ia terkesan dengan menantunya (25 tahun) yang sanggup berhenti merokok, dan ia pun tak ingin kalah berupaya untuk berhenti merokok. Ini merupakan percobaan kesekian berhenti merokok, dan berhasil hanya 3 bulan saja, pak Arsil pun merokok kembali, karena kakak-kakak laki-lakinya semua perokok, tak tahan berada di lingkungan mereka tanpa merokok. Pak Arsil mempunyai anak laki-laki 22 tahun, baru lulus kuliah, tetapi mempunyai keanehan pada bentuk jari-jari dan kukunya, karena kebetulan istri pak Arsil sedang tidak sehat, kaki sering bengkak, badan lemah, sementara bu Arsil tidak mau berobat ke dokter, melainkan lebih suka ke pengobatan alternatif, yang dilakukan oleh seorang dokter di luar kota, maka anak laki-lakinya, Kenny, diajak serta untuk menjalani pemeriksaan. Sungguh mencengangkan bahwa ternyata jari dan kuku Kenny yang mengalami kelainan tersebut merupakan gejala adanya kelainan dan paru dan jantung Kenny, akibat terpapar asap rokok dari kecil hingga dewasa. Pak Arsil terkejut dengan pernyataan dokter, dan rasa penyesalan mulai merambati dirinya, anak laki-laki kebanggaannya harus menderita. Diam-diam, dia berusaha berhenti merokok, walau cukup terlambat. Pak Arsil sadar, sebagai perokok ia merasa sehat dan bugar (rajin jalan pagi), tetapi ia telah mengorbankan orang-orang tersayangnya, anak laki-laki kebanggaannya, mungkin juga istrinya yang belakangan ini mengeluh kurang sehat.

Sahabat saya bernama Benny (50 tahun), perokok berat dan merokok sejak remaja, walau mencoba membatasi sebungkus untuk sehari, tetapi sering gagal dan mengonsumsi rokok lebih dari sebungkus sehari. Sebagai perokok menahun, pastinya sudah banyak penyakit bertengger di tubuhnya, disamping pola hidup tidak sehat, doyan makan, kurang olah raga, maka beberapa kali ia terserang infeksi gusi yang cukup parah, yang menurut dokter karena kebiasaannya merokok. Rupanya racun-racun dari asap rokok yang dihisapnya bertengger di gusi atas bawah, dan mengakibatkan infeksi yang parah, sakit bukan kepalang, dan menyebabkan gigi semua goyang, mulut bau busuk. Karena tidak tahan, istri Benny membawa suaminya ke dokter, dokter menyarankan berhenti merokok, jika tidak ingin kambuh lagi, terapi karena merokok sama artinya dengan kecanduan, maka berhenti merokok adalah hal yang nyaris mustahil. Setelah berobat, Benny sembuh dari sakit, merokok lagilah ia dengan sentosa. Suatu hari ketika Benny dan istri ke luar kota, penyakit radang gusi tersebut kumat, sampai menangis Benny dibuatnya karena sakitnya tak tertahankan. Sampai ia berjanji tidak akan merokok lagi. Tetapi setelah sembuh, ia merokok lagi seperti tak pernah terjadi sakit yang memilukan itu. Disamping radang gusi yang beberapa kali menyerangnya, terakhir Benny terkapar hampir sebulan lamanya, karena penyakit asam uratnya kambuh. Benny perokok dan peminum kopi, penderita asam urat tidak boleh mengonsumsi kopi. Menderita hampir satu bulan tidak bisa berjalan karena kakinya bengkak akibat asam urat, Benny berjanji sekali lagi bahwa ia tidak akan minum kopi, sekaligus tidak akan merokok, dan berjanji akan diet makanan sehat. Sudah satu setengah bulan Benny tidak merokok, tidak minum kopi, dan makan makanan pilihan, dan kami semua seperti menunggu akankah ia kembali merokok? Kita lihat saja sejalan waktu.

Itu beberapa pengalaman orang-orang terdekat saya yang terpaksa berhenti merokok, baik karena sakit yang menderanya akibat merokok, maupun karena keinginan sendiri untuk berhenti karena ingin terbebas dari kecanduan.

Saya percaya dengan berhenti merokok, kita membebaskan diri kita dari kecanduan nikotin pada tembakau yang digunakan sebagai bahan dasar rokok. Yang lebih penting lagi, kita berkontribusi pada udara bersih milik umat yang tak sepantasnya kita kotori, baik dengan aroma tak sedapnya maupun ribuan racun-racun yang sengaja kita tebar (khususnya di dalam ruang: rumah, sekolah, rumah sakit, tempat kerja, tempat ibadah, transportasi umum, tempat umum tertutup lainnya) dan terhirup oleh orang-orang yang kita cintai, teman-teman sekerja, dan mereka yang tidak merokok yang berada di sekitar kita. Ada tulisan informatif yang saya tulis pada waktu lalu, sila baca http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/02/03/dahsyatnya-jerat-kecanduan-produk-tembakaurokok-dan-dampak-kesehatannya-bahaya-laten-bagi-generasi-muda-530935.html

Udara bersih dibutuhkan oleh perokok dan non perokok. Mari hidup berdampingan tanpa saling merugikan dengan mentaati aturan, tidak merokok di tempat di mana tertera tanda tidak boleh merokok.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 12 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: