Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muhammad Armand

Lahir di Polmas-Sulbar. Penulis Buku: "Remaja & Seks". ILUNI. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulsel. selengkapnya

Mandi Darah di Tanah Mandar

OPINI | 28 May 2013 | 10:18 Dibaca: 1395   Komentar: 38   13

ARTIKEL relaksasi ini, cumalah mengundang pembaca, untuk menjejali khasanah dan wawasan akan ragam budaya kita, penulis membaginya untuk Anda, dan pandanglah koleksi-koleksi budaya kita -masih tergenggam-, dan tiada jaminan sekauman kebudayaan etnik tertentu akan eksis, ia ber-evolusi, raib untuk kemudian dilibas oleh kebudayaan-kebudayaan baru. Tarulah budaya fashion yang neo-modernitas yang ‘baru saja’ membumkam fashion tradisional, budaya motor-motoran yang telah menggeser sepeda (budaya China, red), dan jua, kultur transportasi moderen telah mengkanvaskan andong/dokar di kampung saya, terknik persuratan manual dihempas teknologi SMS, pesawat telepon rumah diberangus telepon genggam. Segala ini wujud keajaiban peradaban, dari masa ke masa. Semua atas nama kemudahan hidup manusia, walau hidup manusia sedari dulu sampai sekarang tak pernah mudah, dan berrteman dengan masalah, sebab lahirnya manusia sepaket dengan masalah itu sendiri.

13696264081174166471

Pakaian tradisional, hasil asimilasi kultural etnik Bugis-Mandar (Muhammad Armand, Mei 2013)

Perkenalkan Etnikku

Inilah etnik saya, etnik Mandar. Satu dari sekian banyak ’suku bangsa’ di tanah air kita yang tersayang ini. Etnik ini dipercaya berasal dari Melayu Polinesia, memiliki bahasa sendiri, adat sendiri dan anatomi wajah dan bentuk tubuh yang ke-asia-an. “Kakek-Nenek” kami akrab dengan lautan, hingga manusia Mandar juga lekat dengan profesi nelayan dan bertani seperti mendiang ayah saya. Itu suatu alasan etnografi mengapa lagu-lagu dan puisi-puisi Mandar bersuar dengan eloknya ombak lautan, bersentuhan dengan gemuruh air biru, hingga terciptalah lagu etnik-moderen akan kisah kasih sepasang remaja nan romantis, nyanyian melow dan mendayu-dayu itu bertajuk: “TELUK MANDAR”. Asal kata (etiomologi) Mandar belum ada kepastian asal muasalnya, semua masih hipotesa, hipotesa berdasar pada sejarah orang Mandar di abad 13 (tiga belas). Diduga kuat ‘nomenklatur’ Mandar bersumber dari kata aslinya, yakni MANDAQ, artinya kuat/berani. Saya pun menduga dengan sangat kokohnya bahwa inilah asal kata Mandar, etnik saya.

Selanjutnya, ada ‘kecurigaan’ lain bahwa kata Mandar berasal dari Bahasa Arab; Nadhara. Dan juga pemberian nama lain dari Kolonial Belanda; dengan dua suku kata: Man Dare. Dan kemudian masa, menjadi guyonan di tahun 2000 an, etnik ini berpusat di China karena kemiripan tata huruf: Mandar dan Mandarin. Ha ha ha..

Budaya Mandar-pun masih teguh merawat kebiasaan-kebiasaan dan ritual yang sejalan dengan keyakinan dan agama orang Mandar. Pembacaan Barzanji (Sejarah Rasulullah SAW) masih didendangkan, sunatan untuk anak perempuan pun masih diindahkan dan rebana-rebana yang ditabuh dari perempuan-perempuan Mandar, pun masih terngiang. Amma’ Cammana, dialah derigen dan vokalis nasyid ala Mandar dan beliau juga ‘Guru Spiritual’ Kyai Kanjeng Emha Ainun Nadjib.

Mandi Darah

Saya paham, Mandi Darah adalah kata kunci yang paling Anda ingin ketahui di tulisanku ini. Hingga saya menuliskan sub-tittle ini di penghujung artikel humaniora ini. Kalimat ‘heroik’ ini adalah akronim dari kata Mandar (Mandi Darah). Sangat ironik sebetulnya, ‘mandi darah’ itu simbol kekerasan yang pernah terjadi di tempat kelahiranku -yang kubanggakan ini- dekade 50 an sampai dekade 80 an. Jaman ‘primitif’ itu amatlah disayangkan, di mana pertarungan antar keluarga kerap terjadi, demi gengsi keluarga (siriq), mengutus seseorang untuk menantang satu keluarga dan mengundangnya di suatu area yang telah disepakati untuk unjuk harga diri, uji keberanian, sekaligus uji nekat dalam sabungan nyawa dan tikam-tikaman dalam satu sarung.

Duel Maut pun, tak jarang dihelat, bak Hector Vs Archiles dalam legenda Troy, Yunani. Kala duel dua manusia Mandar, tatapan mata yang garang, langkah kaki yang penuh muslihat, ayunan pedang Mandar mendesing, gemerincing saat berbenturan dengan tombak Mandar yang terkenal mematikan itu. Penonton dari dua kubu, kadang memejamkan matanya saat sabetan pedang merobek pakaian sang petarung namun tiada yang terluka. Berjam-jam pertarungan ini, entah kapan memasuki ronde terakhir. Ada jiwa satria di sana, sebab yang gugur dalam pertarungan itu, jenasah diperlakukan baik-baik, dipulangkan ke rumahnya dengan penuh penghormatan.

Exactly, ‘budaya’ violensi ini barulah terkikis saat orang-orang Mandar bertobat, intropeksi sejarah, reparasi kultur dan anak-anak Mandar kala itu, berikrar agar generasi berikutnya tak lagi memakai semboyan ‘mematikan’ itu. Semboyan Mandi Darah yang minim masa depan, absurd dan pembodohan zaman dan manusianya.

Hingga, haluan budayapun digeser, dan anak-anak Mandar pun, keluar dari persembunyian budayanya untuk pergi ke ‘negeri’ orang menuntut ilmu dengan sabar, serta uletnya dengan motto kuat dari orangtua yang sangat familiar, heroik dan populer, di Tanah Mandar: “Maumi na reppo arriang sapo, mua massikola bhandi ana’u” (Artinya: Biarlah tiang rumahku berpatah-patahan, asalkan anakku mengenyam pendidikan).

Kala itu, anak-anak muda Mandar menyabung nyawa dan mengais ilmu, dipermula dari Makassar hingga Jogjakarta, Jakarta hingga United States of America. Dan semua telah berakhir manis, sebab umbaran mandi darah tiada pernah tergaung lagi di daratan dan di lautan Mandar, tanah kelahiranku^^^

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 9 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 10 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: