Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Joko Martono

belajar memahami hidup dan kehidupan

Mengenang Gempa Tektonik 2006 di Yogyakarta dan Sekitarnya (1)

HL | 27 May 2013 | 06:11 Dibaca: 5191   Komentar: 26   19

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter, Sabtu 27 Mei 2006 pukul 05.53 wib telah meluluh lantakkan wilayah Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo dan sekitarnya.

13696097752008760676

peta lokasi gempa tektonik 2006 (sumber: www.pu.go.id)

Data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam di Yogyakarta, hingga pukul 22.15 wib, di hari pertama tercatat 2.986 orang dinyatakan tewas, puluhan ribu pasien dirawat di beberapa rumah sakit serta rumah penduduk/bangunan rusak berat, roboh rata-tanah dan porak poranda, belum dapat terhitung secara pasti.

Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah, mengingat para korban yang luka berat, patah tulang akibat reruntuhan bangunan masih dirawat di rumah sakit- rumah sakit. Sementara pihak rumah sakit yang berada di Kabupaten Bantul, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman kewalahan dan tidak mampu lagi menampung pasien korban gempa.

Tidak sedikit pasien menempati lorong-lorong, bahkan dirawat di halaman-halaman rumah sakit, menyusul didirikan berbagai tenda darurat telah dijadikan tempat pasien korban gempa mendapat pertolongan.

Beberapa saat setelah gempa, listrik di semua tempat padam seketika, sambungan telepon terputus, termasuk penggunaan telepon selular macet total, tak berfungsi sehingga kontak ke luar daerah bencana sulit dilakukan. Komunikasi berhenti, sementara upaya pertolongan terhadap para korban terus berlangsung.

Di tengah para warga yang bersedih dan duka merenungi nasib keluarga yang menjadi korban, serta hancurnya harta benda, secara tiba-tiba muncul isu/rumor atau desas-desus bahwa segera datang tsunami.

Datangnya sebuah informasi yang tidak jelas sumbernya dan menyebar serentak dari mulut ke mulut, semakin membuat masyarakat menjadi panik, cemas serta bingung, sebagian besar mengajak sanak saudaranya mengungsi ke arah utara atau mencari tempat berlindung yang lebih tinggi dan aman. Kontan, jalan-jalan dari Bantul ke arah utara yaitu Kota Yogyakarta, ke arah Sleman, Magelang macet dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat maupun pejalan kaki.

Beruntung bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitar yang masih berpola pikir rasional, mereka tidak goyah atas hembusan informasi tak bertanggung jawab tersebut. Para warga yang tetap bertahan ini memilih mencari tahu lewat sumber-sumber informasi yang bisa dipercaya. Satu-satunya jalan di tengah perasaan cemas dan gelisah, banyak pihak yang sedang dirundung duka mendalam, medium radio menjadi sarana komunikasi paling handal saat itu.

Adalah stasiun Radio Sonora FM, yang bermarkas di nDalem Tejokusuman Yogyakarta ternyata tetap on air dan secara simultan melakukan siaran sepanjang hari, melaporkan peristiwa gempa serta apa yang terjadi. Di saat yang sama, RRI sebenarnya juga sedang melakukan siaran, hanya saja mengingat stasiun radio siaran ini kurang komprehensif dalam meliput dan menyiarkan segala peristiwa tentang gempa bumi, selanjutnya cenderung diabaikan pendengar.

Dengan demikian, kehandalan siaran yang dipancarluaskan Radio Sonora FM menjadi pilihan utama, bahkan lewat stasiun radio siaran ini persoalan berkait rumor/desas-desus tentang datangnya tsunami dapat ditepis sehingga membuat masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya lega.

Tersebarnya reporter Radio Sonora FM di hampir semua lokasi strategis wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitar, ditampilkannya informan serta tokoh-tokoh kunci (key person) baik tokoh formal maupun non-formal yang berhasil diwawancari dan disiarkan secara live, juga laporan langsung dari masyarakat semakin menambah kepercayaan pendengar untuk mengikuti siaran radio ini tanpa henti.

Malam pertama sesudah gempa, di tengah gelap gulita dan guyuran hujan deras malam hari, rasa panik masih mencekam karena gempa-gempa susulan, medium radio menjadi satu-satunya sarana untuk mengakses informasi yang dibutuhkan masyarakat di lokasi gempa.

Yogyakarta bersedih dan berduka ! Demikian inti liputan yang diungkap media massa. Belum lagi aktivitas Gunung Merapi di wilayah utara mereda, disusul gempa tektonik di wilayah selatan yang justru membawa ribuan korban jiwa. Daerah yang paling parah akibat gempa tektonik adalah Kabupaten Bantul, karena berdekatan dengan episentrum (pusat gempa) yang berada di Samudera Indonesia.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter berpusat di 8,2 LU, 110 BT, berada 37 kilometer selatan Yogyakarta di kedalaman 33 kilometer. Namun sumber lain menyebutkan gempa berkekuatan 6,3 skala Richter.

Akibat gempa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitar, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengemukakan, Provinsi DIY kini dinyatakan dalam keadaan darurat selama lima hingga tujuh hari ke depan, prioritas difokuskan pada penanganan para korban gempa dengan baik.

“Ini keadaan darurat. Dalam kondisi darurat agar masyarakat hilang dari traumatik, menolong pasien terluka itu adalah prioritas . Mereka perlu disuplai melalui sistem distribusi makanan dan sebagainya yang perlu dikonsolidasikan,” ujarnya. Ditegaskan Sultan, penanganan pasien korban gempa harus didahulukan. Setelah itu baru memikirkan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kunjungan di Yogyakarta bersama beberapa menteri, Sabtu (27/5) petang langsung menemui para pejabat DIY di Rumah Dinas Bupati Bantul, HM Idham Samawi. Presiden menaruh perhatian serius dan mengingatkan kepada Gubernur DIY dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) serta para bupati dan walikota yang daerahnya terkena bencana gempa, agar menggunakan sumber dana yang ada untuk membantu korban bencana.

Dikatakan SBY, Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam sudah bekerja dan harus siap bertindak melakukan penanganan dan memberikan yang diperlukan, merawat korban yang luka-luka dan memakamkan yang meninggal, serta mengevakuasi yang belum tertolong. Kebutuhan medis diprioritaskan pengadaan obat-obatan dan tenaga paramedis.

Untuk tanggap darurat, Presiden meminta Gubernur DIY, walikota dan bupati yang daerahnya terkena bencana alam agar membantu sepenuhnya. “Besok (28/5) beberapa rumah sakit lapangan akan segera datang dari Jakarta,” kata SBY. Presiden berpesan kepada masyarakat agar tenang dan jangan panik. Sesuai informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), tidak bakal terjadi lagi gempa susulan yang kuat seperti terjadi Sabtu pukul 05.53 wib lalu. Gempa susulan hanya terjadi dalam skala kecil.

SBY pun meminta kepada wartawan untuk menyebarluaskan informasi sebenar-benarnya kepada masyarakat supaya tetap tenang. Dalam kunjungannya, Presiden SBY sempat meninjau pasien korban gempa di rumah sakit serta mendatangi tenda-tenda pengungsi. Ikut dalam rombongan SBY sejumlah menteri, antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensos Bachtiar Chamsyah, Seskab Sudi Silalahi, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menkes Siti Fadilah Supari, Mendagri Ma’ruf, Menko Polkam Widodo AS, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, serta KASAD Jenderal TNI Djoko Santoso.

Menurut juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng, Presiden bersama sejumlah menteri untuk sementara waktu berkantor di Istana Presiden, Gedung Agung Yogyakarta guna memantau langsung penanganan korban gempa.

Beberapa gedung/bangunan rusak berat

Dari amatan langsung ke lokasi bencana, bangunan yang tampak mengalami kerusakan akibat gempa adalah Kampus STIE Kerja Sama di Jalan Parangtritis Yogyakarta, tembok/gedungnya rontok, Gedung BPKP yang letaknya juga di Jalan Parangtritis bangunan menjadi miring, rusak berat. Bandara Adisutjipto lumpuh setelah terminal penumpang domestik ambruk.

Selanjutnya diberitakan media bahwa gempa tektonik telah merusak benda cagar budaya (heritage) di antaranya Tembok Situs Tamansari, Bangsal Trajumas Keraton Yogyakarta, Kediaman GKR Pembayun- puteri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, beberapa rumah pangeran dari Keraton Yogyakarta, Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, Puro Pakualaman (Bangsal Sewotomo), Benteng Makam Panembahan Senopati, Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Pacak Suji, Kotagede), Candi Prambanan, Stasiun Prambanan, Masjid Pathok Negari, tak terkecuali makam raja-raja di Imogiri.

Di wilayah Klaten juga diwartakan kerusakan dialami Matahari Plaza berlantai 4 yang sebagian tembok retak dan jebol, Stadion Trikoyo temboknya roboh menutup bahu jalan. Di lokasi Candi Prambanan, empat candi yang mengalami kerusakan yaitu Candi Plaosan, Sojiwan, Brahma dan Siwa. Arca dan stupa yang berada di empat candi tersebut roboh. Candi Brahma yang berada di bagian barat mengalami rusak paling berat, pagar dan gapura candi juga mengalami kerusakan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan telah menyempatkan waktu untuk meninjau kompleks Candi Prambanan yang rusak akibat diguncang gempa.

Hingga hari kedua (28/5) setelah gempa, korban tewas mencapai 4.374 orang, jumlah ini diperkirakan bertambah mengingat evakuasi masih terus dilakukan. Korban tewas dari Bantul ternyata paling besar yaitu 3.080 orang, Klaten 844 orang, Yogyakarta 317 orang, Sleman 76 orang, Gunungkidul 46 orang, Kulonprogo 7 orang, Boyolali 4 orang. Sementara korban luka berat dan ringan di seluruh lokasi gempa diperkirakan lebih 20 ribu orang.

Di Bantul tercatat luka berat 2.700 orang dan luka ringan 3.100 orang. Sedangkan di Klaten luka berat 552 orang, luka ringan 1.800 orang, semua korban luka berat dan ringan kini mendapat perawatan di rumah sakit terdekat, bahkan mengingat daya tampung rumah sakit terbatas maka sebagian pasien ada yang dikirim ke rumah sakit di Solo, Boyolali, Semarang, Magelang, Purworejo, Kebumen, Purwokerto serta daerah lain. Jumlah kerugian materi di seluruh lokasi gempa belum bisa dipastikan, diperkirakan mencapai trilyunan rupiah.

Dari on the spot saya ke lokasi gempa di Bantul (28-29 Juni 2006), khususnya di Kecamatan Sewon, Jetis, Pleret, Imogiri, Pundong, Kretek hampir semua korban gempa mulai mendapat pertolongan, kecuali yang berada di pelosok masih ditangani secara sederhana. Setidaknya, itu semua berkat gotong royong antarwarga untuk menemukenali sanak saudara di kampung masing-masing. Di Karangtalun (Imogiri) seorang dinyatakan masih belum ditemukan dan diperkirakan masih berada di antara reruntuhan tembok/bangunan rumah yang roboh-rata dengan tanah.

Masalah penanganan korban gempa serta bantuan pangan dan obat-obatan selanjutnya mulai dipusatkan di masing-masing lokasi dengan didirikannya posko induk. Demikian halnya jumlah bantuan dari pihak-pihak lain yang yang perduli korban, nampak terus berlangsung.

Bantuan sandang-pangan yang bersifat personal serta bantuan dari lembaga-lembaga swasta (LSM) lebih cepat diterima dan dimanfaatkan oleh mereka yang membutuhkan. Sedangkan bantuan lewat jalur birokrasi seperti dikatakan seorang korban luka ringan yang rumahnya roboh di Dusun Ponggok I, Jetis, Bantul ketika mengurus permintaan tenda harus pulang dengan tangan hampa, ia ditolak karena tidak membawa kartu identitas atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).


Dalam amatan penulis, distribusi bantuan akomodasi serta logistik melalui jalur formal nampak belum berjalan optimal, belum merata memenuhi kebutuhan para korban seperti diharapkan. Khususnya di daerah-daerah yang tidak terjangkau kendaraan roda empat dan berada di pelosok dusun, hanya memperoleh bantuan dalam jumlah sangat terbatas.

Kebutuhan tenda, selimut, pakaian layak hingga lampu senter serta lampu penerangan untuk setiap tenda pengungsi di malam hari belum juga tercukupi. Sejak hari pertama setelah gempa, di mana jalur-jalur komunikasi terputus, semua telepon seluler belum berfungsi optimal sehingga untuk mengetahui lokasi mana yang sangat membutuhkan bantuan menjadi sulit dipetakan.

Terlebih setiap malam selalu diguyur hujan deras, kondisi lokasi korban gempa cukup gelap, masyarakat korban gempa yang masih diselimuti rasa panik/trauma dituntut untuk survival, sebagian warga yang rumahnya hancur berantakan, terpaksa tidur berkelompok di tempat-tempat pengungsian ala kadarnya sambil menjaga lingkungan dan berdekatan dengan puing-puing atau reruntuhan rumah masing-masing.

Hari ketiga (29/5) pascagempa, korban tewas di DIY dan Jateng terus bertambah. Hingga pukul 23.00 wib tercatat korban tewas sebanyak 5.162 orang. Berdasarkan sumber Pemprov dan Satkorlak DIY, korban tewas berasal dari Bantul 3.082 orang, Sleman 184 orang, Kota Yogyakarta 151 orang, Gunungkidul 58 orang, Kulonprogo 15 orang, sedangkan sebanyak 1.672 orang berasal dari berbagai kota di Jateng (Klaten, Boyolali, Sokoharjo dan sekitarnya).

Sedangkan jumlah kerugian material yang berhasil dirilis Pemprov DIY yaitu mencapai Rp 2,8 triyun. Ini masih dalam jumlah sementara, diperkirakan kerugian akan bertambah karena data yang masuk masih sebagian, belum semua daerah korban gempa melaporkan data kerusakan seperti tempat ibadah, sekolah, serta bangunan pemerintah.

Kerugian paling besar akibat gempa tektonik adalah di Kabupaten Bantul. Berdasarkan laporan dari Satkorlak DIY (29/5) tercatat sebanyak 33.616 rumah penduduk yang rusak parah, sebanyak 19.593 ada di DIY, sedangkan sisanya yaitu 14.023 berada di wilayah sebagian Jateng. Sampai hari ketiga, Tim SAR RI dan relawan berbagai lembaga serta tim dari negara-negara asing masih terus melakukan evakuasi.

Sampai hari ketiga pascagempa, hilir-mudik mobil ambulan dari berbagai lembaga terus menelusuri daerah korban gempa menolong korban, termasuk helikopter Badan SAR Nasional (Basarnas) mengangkut korban sebagai langkah evakuasi ke Mini Hospital, yang sudah dipersiapkan di kompleks Gedung Olahraga UNY, Kampus Karangmalang, Yogyakarta.

Tulisan ini bisa juga dibaca di blog pribadi penulis, http://jok-website.blogspot.com/ posted by joko martono | 6/30/2006 03:44:00 PM

selanjutnya

2

3

JM (27-5-2013).

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 4 jam lalu

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: