Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Heidy Sengkey

Ingin selalu berbagi lewat tulisan… Menghargai hidup dengan kerja keras dan mengasihi sesama. ^__* www.majalah-infosulut.com selengkapnya

Di Kota Ini, Wanita Muda Itu Jatuh Cinta

REP | 22 May 2013 | 17:43 Dibaca: 400   Komentar: 4   7

136921935976402816

MANADO - Doc Pribadi

Biasanya orang mengenal Bali sebagai daerah kunjugan wisata paling keren se-Indonesia. Biasanya semua tujuan wisata utama Indonesia, hampir selalu mengerucut ke Bali. Memang betul bahwa banyak turis justru lebih kenal Bali daripada Indonesia. Tapi ternyata Kota Manado menyimpan keindahan tersendiri di mata banyak turis yang kebetulan berkunjung ke sana. Keindahan yang tidak semata karena alamnya yang memesona itu.

Saya dan suami pernah menerima dan membawa jalan-jalan keliling Manado dan Minahsa seorang wanita muda, kawan dekat suami saya bersama 3 rekan dia lainnya. Mereka kebetulan baru saja datang dari Jerman dan Amerika, menuju Bali dan akhirnya entah kenapa terpikat untuk singgah ke Manado. Mungkin ini akibat bujuk rayu kawan-kawan mereka di Manado, termasuk suami saya.

Singkat cerita, selama hampir satu minggu lamanya mereka berkeliling Minahasa dan Manado, bahkan sampai masuk ke beberapa sekolah menengah, di beberapa desa hanya sekedar untuk berbicara dengan guru-guru Bahasa Inggris yang ada di sekolah-sekolah tersebut. Unik dan lucu, mereka bilang bahwa guru-guru Bahasa Inggris di beberapa desa itu sangat lucu, tapi luar biasa ramah dan baik hati. Para guru itu ada yang memberikan penjelasan di luar yang mereka minta, termasuk pula memberikan traktiran minum es jeruk gratis di kantin sekolah. Ada-ada saja ya?

Ada yang membekas dan membuat saya terharu. Di suatu hari, di malam terkahir sebelum mereka harus pulang, wanita muda asal Amerika itu curhat. Katanya, “In here I feel like home”. Katanya lagi bahwa di semua tempat yang ia kunjungi selama 5 hari selalu saja ia diterima baik, dan dengan senyuman ramah. Ia merasa benar-benar dihargai dan diterima. Entah kenapa, ia bilang bahwa hampir tidak pernah ia diterima sebagaimana ia diterima di Manado, di sepanjang petualangannya berwisata.

Ini luar biasa, demikian ia bertutur panjang lebar. Pernah di suatu waktu, katanya, ketika hari lagi hujan dan waktu itu kebetulan kami tidak bisa mengantar mereka jalan-jalan, ia beserta rekan-rekannya yang lain (asal Jerman) akhirnya harus jalan sendirian. Di Tomohon (salah satu kota di Minahasa) mereka kehujanan dan tidak tahu mau kemana, tapi tiba-tiba saja ada ibu-ibu tua datang sambil membawa 3 buah payung menawari jasa. Bahkan pula mereka diantar ke sebuah rumah makan yang ternyata milik anak ibu tua tersebut. Katanya mereka diberi makan sup panas, dikasih teh manis, dan kue-kue Minahasa. Wanita muda itu bilang ke saya begini, “Wow, that’s really amazing! I’ve never found like this before, not even in Bali”. Katanya ia tidak pernah menjumpai keramahan seperti ini sebelumnya, bahkan ketika di Bali, mungkin maksudnya, kok masih ada ya orang yang rela mau menolong, member makan orang asing tanpa meminta bayar? Sebab katanya lagi bahwa ibu itu tidak mau menerima uang yang mereka berikan. Pendek kata, pertolongan ibu dan anaknya itu tulus tanpa mengharap balas. Bahkan setelah hujan reda, mereka masih mau memberikan payung untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti hujan turun lagi. Semuanya gratis. “You know what? It’s free!…OMG…OMG!” katanya dengan sumringah.

Saya sadar bahwa keramahan, ketulusan, dan kebaikan hati yang sudah ada turun temurun di tanah Minahasa memang harus dipertahankan. Warga yang murah senyum (terkenal dengan the smiling people of Minahasa/ Manado) tetap harus menghiasi setiap sudut kota, bahkan desa terpencil sekalipun. Di kota ini, wanita muda dari Amerika itu jatuh cinta. Ia menemukan keramahantamahan yang tak biasa. Senyuman yang tak pernah memudar. Ketulusan yang sangat mendalam. Dan ia merasa seperti sementara berada di rumahnya sendiri, dikelilingi sanak keluarga terdekat.

Wanita muda turis asal Amerika itu juga bilang ke saya dan suami saya, “Nothing such a free lunch in Amerika. And nothing is free in Bali either”. Ia bilang di Amerika itu tidak ada yang gratis. Di Bali juga semua sudah dihargai dengan dollar, walau untuk hal sekecil apapun. Sederhananya, orang-orang di sana melihat turis itu maka matanya langsung berubah ‘hijau’. Turis = dollar. Itu tidak ia temukan di Manado dan Minahasa. Bagi saya penilaian itu relatif. Mungkin saja Bali sudah seperti itu, semuanya adalah dihargai dengan uang, karena Bali sudah menjadi kota tujuan wisata kelas wahid. Jangan-jangan Manado akan juga seperti itu bila suatu ketika nanti sudah menjelma bagaikan Bali. Mudah-mudahan semua budaya baik itu masih bisa tetap dipertahankan sampai kapan pun.

Tapi yang paling penting adalah nilai-nilai kemanusiaan, keramahtamahan, suka menolong (gotong royong/ mapalus), ketulusan, dan murah senyum harus tetap dipelihara dan dijaga, meskipun suatu ketika nanti Manado sudah menjadi seperti Bali (seperti rencana pemda saat ini).

Kami masih sempat bercerita panjang lebar, dan ia tetap antusias menceritakan berbagai pengalamannya jalan-jalan di Minahasa saat kita tidak berkesempatan untuk ikut. Ceritanya lagi, suatu ketika mereka bekunjung ke tempat pembuatan kopra di Amurang, mereka dianterin oleh masyarak sekitar situ tanpa bosan-bosannya, malah ketika itu cuaca cukup panas, ia bersama rekan-rekannya disuguhi air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Tempat pembuatan kopra berada tidak terlalu jauh dari perkebunan kelapa. Ia sampai ketakutan melihat pemuda desa yang dengan lincahnya memanjat pohon kelapa yang menjulang tinggi itu. Berulangkali ia menyatakan bahwa, “That’s so incredibly amazing…”. Katanya mereka sangat ramah, suka menyapa, dan menghibur orang (mungkin panjat pohon kelapa dianggap sebagai tontonan menarik ya?), dan lagi-lagi orang-orang desa itu tidak mau mengambil imbalan uang yang diberikan sebagai harga kelapa muda beserta airnya itu.

Pengalaman-pengalaman seperti ini tentu saja dapat mempengaruhi tingkat kebetahan para turis, dan juga ini tentu saja akan membuat mata mereka terbuka, bahwa di sini mereka dapat diterima dengan baik, penuh senyuman, serta ramah. Seperti wanita muda itu yang begitu terpesona dengan apa yang ia alami selama berada di Manado dan Minahasa. Baginya bukan hanya alam yang ia sukai, tapi bagaimana interaksi penduduk setempat (local), penerimaan mereka, serta budaya setempat adalah penting dan menjadi penilaian tersendiri. Ia pun bilang, “Before I touch down in Manado, I think this is will be my first and my last, because I never heard about Manado before. But I was wrong, this is my first time, but won’t be my last!” Karena? “Because this is my home”. Dia bilang, Manado adalah rumahnya juga. Aduh betapa senangnya hatiku ini. HS.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 8 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 8 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: