Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Anindya Gupita

~ Just tell the truth...

Bunda, Bolehkah Aku Mencintai Pria Beristri?

OPINI | 24 May 2013 | 08:36 Dibaca: 4179   Komentar: 167   38

1369358288597080876

sumber gambar: http://smileurl.com

Kasus penyelewengan AF dan LHI terkait kuota impor daging sapi di televisi yang melibatkan sejumlah perempuan dalam pusaran pencucian uang telah membuat banyak orang tercengang. Pasalnya perempuan-perempuan tersebut terindikasi sebagai wanita ‘tidak baik-baik’ apabila dikaitkan dengan nilai-nilai normatif yang ada di masyarakat. Wanita tidak baik-baik dalam artian kenapa dengan begitu mudahnya mereka menjual diri demi mendapatkan sejumlah uang dan kemapanan hidup. Predikat inilah yang seharusnya menjadi cambuk tersendiri bagi kita kaum perempuan yang notabennya adalah kendali hawa-nafsu bagi lawan jenis.

Dalam kasus ini penulis memberikan perhatian khusus terhadap salah seorang gadis bernama Darin Mumtazah. Darin, seorang siswi SMK yang berparas cantik jelita ini diduga memiliki hubungan khusus dengan LHI. Dugaan hubungan khusus inilah yang menyebabkan namanya terangkat ke media sebagai bagian dari wanita-wanita yang ‘tidak baik-baik’ tadi. Dilihat dari latar pendidikan dan foto yang terpampang, Darin bisa dikategorikan sebagai wanita yang sangat-sangat muda. Lalu yang jadi pertanyaannya, bagaimana bisa orang tua Darin membolehkan anaknya yang berusia sangat muda berhubungan dengan pria beristri seperti LHI? Apalagi Darin digadang-gadang sebagai istri muda yang dinikahi oleh LHI. Apakah ini benar murni karena didikan orang tua yang salah? Ataukah memang karena kondisi kejiwaan seorang anak seusia Darin yang labil dan susah diatur?


13693591521561961716

sumber: http://edisutoyo.blogspot.com

Saya pribadi ingin mengulas masalah ini tanpa memihak siapapun, baik itu orang tua Darin maupun masyarakat yang menilai kejadian ini. Kejadian seperti ini tidak terjadi sekali dua kali. Bahkan ada kejadian nyata yang memang akan saya ceritakan di dalam tulisan ini. Sebut saja namanya Maria. Seorang gadis berusia 18 tahun. Orang-orang menganggap bahwa Maria adalah gadis yang sangat cerdas dan santun dalam berperilaku. Latar belakang keluarga Maria pun bisa dikatakan keluarga baik-baik. Maria dididik oleh orang tuanya dengan pemahaman agama yang kental sesuai dengan kultur masyarakat yang ada. Intinya tidak ada sesuatu yang aneh dan menyimpang baik dari Maria maupun orang tuanya.

Suatu ketika Maria mulai mengagumi tulisan seseorang. Ia tidak mengenali orang tersebut secara personal. Apalagi Maria memiliki hobi menulis. Maria merasa adanya kesepahaman pemikiran antara dia dan sang penulis yang dikaguminya. Kemudian dilanjutkan dengan adanya diskusi yang begitu nyambung hingga akhirnya penulis itu juga jatuh cinta kepada Maria. Setelah melalui pendekatan yang bermacam-macam, akhirnya mereka berdua kontak secara personal. Sebut saja penulis yang dikagumi Maria itu bernama Mario.

Mario secara intensif berdiskusi dengan Maria. Akan tetapi Mario tidak menyembunyikan latar belakangnya kepada Maria. Mario adalah seorang laki-laki beristri! Maria tidak kaget atau apa. Karena gadis itu berpikir bahwa ia hanya belajar dari Mario yang memang sangat-sangat cerdas. Mario sendiri bukanlah orang sembarangan di dunia perpolitikan. Akan tetapi Maria tidak peduli. Ia terus menerus mencoba menggali ilmu dari kecerdasan laki-laki itu tanpa memperhatikan apakah Mario itu orang penting, kaya, tua, atau muda. Mario kala itu berusia 37 tahun. Walupun usia mereka terpaut sedemikian jauh, baik Mario dan Maria sudah saling menemukan jiwanya dalam berdiskusi. Setiap menit dan detik ketika Mario tidak sedang sibuk, ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon Maria dan membicarakan banyak ilmu. Alhasil kedekatan hubungan mereka membuahkan perasaan di hati Maria yang notabennya adalah gadis yang tengah mencari kesinambungan dalam hidupnya.

Perasaan Maria berkecamuk tatkala ia harus menghadapi hal-hal yang bertentangan dengan kultur masyarakat dan aturan dalam agamanya. Maria selalu memikirkan hal-hal benar atau tidak benar dengan pertimbangan yang tidak mudah. Bukannya ia mendukung pembenaran atas perselingkuhan batinnya dengan Mario. Bagaimanapun Maria adalah seorang manusia. Secerdas dan seteguh apapun dirinya, Maria juga mempunyai sisi manusiawi yang tidak dapat ia elak. Mario sendiri sudah dengan terang-terangan menunjukkan latar belakang rumah tangganya. Dan setelah ditelisik lebih dalam, hubungan Mario sendiri dengan Istrinya tidak bisa dikatakan suami-istri secara batiniah. Mereka sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Dan mereka berdua tidak memiliki anak dari pernikahannya. Istri Mario memang orang baik-baik dan orang penting juga. Namun istrinya mengalami suatu penyakit sehingga tidak memungkinkan keduanya untuk berhubungan seks dan memiliki anak.

Di sinilah dilema yang dialami Maria. Ini semua bisa saja diatasi dengan jalan Poligami. Akan tetapi Maria adalah seorang wanita berprinsip. Ia jelas-jelas menolak Poligami. Namun di sisi lain Maria juga menginginkan sosok Mario untuk mendampingi hidupnya. Mario sendiri menyatakan kesanggupan akan menceraikan istrinya karena memiliki alasan yang kuat. Bukan karena tidak memiliki anak juga, akan tetapi tingkat kepedulian mereka masing-masing yang sangat sangat kurang dan tidak intensif. Sehingga ia seperti laki-laki yang selalu berjalan sendiri di dalam kehidupannya. Maria pun mengiyakan. Dengan segala pemikiran yang rasional, serta kesanggupannya menerima segala resiko, akhirnya Maria menjalin hubungan dengan seorang laki-laki beristri bernama Mario.

Akhirnya Maria bercerita kepada sang Ibunda. Ibunda Maria tentu saja sangat kaget. Beliau begitu was-was apabila nanti anaknya dicap sebagai perebut suami orang. Sedangkan di sisi lain, Ibunda Maria tidak bisa memaksakan kehendak anaknya. Jika melarang dengan alasan mentah, pasti sebagai orang tua akan menyakiti anak tersebut. Mengorbankan kebahagiaan semu demi mempertahankan nama keluarga, atau justru ia harus mengorbankan diri dalam cercaan masyarakat demi kebahagiaan anaknya. Inilah dilema orang tua. Sebagai ibu, beliau menegaskan bahwa tidak baik menjalin hubungan dengan seorang pria beristri. Dan sebagai orang tua, ibunda Maria juga tidak berhak untuk melarang-larang anaknya yang sudah beranjak dewasa. Ia menyadari bahwa kebutuhan batin seorang manusia dewasa akan sangat berbeda dengan anak-anak. Maria bukanlah gadis kecilnya lagi. Alasan Maria pun sangatlah logis. Pihak istri Mario sendiri sepertinya juga tidak keberatan dengan hal tersebut. Hanya saja pandangan masyarakat terhadap keluarga Maria tidak akan sebegitu mudahnya menerima kenyataan yang ada.

13693592641344892658

(Darin) http://news.detik.com


Dari sinilah saya dapat menilai bahwa tidak selamanya kasus seperti Darin itu juga merupakan kesalahan orang tua. Tingkat emosi dan kejiwaan anak seusia Darin memang masih sangat labil. Terlepas dari perbedaan kisah antara Maria dan Darin, peran orang tua menjadi gejolak tersendiri yang tidak dapat dielakkan. Anak adalah titipan Tuhan. Namun ia tidak bisa dididik dengan cara dikekang. Orang tua mana yang ingin melihat anaknya menderita? Dalam kasus Darin ini pun saya melihat bahwa orang tua juga berusaha memberikan pengertian. Akan tetapi dari kisah Maria yang dapat saya ambil, ada beberapa kesimpulan yang terjadi. Kasus pernikahan anak gadis dengan para pria beristri bukanlah murni salah orang tua. Kejiwaan anak sangat berperan di sini. Maka dari itu sebagai masyarakat atau pihak ketiga, maka tidak selayaknya kita memberikan judge kepada orang tua Darin tanpa pertimbangan-pertimbangan khusus. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui di balik kasus tersebut.

Lalu, apa sekiranya yang akan anda lakukan ketika anak gadis anda yang cantik jelita tiba-tiba mengatakan,

“Bunda, bolehkan aku mencintai pria beristri?”

Apakah anda akan menjawab,

“Tentu tidak boleh nak! Itu dosa!”

Atau anda akan menjawab,

“Jangan nak! Kamu nanti akan bikin malu keluarga!”

Pernyataan-pernyataan seperti itulah yang akan semakin memberatkan kejiwaan seorang anak dalam pencarian jati dirinya. Berikanlah pengertian yang bijak. Kemudian biarkanlah anak itu memilih. Bagaimanapun anak adalah titipan Tuhan untuk para orang tua. Mereka adalah orang lain yang berhak menentukan hidupnya sendiri, walaupun mereka juga identik dengan orang tuanya. Isi kepala mereka sudah berbeda dengan apa yang mereka cerna dari lingkungannya. Semoga dengan kisah ini kita sebagai bagian dari anak remaja, orang tua, dan masyarakat dapat berpikir dengan jernih dan lebih baik dalam menyikapi suatu kasus.

Salam Selamat Pagi

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 7 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 10 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 21 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 22 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: