Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Abraham Sds

Biarlah dia berbicara mencela kehormatanku. Diamku, adalah jawaban bagi orang yang bodoh. Bukannya aku tidak selengkapnya

Nama-nama Barat Orang Sumatra Barat

HL | 27 May 2013 | 13:40 Dibaca: 2694   Komentar: 92   28

1369647157105561360

Ilustrasi/Admin (Kristianto Purnomo)

Ada satu hal menggelikan pernah saya alami di tahun 1999. Itu saat saya baru duduk di kelas Pendidikan Dasar FSRD-Itenas Bandung - tahun pertama saya merantau. Seorang kawan, sama-sama mahasiswa baru, dia dari Cirebon dan beragama Kristen, bertanya pada saya ; “Bram, lu koq aneh ya, nama baptis dipake-pake?” Kontan saja, berkerutlah kening saya ini sampai 111. “Nama baptis? Gw ke mesjid kale”, jawab saya. Agak terkejut dia, “Oh, sorry. Lu mualaf?”  dia bertanya lagi. Jawab saya, “Bukan, gw Padang totok, muslim dari sananyalah pasti”. Lalu obrolan kami pun berlanjut, seputar dua ‘operating system’ keluaran Milat Ibrahim Corp. ini serta berbagai fitur, version, dan bug-nya. Zzzzzaaaapppp…….. (empat belas tahun kemudian).

Sewaktu membaca artikel karya Mbak Ellen Maringka, “Di Menado Orang Jawa Dilarang Marah”, yang menyebutkan bahwa nama-nama barat banyak dipakai di Menado, saya pun jadi teringat peristiwa tadi. Di provinsi asal saya pun banyak ‘putra-putri daerah’ yang bernama barat –seperti saya contohnya. Padahal, tidak seperti di Menado, pengaruh kolonial Belanda - kecuali program pendidikannya politisi-politisi etis di Den Haag sana - tidak begitu disambut, bahkan cenderung diabaikan. Ini mengherankan, koq bisa ya? Dan sejauh yang saya ingat, hal ini baru booming di tahun 1980-an. Jadinya, beberapa hari belakangan ini saya membulak-balik kembali isi e-perpustakaan di laptop. Karena rupanya tak ada referensi satupun soal ini, saya hanya membaca-baca lagi beberapa file seputar alam adat Minangkabau, tokoh-tokoh dari Minangkabau, juga tentang PRRI/Permesta. Kisah-kisah PRRI/Permesta, terutama PRRI dan efek-efeknya, merangkai suatu opini. Tentunya perlu dites dulu. Saya pun bertanya-tanya juga ke Paman Gugel. Beliau bilang, opini awal saya tadi agak meleset sedikit. Begini kira-kira ringkasan dari Paman Gugel.

Sekitar bulan Agustus 1958, Pak Nasution (ya, yang itu, yang di bahunya ada 5 bintang berderet-deret) sukses menggulung PRRI seperti orang menggulung karpet. Lalu, dimulailah reign of terror Penguasa Perang Daerah. Orang-orang yang bernama macam Burhanuddin, Syamsul, Afrizal, Bahar, Djambek, dll yang ‘kuenceng’ bau Minangnya, menemukan hidup sangat sarik (sulit) ketika itu. Lewat pos militer dikit ditanya macem-macem, salah omong atau salah tingkah dikit minimal dapat 3 - 4 tempeleng, agak mendingan disuruh mandi ngabisin satu batang sabun - semalaman di dalam kolam yang dingin, atau maksimal dikasih cendera mata dua-tiga butir peluru - di kepala. Kesulitan ini sangat terasa bagi yang hidup di pedalaman, sebab operasi militer yang dilancarkan Djakarta memang lebih intens di kampung-kampung daripada di perkotaan.

Namanya orang Minang, banyak akalnya (terhimpit mau di atas terkurung mau di luar), otak pun diputar. Terciptalah formula kalau susah karena ujung bedil pergilah ke pangkal bedil. Berduyun-duyun mereka merantau ke pangkal bedil itu, Djakarta, dan mulai sejak itu (sampai sekarang) jumlah orang Minang di Djakarta terus membengkak melebihi jumlah penduduk kota Padang. Juga, agar bisa lebih survive lagi, bulu ikut diganti. Di masa 1960-an nama-nama Jawa tiba-tiba membludak di kantor-kantor catatan sipil Sumatera tengah dan (terutama) barat. Contoh saja nama om saya ini, Adi Purnomo, sebelas-duabelas kedengarannya dengan nama ipar saya ini, Adi Mulyono, yang memang aseli Madiun. Tak hanya di Sumatra Barat, yang kabur ke Djakarta pun melakukannya, biar tidak bernasib serupa seperti tokoh-tokoh Masjumi di ibukota kala itu (kebanyakan orang Minang dan bernama Minang), juga biar tidak dipersulit pas lagi cari kerjaan di pemerintahan, kepolisian, atau militer (perisai pengaman paling efektif). Cuma yang pakai beberapa nama terlanjur beken seperti Anwar atau Hatta yang umumnya masih bisa hidup ngeri-ngeri adem waktu itu.

Memasuki zaman keemasan Koes Plus dan Panbers, kebiasaan memakai nama non-Minang ini mengambil bentuk baru. Mulai ada beberapa nama asing yang ikut-ikut nimbrung bersama banjir barang impor di dekade 1970-an itu. Tapi, pemakaian nama Jawa masih lebih dominan. Baru pada dekade berikutnyalah, pemakaian nama-nama barat menjadi trend, semacam gaya hidup. Yang umum dipakai biasanya bentuk  barat dari nama-nama nabi tertentu yang luas diketahui, misalnya, John (Yahya –tapi penulisannya sering salah menjadi Jhon) atau Jhonny, David (Daud), Daniel (Danyal). Atau nama Latin seperti Jose, tapi biasa ditulis Yose. Selain itu ada pula Robert, Denis, Byan, Ryan, Lydia, Rebecca, Diana, dll. Ada juga yang berkembang menjadi aneh-aneh seperti ini, Buya Boy Dt. Lestari, atau Jhon Kenedy Dt. Tumanggung. Alasannya lucu-lucu, entah karena dirasa cocok sebab sama-sama barat atau karena pas singkatan dari sesuatu, atau karena memang terasa ‘modern’ dan enak disebut. Tapi, bila ditengok ke belakang, cukup jelas fenomena ini dilatar-belakangi oleh dorongan untuk menciptakan identitas baru.

Masyarakat Minang mengalami luka psikologis yang cukup dalam setelah PRRI ditumpas, yaitu perasaan diri sebagai ‘orang kalah’, atau sebagai ‘pemberontak’, yang diperburuk oleh berbagai kekejaman dan pelecehan oleh Penguasa Perang Daerah waktu itu. Jika dipikir lagi banyak juga pemberontakan di lain-lain daerah di era yang sama ditumpas habis, tapi kenapa bagi masyarakat Minang hal ini terasa lebih menyakitkan? Ini boleh jadi karena perasaan bahwa mereka selama ini telah menjadi ‘buaian’ kelahiran republik, tapi justru dihantam oleh republik yang pernah mereka bidani kelahirannya. Cukup masuk akal kalau mengingat 3 dari 4 bapak pendiri republik ini adalah orang Minang. Tentu dengan hal seperti ini sangat terasa benar pameo, makin tinggi terbangnya makin sakit pula jatuhnya. Ini, secara bawah sadar, mendorong banyak orang Minang untuk berusaha memutuskan diri dari apapun yang mungkin memberi label PRRI, sebab kesannya saat itu Minang=PRRI (kurang tahu apakah efek serupa juga terasa di Sulawesi). Salah-satunya ya itu tadi, mengadopsi nama-nama non-Minang untuk mereka dan anak-anak mereka. Selama pendudukan Penguasa Perang Daerah efeknya cukup berasa. Contohnya, karena pos-pos pemerintahan pendudukan itu banyak diisi oleh orang-orang komunis (musuh bebuyutan Masjumi – parpol yang menjadi motornya PRRI), urusan-urusan seperti akta kelahiran atau surat kematian bisa lancar asal memakai nama-nama baru tersebut. Lain soalnya kalau yang hendak didaftar itu bernama Alamsyah, Syafrizal, Amrizal, dsj. Kalau tidak ditanggapi dengan sinis ya, dipersulit.

Walaupun kemudian – berkat memori bangsa kita yang pendek – PRRI segera terlupakan (terutama setelah G30S/PKI), luka psikologis yang terlanjur tertanam tadi berkembang menjadi sejenis inferiority complex. Apalagi kemudian rejim Suharto, yang mulanya disambut meriah di Sumatra Barat, mulai menyeragamkan seluruh Indonesia dengan Jawanisasi (Di Sumatra Barat, penerapan sistem desa yang paternalistik contohnya, mengacaukan sistem nagari yang lebih sesuai dengan adat/kebiasaan setempat yang berbasis matrilineal). Sebagai bentuk pelarian akibat inferiority complex ini dunia politik akhirnya dijauhi sama sekali, dalam berbagai forum diskusi publik aksen berbicara ditekan sedapat mungkin – malu kalau kedengaran Minangnya, dan soal nama mulailah nama-nama barat dilirik dan dipakai (melihat apapun dari barat sebagai lebih unggul untuk diadopsi).

TIdak banyak yang menyadari hal ini, baru sekitar akhir 1980-an mulai disadari dan akhirnya mengemuka sebagai wacana untuk diteliti. Dewasa ini, dengan semakin berkembangnya perasaan kemandirian lewat otonomi daerah, gejala kembali ke adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah kembali marak. Tapi tampaknya inferiority complex yang telah terlanjur tertanam tadi masih saja melekat. Buktinya, sekarang ini yang banyak dilirik adalah nama-nama Islami dan nama-nama Minang umumnya masih saja dihindarkan.

Begitulah, fenomena dekade 1980-an dan 1990-an yang kadang dianggap lucu ini, sebenarnya berakar dari sesuatu yang tak lucu. Hal yang sama sebenarnya juga menimpa komponen lain bangsa ini, yaitu masyarakat Cina. Bedanya, sementara pada orang Minang fenomena ini adalah sesuatu yang bersifat sukarela – karena desakan keadaan lalu kemudian perasaan rendah diri, terhadap orang Cina jauh lebih buruk lagi karena dilembagakan oleh negara yang katanya ber-Bhinneka Tunggal Ika ini. (Contoh yang memalukan dan bikin saya muak adalah yang menimpa John Lie, pahlawan perang kemerdekaan, PaTi TNI AL yang berdedikasi tinggi, yang harus ganti nama jadi Daniel Yahya Suryadharma).

Untuk putraku, Ismail Hatta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: